
Joanna menembakkan Cairannya ke dalam sarang tersebut dengan sangat paten, Maira merasakan hangatnya cairan yang keluar di sarang miliknya. Dengan sangat pelan Joanna menarik Miliknya dari dalam sana yang membuat mata Maira sontak sedikit mengedip menahan geli. Rudal yang ditarik melewati cairan yang ikut keluar membuat permukaan dinding tersebut menjadi geli.
"Bagaimana sayang, Apakah kita mengulangi lagi dari awal permainan ini hingga kamu merasa lebih puas? " Bertanya sambil menggelitik ****** payudara Maira.
"Ham boleh mas."
Ah ham huh...
Maira mulai mabok kembali dalam pelukan Joanna yang berada dalam lingkungannya. Joanna memegang kedua tangan Maira dengan satu tangan sementara tangan yang satunya lagi beraksi pada gunung kembar yang padat itu. Joanna menggoyang dan menarik ulur Rudal nya keluar masuk sarang secara cepat, Sesekali menekankan gerakan kedalam yang membuat Maira terguncang habis dan mulut terbuka menikmati peran di bawah tubuh Joanna.
auh Ah ham am am ah Ah auh hah hah Auh
Maira mendesah diikuti suara kasur yang semakin besar karena aksi ganas Joanna yang berada di atas perut Maira. Joanna lalu menegakkan badan membuka lebih lebar lagi kaki Maira dan menghentak Masuk Punya nya lumayan besar itu. Maira tersentak dan meremas kedua sisi bantal yang ada di kepalanya.
Stop Sayang Stop A ku nggak Kuat lagi...
Ah ah ah Auh auh ham ham..
Maira mendesah dan sedikit menutup matanya menahan Sakit yang diberikan oleh Joanna. Joanna memainkan peran yang berbeda dari biasanya. Dia lebih rakus di atas sana sehingga Maira sulit mengimbangi permainan Joanna. Maira Semakin panik saat Kedua gundukan nya dihabisi oleh kedua tangan Joanna.
Mas mas sayang sudah cukup auh Auh auh Auh ah ah ah pelan kan Ah ah ah
Joanna tak menghiraukan Ucapan Maira dia malah menambah gerakan Mainnya. Disaat cairannya ingin keluar, Joanna berhenti sejenak Naik ke atas Maira kembali mengajak Maira berbincang langkah selanjutnya. Maira yang lelah hanya diam dan menjawab dengan gerakan kepalanya. Joanna mencoba menggoyangkan sedikit sedikit agar Rudal nya tak kempes.
Auh ah ah..
"Gimana sayang, apa kamu suka? "
"Kamu gila mas aku sampai mau menyerah."
"Tapi enak kan honey." Menempelkan bibirnya ke bibir Maira.
__ADS_1
"Iyah tapi aku capek sayang."Menjawab dengan bibir masih bertautan.
" Mau diulang lagi? "
"Ham mas."
"Apa sayang." menjawab sambil tangannya meremas gundukan padat itu.
Ah ah ah ham ham Auh..
Joanna kembali menggoyangkan dan menghentak ke dalam Rudal nya. Menutup mulut Maira dengan mulutnya sementara tangan kanannya masih meremas gundukan kiri Maira. Joanna sedikit demi sedikit memberatkan tubuhnya ke samping dengan membawa tubuh Maira bersamanya.
Joanna menggerakkan tubuh mereka hingga posisinya Maira duduk di atas pahanya dan dia duduk dengan Kaki lurus ke depan. Joanna menggenjot di atas dan menyaksikan Gundukan Maira miliknya bergerak ke atas dan kebawah yang menggelitik dadanya. Joanna mulai mendesah dan sedikit menikmati hingga Matanya tak berhenti mengedip.
"Ah sayang nikmat."
"Ham ah ah."
Joanna menarik Leher Maira dan mencium Leher Maira dengan lahap. Sesekali berpindah ke mulut Ranum Maira yang kecil dan rapat. Karena Maira terlihat kesulitan, Joanna akhirnya mendorong pelan pelan tubuh Maira ke atas kasur dan kembali Naik ke atas tubuh Maira yang saat ini terlentang.
