
Malam itu begitu sunyi saat Maira tak berkutik sama sekali. Diam dan terpaku pada cermin yang memperlihatkan wajah sembabnya. Hati maira sakit membayangkan foto yang terjadi saat acara pernikahan mereka. Maira terus saja memegang perutnya sambil mengajak anaknya berbicara.
Joanna yang baru keluar dari kamar mandi langsung memeluk Maira dari belakang dan ikut mengusap anak yang ada dalam perut Maira. Maira menangis tersedu sedu saat Wajah Joanna menempel di lehernya saat ingin memeluk hangat Maira sambil memegang perut Maira.
" Ham anak dady nakal yah di sana makannya Momi jadi kesakitan momi nangis nih."
" Nggak lah mas anak kita anteng kok didalam yah kan sayang."
" Ham terus anteng yah Nak sampai momi and dady bisa lihat bisa lihat Wajah manis mu."
" Aku mau anak kita cowok mas."
" Kenapa gitu sayang, harus kompak dong aku maunya cewek sayang."
" Yah mau aja mas."
" Loh bukannya kamu maunya cewek sayang pas aku mulai memainkan peran bikin di atas sana."
" Yah sekarang maunya cowok mas. "
" Iyah kenapa sayang."
" Biar jadi anak yang kuat dan bisa jaga aku mas."
" Aku kan ada Sayang kenapa harus anak kita yang harus jagain kamu. "
" Yah kan beda mas."
" Beda gimana sih sayang."
" Aku maunya cowok mas."
" Iyah iya sayang Semoga permintaan kamu terkabul sayang. udah jangan nangis lagi yah sayang aku juga ikutin sedih, nih kan hari bahagia kita jangan dirusak sama kesedihan yah sayang."
__ADS_1
" Huff Iyah sayang."
" Yasudah kita tidur lagi yah sayang."
" Iyah sayang."
" Kamu nggak bakal kasih jatah nih."
" Absen dulu yah mas perut aku keram. "
Maira mengganti posisi tidurnya saat Joanna hendak mengecup keningnya. Joanna menempelkan tumbuhnya ke Punggung Maira dan memeluk hangat. Sambil menempelkan mulutnya ke rambut Maira Joanna meminta dengan lembut kehendaknya malam itu untuk memainkan peran seperti pengantin lainnya.
" Perut aku keram Mas, jadi tolong mas ngertiin aku sekali nih saja."
" Yah tapi aku mau sayang."
" Coba kamu turunkan egomu bisa mas. "
" Mas tolong jangan ganggu aku mas aku nggak ingin bayi kita kenapa napa."
" Tapi Ra kamu nggak bisa seenaknya menolak itu dari aku."
" Huff yasudah Iyah mas yuk kita lakukan."
Joanna mulai Naik dan memainkan biji kecil berwarna pink muda yang menonjol indah. Satu tangan meremas dan satu tangan lagi membuka satu persatu kain penutup tubuh Maira. Sedangkan mulutnya beraksi Menggigit halus benjolan kecil yang disebelahnya.
Saat Joanna hendak meluncurkan bibirnya ke area bawah sana Maira menangis tersedu sedu hingga membuat Joanna tak tega melanjutkan permainan malam itu. Joanna menatap wajah Maira yang menangis dan meninju kasur secara bersamaan.
" Aku kuat aku nggak tahan, ini rasanya sungguh sakit."
" Kamu kenapa ra apa ada yang sakit."
" hati aku sakit mas."
__ADS_1
" Sakit kenapa lagi sih Ra."
" Sudah lupakan aja mas, kamu nggak akan pernah paham."
" Kamu jelasin dong Ra."
" Aku nggak bisa untuk saat ini mas."
Maira lalu memakai kembali pakaiannya sambil berlinangan air mata. Tangan selalu diletakan di dadanya yang sejak tadi sesak tidak beraturan. Joanna bingung dan ikutan menangis saat Melihat Maira menangis. Joanna memeluk Maira yang sedang berdiri dan langsung melekatkan Kepalanya di leher Maira.
" Kamu tolong jujur dong Ra, aku salah apa, aku lakukan apa sampai kamu menangis begini."
" Kamu nggak salah mas aku yang salah."
" Kamu nggak mungkin nangis tanpa sebab Ra, ini pasti aku yang salah kamu bilang dong Ra aku lakuin apa sampai setiap kamu menatap ku kamu menangis."
" Aku nggak apa apa mas aku cuma kecapean aja."
" Nggak mungkin Ra kamu nangis karena capek, kecuali kalau capek hati. Aku salah apa tolong kamu jelasin Ra."
" Kamu nggak salah mas aku nggak salah."
" Ra, kita sudah tinggal satu atap, satu tempat tidur kita akan selalu bersama kemana mana Ra jadi kamu tolong terbuka sama aku, bilang apa yang bikin aku sakit apalagi sedih karena kan aku nggak selalu tau apa kesalahan aku sayang."
" Aku nggak bisa Mas aku nggak bisa bilang."
" Ayok dong Ra, mau sampai kapan sih Kamu gini terus kita udah nggak orang asing lagi Ra, kita sudah suami istri yang bakal lewati kehidupan bareng bareng dan apa pun rintangannya kita akan terpisah."
" Apa kamu sungguh mencintai aku Mas."
" Setelah apa yang kita lewati hingga saat ini kamu masih ragukan aku ra."
Diam selama 30 menit.
__ADS_1