
"Bulan bintang menyinari, Tak ku sangka jadi gelap gulita. Dia orang yang sangat ku sayangi tak kusangka menyakiti."
" Kau yang memanggil ku untuk datang dan masuk ke dalam kehidupan mu mas, namun kamu juga yang membuatmu sakit di malam dimana kita harusnya bahagia mas. Kamu tau Jiwa yang dekat dengan mu,Aluna yang sejak tadi memandang mu sudah membuatku terluka mas, tapi kamu tidak sadar akan sakit ku sejak tadi dan hanya memikirkan Nafsu mu."
" Aku sedang mengandung anakmu tapi kamu tidak begitu perhatian dengan dia hingga kamu ingin menaiki tubuh ku disaat aku mengatakan aku sakit perut ku keram, berbeda dengan anak itu yang kamu perhatian seperti anak kandungan mu sendiri."
" Sudah mas lepaskan aku."
Maira lalu pergi kembali meninggalkan Joanna yang berdiri tanpa pergerakan. Maira yang awalnya duduk di ujung kasur pergi ke luar untuk menenangkan diri sambil menyantap kue yang ada di toples atas meja. Sambil menatap foto mama dan ayahnya Maira kembali menangis dengan kaki yang sudah gemetar di atas kursi yang di dempet kan jadi satu.
Joanna lalu datang membawa ponsel yang tersambung pada Papanya yang ingin mengucapkan selamat pada Maira. Maira langsung menghapus air matanya dan mengambil ponsel ditangan Joanna lalu mendekatkan ke telinganya.
" Papah mau lihat wajah kamu nak."
" Okeh pah." tersambung pada video call.
" Loh kok mukanya basah abis nangis kamu nak?"
" Nggak kok pah, tadi abis cuci muka."
" Cuci muka kok matanya sembab."
" Nggak kok pah."
" Gimana sama Joanna dia baik kan? "
" Baik kok pah."
" Joanna, kamu jaga dia jangan kamu sakiti dia jangan pernah kamu buat dia menangis karena akan membuat hidupmu sulit kedepannya."
" Iyah pah."
" Maira mau apa dari papah nanti papa belikan."
__ADS_1
" Nggak mau apa apa pah."
" Papah sudah belikan Rumah untuk kalian di bali papah tunggu kalian besok lusa di bali oke."
" Tapi pah."
" Nggak ada tapi tapian papah tunggu kamu sama Maira disini sambil kalian menghabiskan waktu bulan madu kalian."
" Aku setuju pah, besok lusa kami ke bali pah, aku dan Joanna nganterin ayah ke bandara dulu besok sore dan setelah itu kami akan mengemasi barang untuk berangkat ke bali pah."
" Bagus itu Maira jaga Joanna dan jangan pernah kamu pergi apalagi mendiamkan dia, Joanna anaknya rapuh dan sedikit kurang peka, jadi kalo kamu ada perlu ada permintaan apalagi Joanna ada salah kamu langsung bilang aja sama dia agar dia tau kesalahan dia dan bisa memperbaiki nya."
" Iyah pah, makasih pa udah ingatkan aku."
" Iyah sayang, cepat dong kasih papah cucu."
" Iyah pah."
" Okelah papah tunggu kalian disini cepat datang yah."
" Iyah pah."
Joanna mematikan ponsel dan menggendong Maira ke dalam kamar. Menaikan Maira ke atas ranjang dan mengikat tubuh Maira dengan tangannya. Joanna mengajak Maira bercerita soal masalah yang sedang dipendam oleh Maira saat ini hingga matanya tidak berhenti menangis.
Joanna berulang kali mengecup dan menambah ikatan pelukan ditubuh maira sambil merayu Maira agar maira membuka hal yang sedang membuat dia menangis kepada Joanna. Saat hendak bercerita, Maira membalas pelukan Joanna dan menatap wajah Joanna yang sejak tadi penuh tanya terhadapnya.
"Kamu kenapa sayang, aku salah apa sampai sikap kamu begitu dingin dimalam dimana harusnya kita sedang menikmati malam kita."
"Aku mau kita tak usah kembali lagi kesini mas, aku mau hidup dengan kamu tanpa ada orang yang mengenali kita apalagi merusak kehidupan kita seperti Aluna saat ini."
" Iyah sayang."
" Aku sudah blok no Aluna di ponsel kamu jadi kamu tolong jangan ada lagi hubungan dengan Dia termasuk dengan Jiwa anaknya."
__ADS_1
" jangan sampai cemburu kamu bikin hatimu tertutup sayang, Jiwa kan anak kecil."
" Justru karena Dia anak kecil jadi jangan kamu bohongin mas, Dia bukan anakmu."
" Tapi sayang."
" Huff aku lagi nggak mute mendengar alasan apapun dari mulutmu mas."
" Iya iya ra."
" Oke besok pagi kamu bangun aku akan USG bayi kita sebelum ayah pergi ke luar negeri mas."
" Iyah sayang, bangunin aku jika kamu bangun duluan yah sayang."
" Iyah mas."
" Jadi sekarang kita mau ngapain sayang? "
" Tidur lah mas."
" Di mana nih sayang."
" Apanya yang dimana mas."
" Akunya lah sayang."
" Yah disini aja mas terus dimana lagi."
" ham nggak mau."
" Yah mas jangan mulai deh."
Ah... ah... ah... ah... mas sudah jangan aku gak kuat auh auh.. ah ah... mas..
__ADS_1