Apa Salahku Ibu?

Apa Salahku Ibu?
bab 30


__ADS_3

tiba-tiba saja, Nyonya Kania teringat akan perkataan dari salah satu pelayan yang baru saja datang ke rumahnya itu.


dengan segera wanita cantik itu, melangkahkan kakinya menuju ke arah lemari. dan segera mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur.


Setelahnya, Nyonya Kania duduk di kursi panjang sebelah ranjangnya. di mana sang suami kini tengah fokus dengan laptop di depannya.


Dirinya ingin memastikan apa yang dikatakan oleh pelayan itu benar atau salah. benar itu utusan dari sang suami, atau hanya gertakan Semata.


"emm Pah mama mau bicara," ucapnya Seraya meletakkan jarinya di atas laptop sang suami. hal itu tentu saja membuat Tuan Seno, seketika menoleh.


" Ada apa Mah, Kenapa ekspresi mama kelihatan Serius gitu,? apa ada masalah di rumah?" tanya Tuan Seno bertubi-tubi.


Hal itu membuat Nyonya Kania bersorak gembira di dalam hatinya. karena ia mengira, jika suaminya pasti akan membela dan langsung akan memecat para pelayan sialan itu.


tiba-tiba saja, ekspresi wajah Nyonya Kania berubah 180 derajat. yang tadinya cerah, menjadi sangat murung. bahkan cenderung mengembun.


sontak saja, hal itu membuat tuan Seno menjadi kebingungan sendiri. laki-laki itu kemudian mengusap pundak istrinya untuk memberikan rasa tenang.


" Ada apa Mah.?" tanya Tuan Seno dengan ekspresi wajah khawatirnya.


dengan segera, Nyonya Kania mengangkat wajahnya memperlihatkan ekspresi wajah sendu pada sang suami.


" Pah Apakah para pelayan itu bisa dipecat?" dengan tanpa basa-basi Nyonya Kania mengutarakan hal itu.


tentu saja, ucapan dari sang istri itu membuat Tuan Seno mengernyitkan keningnya. karena merasa aneh dengan tingkah istrinya itu.


" Memangnya kenapa Mah, bukannya mereka dari organisasi terpercaya?" tanya Tuan Seno dengan ekspresi wajah khairanan.


" Entahlah Pah tapi, mama merasa tidak cocok aja dengan mereka," ucapnya dengan memasang wajah malas mungkin.


Agar sang suami percaya dan segera melaksanakan perintahnya. Namun, ternyata responnya jauh dari ekspektasi Nyonya Kania.


" Maaf mah tapi, ini permintaan dan permohonan dari Delisa, dia bilang supaya bisa tenang meninggalkan adiknya di rumah sendirian. Papa juga tidak tahu apa maksudnya" ucap Tuan Seno dengan ekspresi wajah bingung.


karena memang, selama ini laki-laki paruh baya itu terlalu sibuk untuk mengurus bisnisnya. Apalagi melihat dan mendengar perhatian yang ditunjukkan oleh sang istri.


hal itu tentu saja membuat Tuan Seno, merasa aman meninggalkan Nirmala sendiri di rumah ini. Karena rasa percaya diri yang terlalu tinggi yang ditunjukkan oleh Nyonya Kania.

__ADS_1


Mendengar hal itu, Nyonya Kania tentu saja meradang. dirinya tak menyangka, pengaruh yang diberikan oleh Nirmala pada anak kesayangannya sudah sebesar ini.


tiba-tiba saja, tangannya mengepal kuat di bawah kursi. Kebenciannya terasa sudah sampai keubun-ubun.


" Awas saja kau Nirmala kurang ajar" ucapnya dengan memalingkan wajah. Menyembunyikan kekesalannya.


****


sementara itu di dalam kamarnya, tampak Nirmala Tengah duduk di meja belajarnya. terlihat Gadis itu sangat sibuk. hingga tak menyadari ada panggilan masuk di dalam ponselnya.


Hingga ringan ponsel ketiga, Nirmala baru menyadari saat melihat lampu ponselnya berkedip. dengan segera, gadis cantik itu mengangkatnya


seketika itu pula, dirinya merasa sangat tercengang. saat mendapati ada panggilan masuk dari Mahendra, Marissa, Agnes dan Alexandra.


segera Gadis itu menggabungkan semua panggilan dalam ponselnya. dan Tak lama kemudian muncullah wajah semua teman-temannya


" Halo Nirmala, lu tadi pulang sama siapa? kok lo ninggalin kita sih?" pertanyaan bertubi-tubi itu datang dari Marisa.


