
Saat sedang membersihkan mobil dengan Joanna, Maira teringat dengan Ayahnya yang semalam menelfon nya dan tidak ada kabar sampai sekarang. Maira lalu menelfon Ayahnya sambil memotong Roti untuk Joanna yang sedang membersihkan mobil.
Untung saja saat teringat Ayah, Maira langsung mengambil Ponselnya dan menelfon Ayahnya sambil memotong Roti. Saat Maira menelfon yang mengangkat telfon adalah Wanita yang tidak diketahui Maira. Maira langsung mematikan telfonnya dan beranjak pergi meninggalkan ponsel tersebut di atas meja.
"Siapa yang menelfon Sayang? " Bertanya sambil mengecup kening Maira yang mendekat padanya.
"Oh Ayah sayang, Aku menelfon Ayah."
"Ham terus apa kata Ayah."
"Nggak ada sayang, yang angkat wanita sayang."
"Ham ibu sambung kamu mungkin sayang."
"Mungkin." Menjawab dengan nada datar dan lalu pergi.
Maira lalu diikuti Joanna ke arah samping dan duduk disebelah Maira yang tengah kesal dan murung. Entah kenapa sejak semalam sikap Maira sedikit murung dan kurang semangat. Joanna yang tidak terlalu pandai berkata romantis jadi bingung harus melakukan apa.
"Hey Sayang, Pantesan sejak tadi aku tungguin kamu nggak muncul muncul."
"Iyah sayang, Aku cuma mau menyendiri sejenak sayang."
"Gimana kalau kita liburan sayang sambil ganti suasana."
"Ham nggak usah sayang, Kita di sini aja aku nggak apa apa."
"Ham Ayuk sayang, Aku tau kamu pasti lagi suntuk dan ingin menghirup udara segar kan lihat pemandangan yang beda dari sebelumnya, Ayuk besok pagi kita pergi liburan berdua menikmati suasana baru."
"Aku mau nikah mas." Menatap mata Joanna penuh harap.
"hus Iyah Sayang."
"Kamu beneran mau nikahin Aku sayang? "
"Iyah besok sayang saat Ayah kamu dah kasih kita izin."
Maira lalu menghentakkan kaki dan pergi kedalam kamar menutup wajahnya dengan selimut. Joanna lalu mengejar Maira dengan Sedikit pelan karena kakinya yang luka terinjak beling tadi saat ingin menyalakan air untuk mencuci mobil.
Joanna tidak tau kalau Maira berlari masuk kamar, Joanna malahan mencari ke depan rumah hingga keluar. Dia mengira Maira pergi keluar Rumah bukan kamar. Untung saja Joanna belom terlalu jauh berjalan, Dia menanyakan Maira pada tukang bakso yang mangkal di dekat trotoar menuju Bisma.
Joanna mencoba menelfon Maira namun tidak kunjung di angkat Maira. Saat hendak masuk kedalam Rumah, Joanna melihat Ponsel Maira yang terletak di atas meja dekat mereka mencuci motor tadi. Roti dan Teh diletakan di sana yang sengaja dibuatkan Maira untuknya tadi.
__ADS_1
Joanna membawa Ponsel Maira dan makanan tadi ke dalam Rumah sambil memikirkan keberadaan Maira saat ini. Dan saat membuka pintu kamar Joanna melihat selimut membulat seperti ada yang ada dalam selimut tersebut. Joanna mendekat dan melihat Maira yang tengah menutup wajahnya di sana. Joanna mengangkat tubuh Maira untuk tidur di atas pahanya, Maira pun mengikuti dan menangis di paha Joanna.
"Hey sayang, kamu kenapa siapa yang berani gangguin Calon istri Aku."
"Kamu sayang." Menepuk Paha Joanna penuh kesal.
"Lah kok sayang? "
"Lah Iyah kamu Sayang."
"Aku ngapain sayang, apa yang salah dari aku."
"Kamu nggak mau nikahin Aku mas."
"Bukan aku gak mau tapi belom waktunya sayangku, Kamu ngajak nikah kayak bocah mau permen."
Maira mencubit buntut Joanna dengan tidak sengaja. Joanna berteriak kesakitan dan berbalik mencium Maira di atas kasur mereka. Maira berulang kali mengatakan dia tidak sengaja Dia mengira Kalau yang dicubit nya itu adalah Paha bagian dalam Joanna. Maira sesak nafas saat Joanna Naik ke atas tubuhnya menggelitik seluruh Tubuhnya.
