Apa Salahku Ibu?

Apa Salahku Ibu?
bab 19


__ADS_3

" kok malah bengong,?" tanya seorang gadis yang Nirmana tahu, bernama Marissa.


Nirmala menggandengkan kepalanya, Seraya tersenyum tipis." nggak papa kok, aku hanya merasa terharu saja," jawabnya Seraya menusuk setitik air mata yang jatuh di pelupuk matanya.


Hal itu membuat Marisa yang ada di seberang sana, terkekeh pelan. Tak lama kemudian, dua orang lagi bergabung dengan Marissa, dalam video call.


hal itu semakin membuat Nirmala terharu." Kalian ngapain sih mau berteman sama gue, Nanti kalau Chatlyn marah gimana," tanya Nirmala yang masih merasa takut.


Mendengar hal itu, Marissa dan teman-temannya malah tertawa kecil." Kenapa kita harus takut, orang kita nggak ada hubungan apa-apa sama dia,?" tanya Marissa.


" bener tuh Nirmala, kita semua itu sebenarnya udah mulai males temenan sama Chatlyn," sahut seorang gadis tomboy bernama Agnes.


Nirmala yang mendengarnya menghela nafas panjang." ini bukan gara-gara aku kan?" tanya Nirmala merasa was-was.


karena Nirmala tahu, jika Agnes, Marisa dan Alexandra, adalah salah satu teman Chatlyn. ya walaupun ketika gadis itu, selalu diperlakukan tidak adil.


namun mereka masih selalu sabar dan terus mengalah. dan sekarang ini, mungkin kesabarannya telah diambang batas wajar.


mereka bertiga, memutuskan untuk keluar dari geng Chatlyn.


" tapi gue merasa takut kalau besok, gue bakal di labrak sama temen-temen lu yang lain." ucap Nirmala cemas.


" udah lu nggak usah khawatir, kita bertiga akan lindungin lu kok dari serangan Nenek Lampir Chatlyn." ucap Marissa.


" yap bener tuh lagian kita lebuh nyaman kok sama loe dari pada sama Chatlyn." ucap Agnes.


sementara Tuan Seno yang mendengarnya, hanya tersenyum Seraya menggelengkan kepalanya. laki-laki paruh baya itu, hanya menganggap ucapan teman- teman anaknya hanya Sekedar candaan Saja.


kemudian laki-laki paruh baya itu bangkit dari duduknya, dan melangkahkan kaki menuju keluar pintu.


" mau ke mana Pah,?" tanya Nirmala saat menyadari jika sang ayah akan pergi.


Tuan Seno yang mendengarnya, tersenyum tipis Seraya menutup ke belakang." Papa mau keluar sebentar, kamu lanjutin aja ngobrolnya sama temen-temen," jawab Tuan Seno.


setelah kepergian sang papa, Nirmala kembali melanjutkan obrolannya dengan teman-teman barunya.

__ADS_1


Sesaat dirinya mulai terdiam Seraya memperhatikan ketika teman barunya itu.


" Lu kenapa Nir?" tanya Agnes yang merasakan jika Nirmala dari Tadi hanya diam. Nirmala yang mendengarnya, seketika menggelengkan kepala.


" nggak papa kok, gue hanya berharap kalau kalian tulus berteman sama gue," jawab Nirmala Seraya tersenyum tipis.


" lu tenang aja kali Nir, kita bertiga itu tulus mau temenan sama lu," ucap Agnes Seraya menampilkan senyuman manis dan tulusnya.


sementara Nirmala, gadis itu hanya mengangguk saja Seraya mengulas senyum manis." Oh ya, lu Dapat nomor gue dari siapa?" tanya gadis cantik itu.


mereka bertiga sesaat Saling pandang seakan ingin mengatakan sesuatu." kita dapat dari Mahendra karena kita bilangnya mau minta maaf sama loe," jawab Marissa.


Nirmala yang mendengarnya hanya mengangguk tanda telah mengerti. Kemudian sesaat, Nirmala memandang tiga gadis cantik yang ada di depan.


" eh btw, kalian di tempat yang sama ya,?" tanya Nirmala yang baru menyadari jika latar belakang mereka itu sama persis, antara satu dengan yang lain.


mereka bertiga seketika tersenyum tipis." iya kita ada di tempat yang sama. sengaja aja kita pakai HP masing-masing. karena kita pengen leluasa aja ngobrol sama lu," sahutnya.


