
Joanna berjalan dibelakang Maira sambil berusaha menggapai tangan Maira yang selalu saja menghindar darinya, Maira masih sakit hati dengan hal yang dilihatnya tadi saat toilet Restauran. Sambil membuka sepatunya Maira mengusap wajahnya dengan tangannya yang sudah mulai gemetaran.
" Dosa apa yang sudah ku perbuat hingga aku tak pernah mendapatkan kebahagiaan mulai dari orang tua hingga soal percintaan aku selalu gagal. Aku tak tau jalan mana yang harus aku tempuh saat ini, cinta dan sayangku sudah Aku berikan untuknya namun mengapa luka yang kudapat. " Gumam dalam hatinya.
Joanna memeluk erat sang pujaan hati saat Sang pujaan hatinya duduk di ujung kasur sambil mengusap air mata yang turun tanpa henti. Maira semakin menangis disaat Joanna memeluknya erat. Pelukan yang diberikan Joanna semakin membuatnya frustasi akan jalan yang akan dia tempuh.
Maira mulai ragu akan diri Joanna yang akan menjadi suaminya itu. Belom apa apa Joanna sudah mulai menampakan hal buruk dari dirinya apalagi nanti saat sudah menikah mungkin Maira akan menderita dan tertekan batin atas hal yang dilakukan diluar rumah.
"Maafin aku sayang, sumpah Aku tak ada hubungan lagi dengannya aku tak mencintainya dia kau harus tau itu."
"Nggak cinta gimana mas, Kamu biarkan Dia memelukmu di depan orang banyak sementara disaat itu kamu sedang bersamaku mas, apa kamu nggak mikir gimana kalo ayah dan tante Lila melihat. "
"Dia langsung meluk aku Ra, aku nggak tau."
"Kamu tak menepis pelukan itu sama sekali kan mas, Kamu suka kan dengan sentuhannya."
"Aku kira itu kamu Ra, begitu Aku tau kalo itu bukan kamu aku langsung mendorongnya ke tembok sayang."
"Aku nggak percaya."
"Sedikit aja kamu percaya sama aku Ra, sumpah Aku nggak ada apa apa sama Dia Ra aku nggak mencintainya."
"Yah memang kamu nggak cinta, Tapi dia apa kamu pikir gimana perasaannya untukmu mas, apa kamu nggak mikir kalo dia masih punya hati untuk kamu gimana nasib hubungan kita nantinya."
__ADS_1
"Kita akan baik baik saja Ra, aku nggak mungkin mainin perasaan kamu."
"Apa aku bisa pegang kata kata itu mas."
"Ra,Aku nggak pernah ingin menyakiti hati kamu aku sayang kamu meski Tuhan mengambil nyawaku untuk Aku bisa dapatkan hati kamu, Aku rela."
" Aku juga sudah sangat mencintai kamu Mas, Aku minta restu dari ayah aku dan ingin segera menjadi istri kamu tapi nyatanya apa belom jadi istri aku sudah kamu kasih luka seperti ini apa ini yang namanya cinta."
"Aku bagaimana aku mengatakan aku nggak ada hubungan apa apa dengan Dia Ra, kalo aku ada hubungan dengannya untuk apa aku niat nikahin kamu untuk apa Ra."
Joanna yang begitu kesal lalu pergi naik ke atas kasur berbaring menghadap ke arah yang berlawanan dengan Maira. beberapa menit kemudian Joana duduk masuk ke dalam mandi, Suara air terdengar dari luar yang sepertinya Dia sedang menggosok gigi dan bersih bersih. Joanna begitu lama di kamar mandi hingga suara tidak terdengar lagi.
Saat Maira hendak mendekat dan ingin mengetuk pintu, Joanna keluar dan tidak melirik ke arah Maira sama sekali. Joanna memainkan ponselnya di atas kasur sambil duduk. Entah siapa dan apa yang sedang Dia lakukan dengan ponselnya itu hingga tidak mengedip matanya sama sekali.
Tak lama kemudian Joana berdiri dan mengambil beberapa Kartu ATM dalam tas kecilnya. Joanna merapikan Rambutnya yang berantakan sambil bergegas mengambil minyak wangi dan lalu membuka Pintu keluar. Maira sempat menegurnya dan bertanya tujuannya kemana Namun Joana tak menjawab sama sekali. Joanna hanya melirik sebentar lalu pergi lagi.
****
Wira dan Lila tengah asyik menikmati Malam pertama mereka setelah sekian lama tidak ada liburan. Tepatnya setelah Lila keguguran, Wira yang tidur bersebelahan dengan Lila sambil bercerita dia asyik memainkan benjolan kecil yang ada di gundukan Lila. Setelah Semua milik Lila basah oleh rangsangan dari luarnya, Wira langsung naik ke atas tubuh Lila yang hanya ditutupi Selimut saja.
menarik kasar kedua kaki Lila ke atas dan masuk kedalam belahannya. Tanpa basa basi Wira menerobos Gua tersebut dengan rudal berukuran besar. Merobek kembali Mahkota yang sudah mulai indah. Menggigit dan mengekang Miliknya membuat Wira semakin bersemangat di atas sana.
"Kamu pakai apa sayang."
__ADS_1
"Aku minum yang mas beri semalam, Aku minum satu Butir malam dan satu butir tadi pagi mas."
"Rasanya menggigit Lila, Adikku jadi senang didalam sana dan tidak mau keluar."
"Ah.. ah... ah... hah."
"Apa sayang, kenapa kamu seakan kesakitan ini permainan yang kesekian lo masa kamu masih nggak tahan."
"Mas yang pelan dong, sakit kalo mas tarik kuat."
"Kenapa nggak dari dulu aja kamu konsumsi Sayang."
"Kan mas baru kasih."
"Biasanya kan obat penolak kehamilan mas yang ada khasiat buat rapet juga."
"Udah sekarang minum ini aja biar malamnya makin panjang."
Ah.. ah.. hah... ah. ah.. auh.
auh. mas
Suara ******* Lila berubah jadi imut dan tak seperti biasanya.
__ADS_1