Apa Salahku Ibu?

Apa Salahku Ibu?
bab 25


__ADS_3

Mendengar hal itu Nirmala segera mendunga menatap siapa yang tengah berbicara padanya. tak lama berselang, senyum tipis tersungging dari bibir mungilnya.


"Kak Marissa ngapain Di Sini?" tanya Gadis itu Seraya mengedarkan pandangan. menatap sekelilingnya.


Marisa yang mendengarnya, memutar bola mata malas. dirinya menjadi bingung kenapa bisa sayang dengan gadis polos ini.


" Emang mau ngapain lagi Nirmala kalau bukan mau ngajak kamu pulang?" tanyanya sedikit gemas.


hal itu berhasil membuat Nirmala nyengir kuda." Oh kirain mau cari wangsit," ucapnya Seraya tergelap tanpa suara.


itu berhasil membuat Marissa, dan teman-temannya terpana dengan apa yang mereka lihat. karena ternyata gadis yang sering mereka bully itu, sangat jenaka dan mempunyai sifat humoris.


" Ya ampun Nirmala, ternyata kamu punya sifat humoris juga ya," ucap Alexandra dengan tatapan masih tak menyangka.


" Iya gue kira dia itu cengeng," Timpal Agnes dengan tatapan masih menetap ke arah gadis kecil itu.


Sementara Nirmala, gadis kecil itu hanya tersenyum lebar." kalian nggak tahu aja aku udah sering mengalami seperti ini, Aku hanya mencari penghiburan saja" ucapnya dalam hati.


ya Nirmala hanya bisa bergurau untuk menutupi luka yang menganga dalam hatinya. akibat rasa sakit yang ditimbulkan oleh ibunya sendiri.


menurut dirinya, bullying yang dilakukan oleh Marissa dan teman-temannya, itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan perlakuan kasar yang dilakukan oleh Nyonya Kania.


Karena bagaimanapun, rasa sakit itu akan berkali-kali lipat rasanya jika dilakukan oleh orang terdekat.


" nggak perlu heran Kak, hidup cuma sekali kok Nikmati aja." ucapnya dengan ringan dan penuh dengan keceriaan.


Marisa dan teman-temannya menganggukkan kepala." Ya udah ayo kita pergi." ucap Alexandra Seraya menarik tangan Nirmala.


di sepanjang koridor sekolah, mereka berempat dan hampir selalu bercanda. Hal itu membuat segelintir siswa merasa iri.


siapa lagi jika bukan Catlyn dan yang lain. bahkan gadis blasteran itu, mengepalkan tangannya dengan erat.


" Awas lu ya Nirmala," ucapnya Seraya mengepalkan tangannya kuat.


tiba-tiba saja salah seorang temannya, memberikan Catlyn usul." udah lu tenang aja besok pagi kita kerja dia, kita akan pastikan gadis piyik itu tak akan pernah Tersenyum Lagi," ucap salah satu dari mereka.

__ADS_1


Mendengar hal itu, Catlyn tersenyum menyeringai. membuat siapapun yang melihatnya akan bergidik ngeri.


******


sementara itu di tempat parkir, seorang gadis cantik Tengah menjadi rebutan dari dua kubu. siapa lagi jika bukan Nirmala.


Gadis Remaja itu menjadi rebutan antara Marissa dan juga Mahendra. Hanya gara-gara, mereka ingin mengantarkan gadis cantik itu pulang.


" Hendra, Biarin aja Nirmala pulang sama gue. itu adik gue sekarang," ucap Marissa Seraya menarik tangan Nirmala dengan cukup kuat.


" enak aja, Nirmala itu pulang sama gue, itulah gue udah kenal sama orang tua Nirmala atau enggak," ucap Mahendra masih sama-sama bersikukuh.


sementara Nirmala yang tengah menjadi bahan tarik tambang itu, hanya bisa memandang dua orang yang ada di samping kiri dan kanannya dengan ekspresi wajah bingung.


tiba-tiba saja, ada sebuah mobil mewah yang melintas di depan gerbang sekolahnya. ketika itu pula, Nirmala memiliki ide. karena dia tahu siapa yang menaiki mobil itu.


