
Hari sudah menunjukkan pukul 7: 35 namun joanna tak kunjung datang menemui maira yang masih terbaring di rumah sakit. Buk nira sudah menelfon berulang kali namun ponsel joanna tiba tiba saja nggak aktif saat menelfon yang ke tiga kalinya. Buk nira terpaksa menunggu lebih lama lagi di sana karena tak tega meninggalkan maira apalagi dalam hamil muda.
Sejak malam maira belom sadarkan diri, Dokter yang menangani maira terpaksa melakukan tindakan lanjut untuk keselamatan maira. Dokter menyarankan agar maira menggugurkan kandungannya namun harus ada persetujuan dari pihak suami maira. Buk nira tak bisa mewakili kerena dia bukan keluarga dari maira sendiri.
Pada pukul dua siang maira tiba tiba bangun dan memanggil nama joanna berulang kali namun tak ada jawaban, buk nira yang sedang berada di luar lagi menelfon nomer joanna langsung masuk ke dalam saat mendengar suara maira. Wajah maira sangat pucat dan menggigil, maira menangis saat tak ditemuinya sosok pria yang dicintainya saat dirinya terbangun.
" Kamu udah bangun nak."
" Ibu siapa, abang mana buk?"
__ADS_1
" Saya menemukan kamu tergeletak di depan pintu kamar dan saya segera bawa kesini, saya sudah menghubungi nomer orang yang ada di layar utama ponsel kamu tapi tak ada jawaban."
hek hek hek hek.....
Maira menangis dan meremas perutnya sendiri, saat sedang menangis dokter datang membawa surat untuknya yang berisikan tulisan kesepakatan untuk mengeluarkan anak yang ada di dalam kandungannya. Maira semakin histeris menangis dan menolak itu semua,dokter terpaksa memberi obat untuknya yang mungkin bisa membantu, namun dokter tak mau tanggung jawab jika terjadi apa apa pada kandungan maira.
Untuk hasil lebih maksimal, maira dirawat inap selama tiga hari ke depan agar kondisinya lebih maksimal sembuh. Maira menelfon salah seorang temannya yang berada di bali untuk datang ke rumah sakit tersebut menemaninya dalam pengobatan. Maira tak ingin merepotkan buk nira lagi karena buk nira orang baru dan juga punya aktivitas dalam kehidupannya.
Sudah tiga hari di rumah sakit namun joanna tak kunjung datang, hilang tanpa kabar selama berhari hari membuat keadaan maira semakin drop tak bertenaga. Erika yang setia menemani maira ikutan sedih dan sangat marah dengan joanna yang tak kunjung memberi kabar. Erika sudah coba mencari info dan bertanya dengan teman temannya namun belom ada kabar mengenai keberadaan joanna.
__ADS_1
" Ra kamu jangan ikuti nafsu yah, kamu pasti bisa dapatinnya lagi kok."
" Aku nggak mau rika aku gak mau saat joanna datang dia marah saat tau calon anaknya sudah nggak ada."
" Dia sampai sekarang nggak tau dimana ra, lo mau nahan sampai kapan sakit dari efek anak itu ra."
Maira tak mendengarkan seluruh ocehan erika dan tiba tiba saja dia pingsan dengan tangan yang sudah dingin dan bibir memucat. Karena kondisi maira semakin lemah, dokter terpaksa mengangkat janin yang ada di rahim maira dengan paksa. Saat dokter mempersiapkannya, maira sejenak dihibur erika beserta perawat yang ada di sana kondisi batinnya tenang. Maira pasrah saat dibawa keruang operasi ditemani erika dan buk nira yang sengaja menyempatkan diri untuk datang menjenguk maira. Operasi atau koret berlangsung lancar tanpa ada kendala sedikit pun.
Maira tertidur hingga pukul dua malam, erika meminta untuk dokter memberi surat izin pulang kerena terlalu lama berada di rumah sakit akan memperburuk keadaan maira saat ini. Pukul dua malam juga erika mengemasi pakaian maira dan juga obat yang akan dikomsumsi maira selama sakit. Erika mempersiapkan diri untuk menjawab semua pertanyaan maira jika maira menanyakan soal anak nya nanti.
__ADS_1
Pagi pagi sekali Erika sudah siap dengan menu sarapan untuk maira dengan mobil yang sudah stay di depan rumah sakit menunggu maira bangun dari tidurnya. Sementara buk nira sudah siap dengan rumah yang siap dihuni maira dengan bersih dan fres. Erika sudah menuju rumah Maira dengan maira yang menyandar penuh manja di bahunya.