
Maira mengajak Joana untuk tidur dan beristirahat karena sudah beraktivitas seharian penuh tanpa ada rehat. Joanna mengikuti kemauan sang Ratu dan ikut naik ke atas ranjang dengan saling berpegangan tangan. Joanna tidak lupa mengecup kening Maira sebelum membaringkan tubuhnya ke atas kasur.
Joanna lalu tidur di samping Maira sambil mengusap kepala Maira yang berada sedikit dibawah tubuhnya. Maira sengaja tidur dalam pelukan Joanna agar nyaman dan hangat. Sembari mengusap kepala Maira, Joanna bernyanyi untuk Maira agar Maira tertidur dengan nyenyak. Joanna meletakan dagunya di atas kepala Maira dengan sedikit sentuhan memijit Tangan kanan Maira dengan tangan kirinya.
Tangan tangan Maira yang berada di dekat perutnya, dipijit Oleh Joanna dengan lembut dan sangat enak. Maira hingga tertidur dan tak mengucap selamat malam kepada Joanna. Dari tatapan dan sikapnya, Joanna sangat mencintai nya Maira dan akan jadi pelindung Maira suatu saat nanti.
***
Wira yang sejak tadi gelisah memikirkan Lila yang mengalami pendarahan setelah berhubungan membuat Wira harus melakukan pengobatan ke rumah sakit yang berada di kota besar yang lokasinya sangat jauh dari tempatnya saat ini. Wira harus melakukan tindakan segera mungkin agar dirinya tidak kehilangan sang istri yang sudah dicintainya.
"Mas wira." Suara Lila yang lemes memanggil Wira yang sedang menelfon seseorang.
"Iyah sayang, apa ada yang sakit sayang? "
"Perut aku sakit mas, keram mas."
"Aku panggilkan dokter yah sayang tunggu yah sayang."
Wira lalu berlari keluar dan mencari Dokter Untuk menangani Lila. Wira terlihat sangat cemas sehingga dompetnya jatuh tidak diketahuinya. Untung saja ada orang baik yang membantunya dan mengejar Wira yang menuju Ruangan administrasi menanyakan dokter yang bisa menangani Wira.
"Pak pak dompet bapak terjatuh."
"Oh yah makasih yah dek."
__ADS_1
Wira lalu mengeluarkan sejumlah uang dan lalu kembali pergi untuk ke ruangan sang istri meninggalkan anak itu sendiri dengan wajah yang begitu kusut dan penuh kecemasan. Wira mendekati istrinya dan menenangkan istri nya dengan mengatakan Dokter sudah menuju ke sana.
Wajah cemas terlihat sangat jelas dari wira, Wira sempat mengeluarkan air mata saat dirinya mundur mandir melihat ke pintu untuk memastikan Dokter akan datang. Saat Wira akan memencet tombol darurat, Dokter masuk dan langsung mendorong Tempat tidur Lila bersama perawat kedalam Ruang bedah dan akan melakukan pengangkatan janin yang ada dalam perut Lila.
Lila menolak hal itu dan tetap akan melahirkan anaknya namun Dokter tidak bisa menjamin keselamatan Lila jika Anak itu tetap dipertahankan. Wira tak mau Kehilangan Lila merelakan Anaknya jika harus memilih salah satu dari mereka. Meski tak langsung terucap dari mulutnya, namun dokter mengambil kesimpulan dari jawaban yang dilontarkan Wira kepadanya.
Tidak ada waktu lagi jika Wira harus melarikan Lila ke rumah sakit yang lokasinya sangat jauh dari sana. Waktu yang akan ditempuh tak akan bisa ditahan Lila dan akan beresiko sangat besar untuk Lila dan anak yang ada dalam. kandungannya.
Jika Lila mengatakan Hal yang akan merusak Anaknya mungkin saja Wira tak melakukan hal itu. Lila sama sekali tak mengatakan hal. tentang kehamilannya dia baru saja mengatakannya setelah sekian Ronde mereka jalani malam itu. Hasrat yang sama sama gila, membuat mereka kehilangan Anak pertama mereka.
"Aku gak kuat mas aku gak tahan mas."
"Kamu harus kuat yah sayang, Ingat kita punya mimpi melihat anak kita tumbuh dengan kebahagiaan."
"Janin aku akan di ambil mas dan kita gak akan punya anak lagi mas." Berbicara sambil Dokter memasang bius di tubuhnya.
