
Hari ini Maira dan joanna pulang ke rumah mereka masing masing. Pulang pagi pagi diselimuti embun dingin membuat joanna ingin balik ke belakang dan mengundur pulang hingga naik siang. Namun Maira menolak karena ingin mampir ke butik untuk mencari baju gaun yang lebih bagus untuk menemui keluarga joanna besok saat ayahnya sudah merestui hubungan mereka.
Ayah Maira yang hanya mendengar lewat genggam telfon tak mungkin langsung bisa mengenali suara laki laki itu. Ayah Maira memang tak begitu peduli dengan anaknya namun bukan berarti Maira tak dianggap anak dan di urus kehidupannya. Maira hanya mendapatkan perlakuan cuek saja tak jarang di temani di rumah.
Ayah Maira sering mengajak Maira jalan keluar saat mereka lagi liburan. mengajak makan berdua hingga nginap ke tempat indah yang mahal dan terkeren. Namun tak hanya itu yang akan membuat Maira bahagia, terkadang dirinya sering menangis karena tak memiliki keluarga yang lengkap. pergi sekolah dengan orang lain, makan ditemani orang lain hingga tinggal bersama orang lain membuatnya merasa tak memiliki orang tua.
Hari ini hati Maira deg degan karena dia tak tahu sifat asli ayah nya yang mungkin saja menolak joanna yang sudah dicintainya. Maira terus saja berdoa agar hubungan dengan joanna direstui ayahnya. maira terus berdoa hingga mengabaikan joana yang sejak tadi memanggil namanya untuk naik ke dalam mobil karena mereka akan segera pergi.
Maira naik dengan wajah muram dan kusut. Rambutnya aja masih berantakan dan wajahnya murung sejak tadi. joanna mencoba menenangkan namun gagal tangan yang ingin memegang rambut langsung ditepis Maira dengan sikunya. Maira langsung dingin tiba tiba kepada joana yang tidak tahu apa apa.
"Hey kamu kenapa sih sayang."
"Nggak ada sayang."
"Nggak ada kok wajahnya masam gitu kayak jeruk abis diperas."
"Nggak sayang, cuma lagi bete aja."
"Yah bete kenapa sih."
"Nggak tau sayang, bangun tidur bawaannya bete."
"Nggak mungkin gini kalo nggak ada sebab, tapi pagi juga masih happy kok malah pingin beli baju ke butik kan."
"Iya sih sayang."
"Terus sekarang kenapa."
"Aku takut sayang."
"Takut kenapa siapa yang gangguin kamu sini aku hajar tuh orang."
"Bapak aku sayang."
"Yah bapak kamu calon mertua aku dong yang."
"Terus gimana? "
"Gimana apanya aku yang bakal dihabisin kalo gitu yang, bisa nggak direstui kitanya."
"Kalo memang Iyah gimana? "
"Kenapa sih Ra, kenapa ngomong nya gitu ah kamu gak jelas."
"Marah kan kamu sih mas, nanya gitu kan aku jadi jujur. "
__ADS_1
"Yah nggak mungkin lah ayah kamu nggak ngasih kita Restu kita tidur satu atap dia nggak marah."
"Yah kan tidur mas bukan menikah."
"Ra, nggak mungkin seorang ayah mau bebasin anak gadisnya bersama laki laki yang buatnya ragu. kita tidur satu atap malah sering ketemuan ayah kamu nggak ada tuh nanyain kamu kemana, sama siapa lagi apa nggak kan ra."
"Nggak sih mas."
"Yasudah berarti deal dong kita menikah dalam waktu dekat ini, karena Ku nggak mau lagi nahan semuanya dan aku gak mau terus terusan bermain tanpa status begini."
"Aku juga sayang, tapi kalo ayah nolak gimana."
"Yah kita undur lah sayang."
"Kalo nggak direstui gimana? "
"Yah kita bisa cari cara biar direstui lah ra."
"Ham iya gimana caranya sayang."
"Ra, aku serius mencintaimu jauh sebelum kau mencintaiku, bagiku apa pun akan ku lalui demi kamu tapi kamu jangan menyerah gini dong ra, kita hadapi bareng bareng biar ayah yakin kalo kamu juga mencintaiku dan serius ingin jadi istriku."