" Iyan nih Nir gue sampai berantem tau nggak sama nih nenek lampir Eh tau-taunya lo malah ngilang" ucap Mahendra menggerutu.


" Apa lo bilang,?" tanya Marisa dengan nada menyeramkan.


Hal itu, bukannya membuat Mahendra berhenti mengejeknya malah justru semakin gencar mengatai gadis itu.


" ye emang bener kan kalau Lampir ya masa gue mau bilang gue berantem sama Bidadari, yang ada lo malah ke gr-an lagi." ucapnya sinis.


hal itu tentu saja membuat Marissa yang dikatakan begitu, tak terima. dan tiba-tiba,...


Bugh


satu pukulan mendarat mulus di perutnya Hal itu membuat Mahendra memetik kesakitan." kau sakit kali ya, mukul orang sembarangan" ucapnya Seraya mengadu.


bukannya merasa kasihan, Marissa justru tertawa terbak Seraya menjulurkan lidahnya." hahaha wlee rasain memang enak." ucap Marissa Seraya meledek laki-laki itu.


sementara Nirmala dan yang lainnya, hanya bisa menjadi penonton saja. Alexandra dan Agnes hanya menggelengkan kepala.


Karena memang pemandangan seperti ini sudah terjadi sejak lama. bahkan sejak mereka masih bergabung dalam pertemanan dengan Catlyn.

__ADS_1


" Eh kalian kok berantem, memangnya Kalian ada tempat yang sama ya?" tanya Nirmala dengan ekspresi wajah polosnya.


hal itu sukses membuat semua orang terdiam. termasuk juga Marisa dan Mahendra yang sedari tadi sibuk berdebat.


" ya salam, Kenapa kita punya teman yang polos banget sih." ucapnya Seraya menepuk kening.


" ya makhluk mu aja sih Mar, dia kan paling muda di sini. pikirannya masih paling polos" teletub Alexandra dengan terkekeh pelan.


hal itu tentu saja membuat Nirmala yang menjadi objek perbincangan, hanya terdiam Seraya menggaruk tengkunya yang tidak gatal.


" kalian Ngomongin apa sih, Nirma nggak paham ah," ucapnya Seraya meletakkan ponselnya di tumpukan buku dengan posisi berdiri.


sehingga dirinya masih bisa mendengar dan melihat aktivitas teman-teman barunya itu. sementara dirinya sendiri, fokus untuk belajar.


" Nirmala besok berangkat sama aku ya," ucap Mahendra menawari tumpangan.


belum sempat, Nirmala berucap, Marissa sudah terlebih dulu menyela perkataan gadis itu. sehingga Nirmala kembali bungkam.


" nggak, enak aja. besok itu, Nirmala harus sama gue." ucapnya dengan menggebu-gebu.


" enak aja Nirmala itu sama gue" ucap Mahendra tidak mau kalah.


dan akhirnya, perebutan pada Nirmala tak terelakkan lagi. mereka sama-sama sengit mendebatkan hal yang tidak pasti itu.


sementara Nirmala hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Melihat teman-teman barunya itu. dirinya juga merasa bingung harus memihak kepada siapa.


" stop deh kalian berantem terus ih," suara Alexandra sedikit meninggi. sontak saja, Hal itu membuat Mahendra dan Marissa terdiam seketika.


" Iya ini kalian dapat terus tau nggak, lebih baik kita tanyakan saja semua pada Nirmala." Timpal Agnes.


Mahendra dan Marissa akhirnya mengangguk setuju. memang lebih baik seperti itu daripada mereka berdua, berdebat hal yang tidak jelas.


" Nirmala sekarang, kamu harus pilih mau ikut Mahendra atau Marissa besok" ucap Agnes Seraya menatap ke arah Nirmala.


Sejenak, Nirmala merasa bingung. Mengapa semua menjadi rumit seperti ini. Apalagi, merebutkan dirinya yang tidak penting.


See you jangan lupa tinggalkan jejak ya guys

__ADS_1


__ADS_2