
Perjalanan mereka saat itu tertunda hanya karena Hal ranjang yang tak bosan bosannya dilakukan. Maira yang niat mandi akhirnya diganggu oleh sang pujaan hati dan minta jatah lagi pagi pagi yang dingin itu. Setelah satu jam lamanya dikamar mandi mereka akhirnya keluar dengan memakai Handuk bersamaan.
Maira memakai baju dan berdandan sementara Joanna yang hanya simpel mengemasi Barang barang milik Maira untuk dibawanya. Sepatu yang senada dengan Joanna dikenakan Maira dengan anggun. Maira sempat heran dengan barang bawaan nya itu, dia merasa tidak ada mengemasi barang satu pun sebelum pergi.
Dan tumben Buk Naim masuk kamar tanpa sepengetahuan Dia dan memilihkan pakaian tanpa berdiskusi dengan Maira. Saat sedang ngelamun dengan barang bawaannya Joanna mendekat dan membisikan hal manis ke telinga Maira.
Maira menggeliat dan tersenyum kepada Joanna. Setelah semuanya beres, Mereka turun kebawa menuju Mobil milik Wira dengan jalan santai. Ketika Joanna ingin membuka pintu dia mendengar suara wanita yang sedang mendesah di dalam sana. Joanna menarik tangan Maira dan mengajak Maira berfoto di daerah sekitar sana agar Mereka tak mengganggu Olahraga Wira dan Lila.
"Kamu suka tempat ini sayang? "
"Ham lumayan."
"Beneran sayang."
"Iyah mas. "
"Yasudah besok kita cari Rumah yang mau dijual dan kita beli untuk Investasi masa depan kita."
"Bukannya mas bilang kita mau tinggal di bali?"
"Iyah kita nggak mungkin di sana terus Ra, kamu masih ingat juna sepulu aku sedang mengintai kamu karena kamu calon istri aku."
"Terus gimana mas? "
"Makanya kamu hati hati kalo mau keluar, tapi. kamu aman saja dia tak mampu berkeliaran seperti kita karena dia dalam incaran polisi."
"Maksudnya mas.? "
"Selama kamu tidak melihatnya kita aman Ra, tapi jika kamu melihat dia kamu harus cari tempat keramaian kapan perlu kamu ganti baju atau pakai topi atau semacamnya."
__ADS_1
"Sebenarnya apa yang sedang di incar dari kita sih mas."
"Kamu akan tau besok sayang."
Joanna mengecup kening Maira dan lalu mereka berfoto berdua sambil berjalan mengeliling daerah itu. Saat lagi asyik berduaan Wira menelfon Maira dan menanyakan keberadaan Maira. Maira segera berlarian ke arah mobil digandeng oleh Joanna.
Saat Maira masuk mobil Maira melihat Lila yang sedang duduk. seperti orang lemas. Maira mendekati Lila dan menyuguhkan makanan yang ada ditangannya. Lila mengambil tanpa menoleh ke arah Maira. Joanna lalu menarik tangan Maira ke belakang dan memeluk Maira sambil menyuapi Maira Makanan yang ada disampingnya.
"Kamu telat bangun Joanna? "
"Nggak juga pak. "
"Terus kenapa kok lama datangnya saya sudah tunggu lama loh."
"Tadi ada sedikit halangan pas mau masuk. mobil pak."
"Oh tapi kamu sehat kan? "
"Gimana dengan pernikahan kalian, mau digelar seperti apa dan dimana."
"Ham saya terserah Tuan putri aja pak."
"Gimana Tuan putri? " Wira menoleh Ke arah Maira untuk mendapatkan Jawaban.
"Ham disini aja ayah dan kami akan pergi honey moon ke Bali beberapa hari ayah."
"Oke kapan mau dilaksanakan."
"Minggu depan aja gimana ayah? "
__ADS_1
"Oke juga dan setelah itu ayah akan berangkat ke luar kota untuk tugas baru."
"Bersama Mami? "
"Nggak lah sendiri nak nggak mungkin ayah mengajak mami kamu hubungan kami masih tertutup nak."
"Jika ayah ketahuan punya istri gimana? "
"Yah nggak ada masalah sih sayang, cuma ayah belom siap ngelawan omongan teman ayah nanti, Kamu kan tau ibumu sudah lama meningal dan ayah sudah lama jadi duda sulit buat ayah untuk membawa Istri baru ke depan media."
"Ham gitu ayah." Menjawab dengan hati berbunga bunga.
Seketika Diam menghampiri dan tidak ada topik sama sekali. Maira dan Joanna sibuk dengan Cerita mereka berdua sedangkan Lila diam membeku di sudut dekat kaca mobil melihat Bangunan yang dilewati. Hati Lila terasa dirobek oleh mulut Wira yang amat pedas.
Seketika Dirinya kembali lagi ingin pergi dari kehidupan Wira namun cintanya untuk Wira tak mampu membawa nya pergi. Dunianya sudah berputar saat Maira datang kembali ke dalam kehidupan Wira. Selama enam tahun hidup bersama Wira hanya permainan Ranjang yang menurutnya kasar, sementara perlakuan Wira tidak begitu, meski Wira tidak tipe orang yang terlalu perhatian dengan dia dan romantis namun Wira mampu membuatnya nyaman.
Hari dimana Lila berjuang menahan sakit saat Dokter memaksa anaknya keluar dari rahimnya hari itu adalah hari ujung untuk Lila mendapatkan ungkapan sayang dari Lila. Janji Wira yang akan menikah dah dengannya dan akan diumbar ke orang banyak gagal karena kehadiran Maira.
Rasa dendam dan benci tumbuh dalam hatinya Lila saat itu yang ingin menghancurkan kehidupan rumah tangga Maira dengan Joanna yang baru saja akan dimulai. Maira yang sudah mulai menerima Keberadaan Lila bukannya mendapatkan kasih sayang malah mendapatkan kebencian dari Lila.
Untungnya Joanna melihat raut wajah Lila dari cermin yang begitu masam dan terlihat kesal setelah mendengar perkataan Wira tadi. Maira yang tak tahu apa apa hanya diam dan tidak merasa bersalah, Dia malah fokus dengan ponselnya yang setiap detik dilihatkan ke Joanna.
Joanna merekam Dari balik kaca itu raut wajah Lila yang tidak enak dipandang. Saat Wira memegang tangan Lila, Lila menghindar dan menoleh ke arah Jendela mobil tanpa menghiraukan suaminya. Wira bahkan mengajak Lila untuk berbicara namun Lila hanya menjawab sepatah dua kata saja.
Wira juga tak peka atas ucapannya tadi yang membuat Lila sakit hati dan tak mau mendekatinya bahkan untuk memegang tangannya saja Lila tak mau. Wira memberhentikan mobilnya di sebuah Restoran untuk makan dan meminta Joanna memilih Meja lain karena dia mau duduk berdua dengan Lila.
Wira mengirim pesan ke ponsel Joanna yang berisi.
"Nak, Kamu pilih tempat lain yah karena ibu mertuamu ngambek nggak tau penyebabnya."
__ADS_1
"Oke Pak." Menjawab dengan emoticon ketawa nyengir.