"Sayang."
"Apa sayang." Joanna menjawab dengan mengusap kepala Maira.
"Jangan gitu sayang, Kamu nggak boleh egois karena bagaimana pun Ayah kamu juga butuh pendamping hidup sayang."
"Selama ini juga Ayah nggak ada teman sayang."
"Yah mungkin selama ini belom dapat yang cocok dan mungkin juga saat ini sudah capek sayang hidup sendiri."
"Aku nggak mau punya ibu tiri sayang."
"Kamu juga kan nggak bakal selalu ada buat Ayah sayang, apalagi kita kan mau menikah sayang dan nggak akan tinggal bersama Ayah juga sayang."
"Mas kamu janji kan mau menikahi Aku."
"Iyah besok kita datangi Ayah kamu untuk meminta restu sayang."
"Ham Iyah mas."
"Sekarang kamu telfon Ayah kamu dan bilang kalau besok kita akan datang untuk meminta restu."
Maira lalu menelfon Ayahnya namun sama sekali tak ada jawaban. Wira yang masih sibuk mengurus Lila lupa dengan ponselnya dan lupa dengan Maira yang sejak kemaren diabaikan. Lila sepertinya tak menginginkan Maira kembali ke pelukan Wira, Terlihat jelas dari gerak geriknya saat mengangkat Telfon dari Maira. Lila sengaja tidak mengatakan kalau Maira tadi menelfon Ke nomernya Wira saat Wira pergi menebus obat untuknya.
__ADS_1
Maira sudah menelfon berulang kali namun tak ada jawaban, Maira akhirnya berhenti menelfon dan mengirim pesan kepada Ayahnya lewat WhatsApp. Maira mengatakan bahwa besok pagi dia akan pulang ke rumah untuk meminta Restu dari Ayah dan ibu tirinya. Dia akan menikah dengan Joanna yang sangat dicintainya.
Setelah mengirim Pesan, Maira lalu kembali memeluk Joanna yang sejak tadi memeluk tubuhnya dari belakang. Maira lalu duduk dan Maira mengusap Kepala Joanna yang tidur di dekat pinggulnya. Joanna menarik Paha Maira ke dekatnya dan menjangkau Area Sensitif Maira yang ditutupi kain kecil dan tipis.
"Lalu bagaimana dengan liburan kita mas? "
"Kita undur hingga Ayahmu memberikan izin untuk kita menikah."
"Lalu? "
"Lalu kita berlibur setelah kita menikah sayang."
"Jika Ayah tak memberi kita izin? "
"Apa yang ingin kamu lakukan aku akan ikuti sayang." Menarik tubuh Maira berbaring di sebelahnya.
"Aku akan pergi dengan kamu dan kita akan menikah kan mas."
"Iyah sayang, kita akan menikah tanpa menunggu restu ayah." Joanna menjawab sambil naik ke perut Maira.
"Kamu yakin sayang? "
"Masih yakin selama cinta mu masih kamu berikan untuk ku sayang."
Joanna lalu mengecup Bibir Maira dengan hangat sambil mengangkat tangan Maira ke atas kepala Maira. Joanna membuka belahan paha Maira dan masuk ke dalamnya. Mengecup seluruh tubuh atas Maira dan meninggalkan bekas di bagian Dada Maira.
15 menit kemudian. Setelah semuanya dibuka Joanna dan hanya meninggalkan Pakaian dalam mereka saja.
"Kita lakukan kembali sayang." Menarik Pakaian dalam Maira ke bawah.
"Ham auh ah. "
Maira mendesah kembali saat Joanna mengangkat Kakinya dan mendorong rudal itu ke dalam dengan pelan dan penuh kebahagiaan. Joanna meninggalkan sedikit di luar dan menggerakkan pelan pelan agar Maira tak terlalu kesakitan. Joanna meremas Gundukan di atas dengan dua tangannya, sementara Bibirnya setia pada leher Maira yang sudah memerah penuh bekas.
Saat Maira sudah mulai tenang, Joanna mendorong habis hingga terbenam seluruhnya dan membuat Maira mendesah dan nafasnya tersengal. Joanna melakukannya dengan Rapi dan memuaskan. Maira merasakan bahagia dan tersenyum puas saat Joanna menggerakkan secara cepat rudal gedenya.
"Ah huh gede mas."
"Haha sayang enak kan sayang." Mengecup leher Maira yang masih tertinggal.
Ah ah ah ham ham huh huh sudah mas aku nggak kuat.
__ADS_1