
Joanna terus saja mengelus perut Maira setelah keluar dari kamar mandi dan memakai baju. Suasana saat itu begitu hangat sebelum Aluna menelfon Joanna untuk Jiwa anaknya. Seketika detak Jantung Maira berhenti saat di depannya terdengar suara anak kecil yang memanggil Joanna dengan sebutan Dady.
Saat Joanna bercerita Maira tak begitu memikirkan soal itu namun saat kedua belah pasang telinganya langsung mendengar itu hati dan jiwanya tak tenang kerasa di tusuk duri yang tajam di luka yang sama. Maira membeli tak bergerak sama sekali dengan Mata yang berembun menatap Joanna yang sedang melakukan Video call.
Meski Joanna tak terlalu merespon anak itu namun Hati Maira tetap tak tenang dan merasakan api cemburu. Tinggal satu hari lagi dia akan jadi pengantin dan akan segera menjadi Ibu dari anak yang kandungnya. Akal sehatnya hampir memuncak dan ingin membatalkan pernikahan dan menggugurkan anak yang ada di kandungannya.
Maira beranjak pergi dari ranjang itu dengan perasaan hancur yang dirasakan untuk kesekian kalinya. Saat Joanna mematikan telfon itu dan pergi ke kamar mandi Maira tak sengaja membuka Foto yang dikirim dari Nomer Aluna. Foto Joanna yang sedang memeluk mesra Aluna yang Tengah melirik ke arah Jiwa yang Tengah tersenyum.
Maira langsung masuk kedalam selimut menutup seluruh wajahnya dengan bantal guling. Joanna datang menemukan ponsel nya yang masih menyala dengan foto yang terpampang jelas dihadapan nya. Joanna yang merasa bersalah langsung mendekati maira yang ada dalam selimut lalu memeluknya.
Maira tak membalas pelukan itu Maira hanya diam dan menahan suara tangisnya di balik guling yang sedang dipeluknya. Joanna mencoba menenangkan Maira namun gagal hingga Maira beranjak pergi ke arah pintu luar dan langsung di halangi dengan tangannya yang panjang Oleh Joanna.
" Lepasin aku mas."
" Kamu mau kemana Ra."
" Aku mau bertemu ayah mas aku nggak mau menikah dengan orang yang sama sekali tidak mencintaiku."
" Aku nggak ada hubungan dengan Aluna Ra, ini hanya salah paham. "
" Salah paham dengan bukti foto yang dikirim lewat WhatShapp kamu mas? "
__ADS_1
" Ra tolong ra tolong kamu percaya sama aku Ra."
"Sampai detik ini aku masih percaya sama kamu Mas, tapi apa yang aku dapatkan hanya luka dan kekecewaan. "
" Ini nggak ada hubungannya dengan Dia Ra."
" Jadi dengan apa mas dengan apa? "
" Ku mohon kamu jangan nekat ra, Aku sungguh tak ingin pernikahan kita gagal."
" Kau yang mengundang aku tuk masuk ke dalam kehidupan mu mas,Kau juga yang membuat aku tak dianggap didalamnya."
" Aku Sama sekali tidak niat menyakitimu ra, Ini hanya salah paham."
" Aku janji Ra aku nggak akan buat kamu kecewa lagi."
" Oke kita akan pindah ke Bali dan menetap di sana jauh dari Aluna dan anaknya yang tidak tau bapaknya ada dimana."
" Iyah sayang Iyah."
" Dan satu lagi tolong mas hapus Nomer Aluna di ponsel mas."
__ADS_1
" Iyah sayang iyah."
" Oh tunggu mas."
" Iya ada apa sayang."
" Berikan ponsel kamu biar aku yang lakukan. "
" Kamu memblok nomernya sayang? "
" Iyah emang kenapa mas? "
" Nggak ada sayang."
" Jiwa bukan anakmu kan? "
" Yuk kita tidur lagi sayang besok adalah hari bahagia kita. "
" Tadinya memang bahagia namun sekarang, tidak mas."
Maira naik ke atas ranjang dan tidur membelakangi Joanna yang tengah duduk di ujung kasur menatapnya dengan penuh kesedihan. Maira menutup wajahnya agar air mata tidak terlihat oleh Joanna yang saat ini sedang melirik ke arahnya.
__ADS_1
Karena Tak tahan, Maira lalu pergi berlari ke kamar mandi dan menangis sekuat tenaga nya di dalam kamar mandi yang cukup besar itu. Mengeluarkan seluruh amarahnya dan melemparkan seluruh barang ke lantai. Maira menangis terisak isak dan mengucap kesedihannya sambil menatap Foto Joanna yang ada di layar ponselnya.
" Aku tak menginginkan Takdir ini Tuhan, tolong pertemuan aku dengan ibuku yang bisa mengembalikan senyum indah di bibirku. Aku tidak menginginkan Joanna masuk dalam hidup ku, namun mengapa dia datang dia undang aku hingga cinta itu muncul tuhan, Sakit teramat sakit rasanya dikecewakan saat mendekati hari bahagia. Ku serahkan hidupku ku serahkan harga diriku untuk dia yang ku anggap raja, namun Sakit dan luka yang kudapatkan. "