" Aku gak kuat mas Aku nggak tahan sakit." Berbicara sambil menggigit Tangan Wira menahan sakit akibat suntikan di punggungnya.
"I love you Lila."
"Kamu pasti kuat sayang, jangan tinggalkan Aku yah sayang."
Wira memeluk erat Lila yang tiba tiba pingsan dalam pelukannya. Lila langsung di tidurkan di atas kasur Operasi dan dokter langsung mengangkat janinnya hingga beberapa menit. Wira dengan tenang dan sabar menunggu operasi selesai. Terus memegang tangan Lila yang terbaring di atas kasur dengan linangan air mata."
__ADS_1
"Jangan tinggalkan Aku Lila, cukup Dia yang pergi meninggalkan Aku disaat Anak kami butuh sosok seorang ibu. Aku mohon bertahan yah sayang demi Aku, tak pernah aku mencintai wanita selain ibunya Maira selama ini, namun kamu bisa mengambil hatiku dan bisa membuat aku jatuh cinta padamu Aku mohon tahan yah sayang ini hanya sebentar sayang."
Setelah beberapa lama diruang operasi, Wira keluar bersama Lila dan tim para medis menuju ruang Penginapan Lila. Wira begitu sabar menemani sang istri hingga istri siuman dan terjaga dari pingsannya. Lila yang begitu pucat membuat Wira semakin cemas dan bawel menanyakan Semua yang diinginkan Lila saat ini.
Lila hanya diam dan menatap jam dinding yang bergerak dan berbunyi sesuai arah. Lila tertunduk meratapi anak yang dimimpikan sudah pergi dan tak meninggalkan kenangan sedikit pun. Pergi tanpa sedikit kenangan semakin membuat Lila sedih apalagi ini anak pertama. Hanya bekas darah yang masih tersisa di kain kecil yang masih disimpannya dalam lemari yang bisa dikenang nya hingga dia mendapatkan kembali anak.
Hamil adalah hal yang mengejutkan bagi Lila karena Dia menderita penyakit yang membuatnya susah hamil ditambah lagi karena mengkonsumsi obat obatan saat berhubungan intim dengan pasangannya. Enam tahun terakhir yang hanya Wira yang berhubungan dengannya sebelumnya ada banyak Laki laki yang datang untuk memuaskan nafsu dengannya.
Wira memeluk sang istri dengan penuh kasih sayang sambil menepuk pundak Lila dengan tangan kanannya. Dokter meninggalkan resep obat yang harus ditebus Wira untuk diminum oleh Lila. Lila diberikan makanan oleh perawat yang harus segera dimakan untuk memenuhi nutrisi yang hilang saat menahan sakit tadi.
Lila harus kuat dan bertahan untuk program hamil lagi agar cinta Wira tak hilang darinya. Dia tak mau Cinta yang diberikan Wira padanya hilang dan terbuang sia sia selama berjuang enam tahun terakhir. Lila baru saja merasakan cinta dari Wira dan harus mengalami kesedihan kembali disaat anak yang diinginkan Wira harus pergi dari rahimnya.
"Kita bisa usaha lagi kan sayang, Kamu tenang Aku akan kasih kamu anak kembar ke rahim kamu hehe. " membujuk Lila dengan rayuan nakalnya.
"Iyah mas."
"Jangan iya aja dong sayang, peluk aku dong."
"Ih mas kayak anak kecil deh."
"Yah akan aku bayi gede kamu sayang."
"Ham mas, kita baru saja memimpikan anak mas dan harus hilang dalam genggaman ku mas." Menangis dan memeluk bantal guling.
__ADS_1
"Kita kan bisa usaha lagi sayang, Kita bisa bahagia tanpa anak sayang. Anak hanya pelengkap bukan segalanya sayang, Kita juga bisa bahagia tanpa anak sayang jika Tuhan menghendaki kita pasti akan punya anak sayang."
Wira lalu mengambil tangan Lila dan melingkari ke pinggangnya. Sambil menepuk pundak Lila, Wira mencoba menenangkan Lila dengan sentuh manjanya dan rayuan manja yang mungkin mampu menenangkan Lila dan membangkitkan semangat Lila. Lila lalu dibaringkan di atas kasur oleh Wira agar bisa rehat dan mengurangi rasa sakit. Wira mengusap kepala Lila hingga tertidur pulas di atas kasur.