" Kak Bani!!" teriaknya lantang. contoh saja, hal itu membuat mereka seketika terdiam.


dan disaat mereka tengah tertegun dengan aksi Nirmala, secepat kilat hal itu dimanfaatkan oleh gadis cantik itu.


dengan segera, Nirmala berlari ke arah luar pagar sekolah. dan menghampiri mobil Bani." Aku ikut mobil Kak Bani aja ya dadah kalian," capnya Seraya Melambaikan tangan dan segera masuk.


" ini semua gara-gara lu tau nggak," ucap Marissa Seraya menunjuk wajah laki-laki yang ada di depannya.


" enak aja, ini juga kan semua gara-gara lo," ucap Mahendra yang tidak terima disalahkan.


"Dasar buaya" gumam Marissa Seraya berlalu pergi dari sana. dan segera naik ke dalam mobilnya. begitupun juga dengan Mahendra, laki-laki itu segera menaiki kuda besi kesayangannya.


Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang menatap kejadian itu dengan tatapan penuh dengan amarah dan kebencian.


siapa lagi orangnya jika bukan Catlyn. Gadis cantik berambut curly itu. Seakan rasa amarahnya telah meluap-luap hingga ke ubun-ubun.


" Tenangkan dirimu Catlyn, besok kita akan memberi pelajaran yang lebih perih dari apa yang dia buat hari ini," ucap salah satu dari teman Catlyn.


****

__ADS_1


Sementara itu di dalam mobil, Bani Tengah menatap gadis yang ada di sampingnya itu dengan tatapan bingung.


" Kenapa Nirma,?" tanya laki-laki itu dengan ekspresi wajah yang keheranan.


hal itu tentu saja, membuat Nirmala seketika menoleh ke arah samping. di mana Bani Tengah menatapnya, dengan tatapan intens.


Deg


Deg


seketika, jantungnya berdegup dengan kencang saat menyadari jika jarak di antara mereka begitu dekat. bahkan Nirmala bisa merasakan hembusan hangat dari dokter muda itu.


" ya Allah tolongin Nirmala," cerita sekuat tenaga. namun sayangnya, suara jeritanya itu, tak akan pernah sampai ke telinga Bani.


karena Nirmala menjerit hanya dalam hatinya. mana mungkin gadis kecil itu berani bertingkah seperti itu. dinginnya menggelengkan kepala cukup kuat.


untuk mengusir rasa aneh dalam hatinya. karena dirinya sadar, sampai kapanpun tidak akan pernah layak bersanding dengan laki-laki yang ada di sampingnya itu.


Karena di samping dirinya yang masih berusia 15 tahun, dirinya juga merasa banyak orang lain. yang berharap menjadi bagian dari keluarga seorang Arbani.


" hei kenapa kau melamun,?" tanya dokter Bani Seraya Melambaikan tangan di depan wajan Nirmala.


seketika itu pula, Gadis itu segera tersadar dari lamunannya.


" eh kak Bani nggak apa-apa kok," ucapnya sedikit tergagap. Kemudian kembali memperbaiki posisi duduknya.


setelah hampir kurang dari 15 menit, Nirmala dan dokter Bani, telah sampai di depan komplek rumah gadis itu.


" Makasih ya Kak," ucapnya Seraya hendak membuka pintu mobil itu.


Namun ternyata tangan dokter Bani, ternyata lebih cepat. laki-laki itu segera menarik tangan biarlah. hingga gadis itu, jatuh dalam pelukan Bani.


sejenak mereka saling berpandangan. saling mengunci dengan tatapan yang sama-sama memuja.


namun dengan segera, Nirmala memalingkan wajahnya. saat dirinya tersadar dengan apa yang jadi itu lakukan.

__ADS_1


" eh Kak maaf ya," ucapnya Seraya mendorong tubuh Arbani. Arbani yang menyadari hal itu tersenyum tipis.


karena laki-laki itu sempat menangkap sorot mata yang berbeda dalam mata indah Nirmala. hal itu semakin yakin jika gadis yang ada di apanya itu juga memiliki rasa yang sama padanya.


__ADS_2