Setelahnya mereka kembali berbincang-bincang dan sesekali tertawa.


malam harinya, Nirmala kembali disambangi oleh Mahendra. seakan laki-laki itu tak mempunyai rasa lelah.


Sungguh Nirmala hanya menganggap Mahendra sebagai teman dan Malaikat penolongnya saja di saat dirinya mengalami tindakan perundungan yang dilakukan oleh Chatlyn dan teman-temannya.


" Hai cantik aku datang lagi loh," apanya Seraya tersenyum tipis. hal itu tentu saja membuat Nirmala sedikit terkejut.


" kamu kok ada di sini lagi, bukannya aku udah,...." ucapan Nirmala berhenti saat melihat ekspresi wajah yang ditunjukkan oleh Mahendra.


" aku nggak peduli Sekuat apapun kamu Berusaha menjauh, sekuat itu pula aku akan mengejarmu," ucapnya penuh penekanan.


Setelahnya, Mahendra kembali duduk di kursi sebelah brankar.


Hening,...


Sejenak mereka sama-sama terdiam dan tenggelam dalam lamunan masing-masing.

__ADS_1


" kapan kamu akan pulang,?" tiba-tiba saja, melontarkan pertanyaan itu. Hal itu membuat Nirmala ketika menoleh ke arah samping.


" besok kayaknya, Emangnya ada apa kamu tanya seperti itu,?" tanya Nirmala.


" besok aku jemput ya," ucap Mahendra Seraya mengambil buah di atas nakas dan mengupasnya. kemudian memberikannya pada Nirmala.


" maaf, tapi aku nggak mau," ucapnya Seraya membuang muka. hal itu tentu saja membuat Mahendra menatapnya dengan tajam.


" bisa nggak sih, kamu tuh nggak usah nolak aku dulu, sekali aja kamu terima tawaran aku," ucapnya dengan rahang keras.


Cukup Sudah kesabaran Mahendra yang selalu ditolak oleh Nirmala. ada laki-laki itu juga tahu, jika Nirmala akan mempunyai rasa padanya. namun Entah mengapa semakin ditolak, Mahendra akan semakin merasa tertantang.


karena Sedari Dulu, dirinya selalu menjadi idola bagi setiap gadis. bahkan Chatlyn yang merupakan gadis terpopuler di sekolahan ini, merasa tertarik dengan pesona Mahendra.


Bisa-bisanya, di sekolah yang mempunyai standar kecantikan di bawah Chatlyn berani menolaknya.


memang Mahendra sempat mempunyai rasa pada gadis yang bernama Nirmala Albert itu. Namun, seiring dengan penolakan yang dilakukan Gadis itu berulang kali, membuat rasa marahnya meningkat.


sehingga rasa yang ada di dalam diri Mahendra, bukan lagi rasa sayang. Melainkan rasa Obsesi bercampur rasa sakit hati.


Sebenarnya Mahendra juga merasa bingung, ke mana larinya rasa sayang yang amat dalam yang pernah ia rasakan pada Nirmala, sehingga rasa itu kini, berganti menjadi rasa sakit.


"baiklah kalau begitu," ucap Nirmala pasrah. dan hal itu membuat Mahendra seketika tersenyum lebar.


" Oke kalau gitu, aku tunggu besok" ucapnya Seraya terlalu pergi. sementara Nirmala, gadis cantik itu hanya termenung di atas tempat tidur.


sebenarnya ia merasa aneh, karena tak merasakan ketulusan yang ditunjukkan pada Mahendra. berbeda saat Bani, memberikan perhatian padanya.


terasa begitu tulus dan sejuk di hati. seketika itu pula, Nirmala menggelengkan kepalanya. mengusir rasa aneh dan pikiran aneh yang menyelimuti hati dan letaknya.


" sadar Nirma, kau harus bisa merelakan kak Bani. karena memang, kau tidak pantas bersanding dengannya." gumamnya menguatkan diri.


Setelahnya, Ia kembali berbaring. Memikirkan persoalan hidupnya, hanya membuatnya pusing.


***jangan lupa tinggalkan jejak guys

__ADS_1


NB: jangan lupa mampir ya di karya temen author dijamin bagus dan ketagihan***



__ADS_2