
Joanna naik ke atas tubuh Maira dengan menahan semua penolakan dari Maira. Entah kenapa Maira menolak hal itu yang biasanya diberikannya secara cuma cuma kepada Joanna yang sangat dia cintai nya. Maira begitu dingin padanya,tak terlalu menempel dan sedikit cuek.
Joanna mengajak maira bercanda bareng namun selalu mendapatkan penolakan. Maira yang dingin membuat rasa penyesalan semakin terasa bagi Joanna yang telah merusak hati Maira. Meski saat ini dia mau menerima semuanya namun sudah terlambat dan mungkin akan teringat sampai kapan pun oleh Maira.
Joanna lalu beranjak duduk disebelah Maira yang sedang berbaring. Sambil memegang tangan Maira Joanna mengatakan maaf dan mengungkap rasa untuk maira. Joanna sangat mencintai maira meski mereka baru kenal. Rasa itu tumbuh dengan sendirinya dan tak mau lagi merasakan kehilangan.
"Aku sangat mencintaimu Ra, jadi jangan pergi lagi."
"Sayang kamu bilang, jika kemaren Ku beneran hamil apa masih ada kata sayang itu untuk aku."
"Ada sayang ada."
" Hamm aku sudah muak dibohongin."
"Aku tak pernah membohongi mu, kapan aku lakukan itu."
"Laki di luaran sana sama sepertimu."
"Heh ra, aku jaga kehormatan ku aku tahan diri untuk tidak menyentuh kesucian mu namun apa yang ku dapat, apa."
"Aku tidak meminta mu untuk tidak menyentuh namun mengapa saat aku terluka batin aku terancam dengan masalah kehamilan kemaren kamu malah seakan mencampakkan aku begitu saja."
"Aku juga kaget Ra, aku juga gak bisa bayangin jika kamu hamil yang sementara aku sama sekali tidak menyentuh di sana."
"Alah kamu pasti lagi ngelak kan."
"Sumpah Ra, aku tidak lagi membohongi mu aku berkata jujur. Aku memang melihat bawah sana yang masih rapat makanya aku mau menyentuhmu agar bisa jadi milik ku seutuhnya tapi tidak untuk mengambilnya saat ini."
Maira duduk lalu pergi ke arah jendela menelfon Naim yang lagi berada di bawa main dengan sang suami. Maira mendengar suara nafas yang tersengal saat berbicara dengan Naim.Permaian yang lagi tanggung terpaksa di lanjutkan karena Maira sudah menelfon berulang kali.
"Halo nona ada apa nona."
"Buk aku tidak pulang malam ini karena dijalan menuju Rumah longsor buk."
__ADS_1
"Nona lagi dijalan sekarang? "
"Nggak buk, saya lagi di penginapan bersama joanna."
"Iyah saya tau nona nih kan No joanna."
"Oh iya buk, saya lupa."
Maira lalu mematikan telfon dan duduk di ujung jendela yang ada kursi dan meja berukuran kecil. Maira terdiam sambil menggigit gigit jari kelingking sebelah kanannya. Sementara joanna masuk kamar mandi sejak tadi dan belom ada keluar hingga saat ini.
Maira menunggu terus hingga tertidur di kursi tersebut. Joanna yang sedang pusing tiba tiba tersenyum saat melihat sang pujaan hati tertidur sangat imut dan cantik. Joanna lalu mengangkat tubuh Maira dengan sangat pelan agar Maira tak terbangun.
Meletakan di atas kasur dan tidur sambil memeluk Maira. Joanna sesekali melirik ke arah wajah Maira yang cantik dan mengecup kening Maira dengan hangat. Kata maaf berulang kali dilontarkannya saat itu yang membuat Maira sempat terbangun tapi tidak diketahui oleh Joanna. Maira pura pura tidur agar dia tau apa yang sedang diucapkan oleh Joanna.
"Maafin aku yah sayang, aku sangat mencintaimu melebihi apa pun di dunia ini. Kau ambil seluruh harta ku aku tak mengapa asal kau hadir dan jangan pernah pergi dari hidup ku. Mungkin kau merasa kau bucin dan lebai, tapi aku sungguh ingin menjagamu mencintaimu meski aku tau orang tuaku akan menolak hubungan kita. Ayah mu pernah punya masalah dengan keluarga kami dan aku tidak mementingkan itu karena aku bukan orang politik dan sangat mencintai mu dengan kesucian mu yang selalu kau jaga untuk sang singa yang akan jadi raja dalam hatimu."
"Kau ratu ku kau tulang rusuk ku yang akan ku jaga hingga aku mati. Meski kita baru bertemu namun cinta tak mengenal waktu sayangku tak mengenal apa yang akan kita lewati nanti karena sebuah penolakan orang tua ku."