Dengan pelan Joanna memutar Tubuh Maira hingga berbentuk menungging. Joanna berdiri menggunakan Lututnya. Menggenjot Sarang Maira miliknya, dengan peran kerajaan di sana membuat Joanna semakin puas dan mendesah berulang kali. Joanna lalu naik ke tubuh Maira merangkul Gundukan yang berada di bawah, memegangnya dan menghentak di bawah sana hingga menit ke lima belas semua cairannya muncrat keluar dari tubuh Joanna yang memenuhi perut Maira yang berada di bawah.
3 Hari kemudian.
Maira dan Joana sudah tiga hari memikirkan Soal restu yang akan dimintanya kepada Wira yang sejak kemaren kemaren sudah tak menelponnya kembali. Wira sama sekali tak menanyakan kabar Maira yang sudah tiga hari tak memberinya kabar.
Pagi pagi Joanna sudah rapi dengan kaus putih dan celana warna Krem. Memakai Topi dan kaca mata anti radiasi. Joanna menunggu Maira yang sejak tadi berdandan dan tak kunjung keluar kamar. Joanna akhirnya masuk dan memastikan Maira sudah Rapi dan siap. untuk menuju kediaman Wira yaitu Rumah yang dibelikan untuk Maira.
Disaat Joanna akan membuka pintu, Maira keluar dengan Gaun krem dan sepatu putih, mengikat setengah Rambutnya dengan ikat rambut berwarna putih. Maira tidak menggunakan Tas sandang karena hanya satu yang dia miliki saat ini. selama pergi dengan Joanna dia tak membawa barang satupun dari rumahnya.
Selama pergi Maira hanya memakai barang " yang tersedia di dalam rumah tersebut. Untungnya Joanna sudah membelikan beberapa Pakaian untuk Maira yang memang tidak banyak tetapi cukup untuk gonta ganti.
__ADS_1
"Sayang kenapa Payudaramu melebar."
"Bra yang mas belikan kegedean mas."
"Loh perasaan kemaren juga kamu pakai yang aku belikan Sayang, kenapa sekarang bilang gede kemaren juga pas di badan kamu."
" Iyah mas, yang kemaren pas tapi yang ini gede mas."
"Mang ukurannya beda sayang? "
"Iyah sayang, satu ukuran yang ini gede sayang."
"Ham sayang, Pakai aja yang semalam sayang."
" Kan kotor mas."
"Nggak apa apa sayang kan cuma pakai tidur doang sayang."
" Iyah kan kotor mas."
"Nggak kotor juga sayang, Kamu mandi jam Tujuh jam sembilan udah buka lagi sayang sampai pagi nggak mungkin kotor sayang."
Joanna lalu mendorong tubuh Maira ke dalam dan membantu membukakan Baju Maira bagian atasnya. Maira membuka Bra yang digunakan dan mengganti dengan yang dipakainya semalam. Joanna mengambilnya ke dalam Ember pakaian kotor mereka dan memasangkannya ke Gundukan Maira.
Setelah semuanya beres, Mereka langsung pergi ke Rumah Maira menemui Wira. Wira yang saat itu sibuk mengurusi Lila tak sempat menelfon Maira yang entah dimana keberadaannya. Wira pagi itu sedang mengajak Lila keliling Komplek dengan jalan kaki.
Lila terlihat Cantik saat digandeng oleh Wira. Usia yang jauh dari Wira membuatnya seperti menikahi Om nya sendiri. Lila tak berhenti memegang tangan Wira karena bahagia, dan saat Joanna menuju Gang rumah Maira, Dia melihat Wira yang sedang makan di pinggir jalan dengan Lila.
Joanna tak menyangka kalau Wira menikah dengan Psk yang juga pernah di ajak main oleh Joanna saat masih sering jajan dulu. Joanna tak menyangka jika Wira menyukai Psk untuk dijadikan Istrinya. Sambil menutup Kaca mobil Joanna mengendarai Mobilnya dengan pelan dan mencoba mengalihkan Pandangan Maira.
" Punya Ibu tiri saja sudah membuat Maira sedih, apalagi dia tau jika Ibu tirinya itu adalah seorang atau mantan Psk pasti Hatinya terpukul dan akan tersiksa." berbicara didalam hati.
__ADS_1