
Joanna dan maira masuk rumah dengan gembira sambil bergandengan tangan, sementara wira masih di atas perut menikmati hari terakhir mereka berjumpa. Maira dengan senangnya memberikan kertas atas kehamilannya kepada Wira yang sedang merapikan rambutnya yang berantakan.
" Loh ayah kok masih berantakan, bukannya kita akan berangkat 9 ayah?"
" Oh astaga ayah lupa nak."
Wira segera merapikan rambut dan memakai bajunya dan memakai farfum di seluruh pakaiannya. Sementara Lila sibuk membawakan barang ke depan pintu yang akan di bawa joanna ke dalam mobil. Karena akan menghabiskan waktu lama, Joanna akhirnya mengundur jadwal keberangkatan hingga jam 2 siang.
Untungnya Joanna mengenal pramugari yang bekerja di bandara tersebut. Joanna menelfon dan akan mengambil jadwal pukul 2 siang karena ada urusan mendadak. Maira yang sempat kesal jadi lupa memberi kejutan indah itu kepada wira ayah nya sendiri. Joanna yang mengetahui hal itu mencoba menenangkan hati maira dengan mengajak maira untuk duduk di taman depan rumah.
" Ayah kita undur jadwal hingga jam 2 siang jadi ayah bisa mandi dan kemas lebih santai."
" Sekarang pukul sembilan kurang ayah, ayah kenapa sih setelah punya istri hidup ayah berantakan kayak gini dulu nggak pernah gini."
__ADS_1
Maira lalu pergi kebawah dengan wajah marah dan kesal kepada wira dan Lila. Wajah kesal itu terus diperlihatkan ke arah Lila karena dia merasa itu adalah kesalahan Lila. Joanna tidak bisa mengontrol emosi maira karena yang disebut maira itu benar adanya. Sebelum kenal maira joanna sudah mengenal wira yang gagah dan juga disiplin orangnya.
Namun semenjak menikahi Lila, Wira jauh berubah dan sedikit berantakan hidupnya dan sering mengambil cuti bekerja. Joanna tidak sengaja mendengar wira menelfon dengan bawahannya yang meminta wira untuk segera datang karena ada sedikit masalah yang tidak bisa diwakilkan. Wira juga sudah mengambil tempat yang sangat tidak disiplin dan banyak masalah untuk area tempat dinasnya yang seharusnya dia bisa memilih tempat yang rawan demo.
Entah karena ingin mengajak Lila entah apa yang intinya tempat yang dipilih Wira tempat yang rawan begal dan tidak takut hukum. Joanna kurang paham dengan pekerjaan Wira yang jelas wira bekerja di bagian keamanan daerah yang masih terisolir. Wira yang sedang jatuh cinta tidak memikirkan pekerjaan lagi malah lupa dengan kewajiban yang harus ditunaikannya.
Bahkan dihari dimana dia akan berpisah dengan putrinya saja dia lupa untuk menghabiskan waktu bersama sang putrinya yang akan pergi jauh darinya. Dia malah takut jauh dari istrinya ketimbang dengan anaknya sendiri. Maira menangis dan memeluk Joanna sangat erat dengan perubahan ayahnya yang membuatnya terkejut dan bingung harus melakukan apa.
" Ayah sudah siap nak."
Masuk kedalam mobil tanpa menyapa wira sama sekali. Maira begitu marah hingga tak mengajak ayah dan Lila berbicara. Hanya Joanna yang mengajak Wira berbicara sedangkan maira tidak. Wira berulang kali melihat ke arah maira namun maira tak membalas tatapan tersebut.
" Kamu kenapa maira sejak tadi nggak mau bicara sama ayahmu."
__ADS_1
" Karena kehadiranmu kau tau itu."
" Loh ibu salah apa sih nak."
" Iyah masa karena soal kemaren kamu juga marah sama ayah sih nak."
" Bukan masalah kemaren aku marah sama ayah tapi ayah yang udah jauh berubah semenjak kenal wanita malam ini."
" Kamu panggil ibu seperti itu sih sayang."
" Tapi emang benar kan ayah dapatkan dia dulu sebagai kupu kupu malam."
" udah ah kamu ngapain sih ra,marahin ayah seperti itu kalian mau pisah lo ra."
__ADS_1
Suasana jadi hening disaat joanna menegur maira atas apa yang dilakukan oleh maira.