"Ham I love you sayang."
"I love you to honey."
Beberapa menit kemudian joanna melepaskan dan memegang tangan Maira dan mengemudi mobilnya ke arah butik yang tidak jauh dari sana. sebelum ke butik joanna berhenti di depan toko perhiasan dan membelikan Maira cincin yang sama dengan nya hanya beda di bagian nama dan yang punya Maira ada lukisan hati yang menyatu.
Joanna sengaja meninggalkan Maira di mobil dan membelinya sendiri. Ukuran cincin yang pas dijari Maira membuat joana senang karena barang yang dia beli sesuai dan pas dijari Maira. Memasangkan dengan penuh hati hati karena jari manis sebelah kiri Maira luka karena ujung sofa yang robek.
Maira tersenyum saat joana memasangkan cincin permata hati di jarinya yang ternyata cincin tersebut juga melingkar di jarinya Joanna. Maira memeluk Joanna setelah Joanna memasangkan cincin tersebut. Maira tak berhenti memeluk Joanna hingga Joanna harus mengemudi sangat hati hati karena Maira memeluk sangat erat hingga dia kesulitan untuk mengemudi mobilnya.
"Sayang, ada yang lupa."
"Apa sayang? "
"Beliin aku roti Jepang di Minimarket ujung sana yah sayang, aku males turun."
"Ham oke deh sayang, tapi kok aku nggak pernah lihat yah?? " berpikir sangat jauh ke depan.
"Yah kamu tanya aja sama mbak kasirnya."
"Oke deh."
Joanna lalu masuk dan sudah mengelilingi minimarket tapi tak ditemukannya roti Jepang tersebut. Joanna akhirnya menanyakan ke kasir yang duduk di meja kasir. Sambil tersenyum dan sedikit kebingungan joana mendekati meja kasir dan bertanya.
__ADS_1
"Mbak Roti Jepang ada nggak mbak? "
"Lah mas yang di depan mas itu kan roti Jepang mas."
"Yang mana mbak? "
"Itu bungkusan Yang di depan mas itu lo."
"Lah ini kan punya wanita mbak."
"Lah masnya beli buat siapa mas, kalo Roti Jepang yah itu mas."
"Oh Oke lah mbak saya ambil lima."
"Oke mas, borong nih yah mas."
"Istrinya ada berapa mas? " mbak kasir bertanya sambil tersenyum dan tertawa.
Setelah membayar Joanna lalu cepat naik mobil dan ngomel ke Maira yang sudah tertawa sejak tadi. Maira tak kuasa menahan tawa hingga buang air kecil di atas mobil nya joana. Joanna geleng kepala dan langsung balik arah ke rumah tempat mereka nginap untuk membersihkan mobil.
Joanna tak mungkin membawa mobil itu ke pencucian karena jauh dan harus menunggu antrian panjang. Joanna lebih memilih putar balik dan mencucinya sendiri.untung saja tadi joana sudah mengambil beberapa camilan karena dirinya sebelum tidur suka ngemil dan minum kopi.
Maira malu dan buang muka dari joana. Maira malu karena sudah buang air sembarangan dalam mobil lagi. Joana mencoba mengajak Maira ngomong tapi Maira masih saja buang muka yang akhirnya Joanna berhenti dan menarik tangan Maira mendekat padanya.
"Kenapa harus malu kan kamu nggak sengaja sayang."
"Tapi bau sayang."
"Nggak masalah kan bisa dicuci sayang."
"Tapi kan susah sayang."
"Nggak susah kalo kita lakuin bareng bareng."
"Aku juga ikut nyuci gitu sayang."
"Iyah kamu mau nggak? "
"mau sayang."
"Yasudah sini dekat aku biar aku bisa nambah laju mobil dan kamu aman disebelah aku."
"Nggak ah sayang, aku bau."
"Udah sini."
__ADS_1
Joanna menarik tangan Maira dan meletakan di pinggangnya mereka lalu menempel kayak prangko hingga depan rumah yang ditempati tadi. untung saja belom di gunakan orang baru dan masih bersih. tempat itu memang indah dan dekat dengan air untuk bersih bersih di luar rumah meski lebih dingin dari pada yang lain.
Like, Komen and vote yah teman teman☺