Maira lalu membuka matanya dan melirik ke arah Joanna yang menempel di kepalanya. Maira tersenyum dan memeluk Joanna dengan erat. Maira juga menangis bahagia karena cintanya untuk Joana tidak dia sia.
" Sudah ku berikan setengah kesucian ku untukmu, ku biarkan kamu melihat tubuh ku tanpa perantara dan sehelai benang. Apa kau masih ragu dengan itu hingga kau berucap manis di saat tidur lelap ku. kenapa kamu tidak langsung mengucapkan itu disaat aku terbangun mas."
"Aku juga sangat mencintai mu sehari setelah kita tidur satu atap. Ku berikan kesucian ku untuk mu sehari setelah kita menikah tapi jangan pernah kamu bermain api di belakangku."
"Aku tak pernah mencintai hingga memamerkan tubuh ku ke orang yang belom tentu milikku tapi ku berikan padamu, seluruhnya. Jika nanti kamu tak cinta lagi jangan kamu mendua yah mas, kamu cukup katakan dan aku akan beri jalan untukmu."
Joanna menarik kepala Maira ke arahnya dan lalu naik ke tubuh Maira dengan cepat. mengecup sedikit bibir ranum Maira yang manis dan indah. Joanna lalu mengatakan semua janji untuk Maira yang akan mereka jadikan komit hingga mati.
"Aku tak akan meninggalkan kamu kecuali kau pergi di ambil Tuhan dari hidupku."
"Jadi kamu akan menikah lagi saat aku meninggal? "
"Aku tak mengatakan itu sayang, aku cuma nggak janji akan setia jika kamu mati sebelum aku."
__ADS_1
"Ham iya mas."
Auh.... Ah...
Setelah mengatakan itu Joanna menekan Rudal ke arah sensitif Maira hingga merobek selaput luarnya Maira. Tidak ada darah sedikit pun namun membuat Maira menjerit hingga mengeluarkan air mata. Joanna lalu turun melihat ke bawah yang ternyata sudah merah dan robek di bagian luarnya.
"Aku sisakan untuk besok di malam pertama yah sayang.Aku sudah beri tanda cinta di sana agar kamu tak pergi dari ku."
"Ham iya mas."
"Kita ulangi lagi yah honey, pegang bahuku jika kamu tak tahan."
Joanna lalu mengangkat kaki Maira melingkar di pinggangnya. Joanna lalu menekan ke depan rudal nya hingga lolos kepala nya dulu. Berhenti sejenak dan mengulangi lagi sedikit demi sedikit. Karena melihat Maira yang sudah tak tahan, Joanna akhirnya berhenti dan beralih memainkan gundukan atas dengan jari jemarinya hingga berganti dengan gigitan lembutnya yang bergantian dengan mulut Maira
Joanna mendesah karena nikmatnya tubuh itu, sesekali bergantian dengan mulut Maira yang menempel dengan mulutnya dan kembali lagi ke gundukan di atas yang padat dan masih kokoh. Setelah sepuluh menit menahan bawah, Joanna kembali lagi memainkan rudal maju mundur di bawah sana sambil menikmati suara indah yang diciptakan Maira saat gerakannya beraksi.
Gundukan yang bergerak tak beraturan membuat dada Joanna geli dan enak ditambah dengan hangatnya nafas Maira yang menghembus lehernya secara bervariasi. Joana meninggalkan bekas cinta di leher Maira dan belahan dada serta satu gundukan Maira.
Ketika mau melepaskan cairan itu Joanna berhenti sejenak dan mengajak Maira bercengkrama sambil rileksasi agar Maira nyaman dan tidak merasakan sakit lagi. Setelah agak reda Joanna lalu menekan keras di bawah sana hingga lima menit langsung menyembur di dalam sana dan meninggalkan cairan hangat di tubuh Maira.
"Thank you honey."
Joanna lalu turun dan mengelap kotoran yang tersisa di kasur dan memeluk Maira yang duduk di ujung kasur yang hanya menggunakan kain panjang bekas yang sengaja ada di atas kasur saat itu. Maira ingin bersih bersih dan berdiri menuju arah kamar mandi, melihat sang kekasih yang sepertinya kesulitan, Joanna akhirnya menggendong Maira hingga ke kamar mandi dan membantu Maira membersihkan kotoran yang menempel di kulit belakang Maira.
"Makasih sayang, sini aku bantuin nanti kita ulangi lagi yah."
"Ham iya mas."
"Disini sayang, disini dan disini yah sayang."
Joanna memegang seluruh bagian tubuh yang dimainkannya hingga menunjuk bekas cintanya yang masih memerah. Maira kaget dan mencubit ketiak Joanna yang ada dibelakangnya.
like, komen and Vote nya yah teman teman🙏
__ADS_1