Apa Salahku Ibu?

Apa Salahku Ibu?
Bab 63


__ADS_3

Mendengar hal itu, Delisa tersenyum dengan penuh kemenangan. dan dengan segera, wanita itu beranjak dari duduknya. kemudian, melenggang, melangkahkan kakinya menuju ke arah dapur.


" buatkan saya minuman teh seperti biasa." ujar Delisa dengan nada dasarnya. padahal dulu, Delisa adalah sosok wanita yang sangat ramah. apalagi terhadap asisten rumah tangganya.


Namun kini, keramahan serta kelembutan wanita itu seketika sirna. dan membuatnya menjadi wanita yang sangat garang dan juga pemarah. Bahkan, Delisa yang baru menempati rumah mertuanya itu seringkali membentak dan memarahi asisten rumah tangga mereka.


Mungkin itu dilakukan karena perlakuan Bani padanya. Seakan-akan, ada orang lain yang merasuki dirinya. hingga membuatnya, terlihat seperti orang asing.


setelah selesai membuat minuman, pelayan itu memberikan secangkir Kopi pada Delisa. dan dengan segera, Delisa menerimanya.


Setelahnya, segera memasukkan sebuah serbuk ke dalam minumannya. setelah selesai, Delisa menghampiri pelayan itu kemudian memberikannya.


" Tolong kamu antar ini ke ruangan suami saya." ucapnya Seraya berlalu dari sana. Namun sesaat langkah Delisa terhenti saat mendengar suara dari seseorang.


" bilang juga itu dari saya." ucap Nyonya Ariska yang ternyata sudah berada di sana sedari tadi. Entah apa yang merasuki misi kepala wanita paruh baya itu. Hingga membuatnya rela berkorban.


Padahal, dulunya Nyonya Ariska tidak terlalu menyukai Delisa. karena wanita paruh baya itu, lebih menyukai Nirmala. Bahkan, rasa sayang yang ditunjukkan oleh Nyonya Ariska kepada Nirmala itu sangat besar. hingga seringkali membuat Arbani yang sebagai anak kandungnya sendiri saja, merasa iri dengan besarnya kasih sayang yang diberikan ibunya.


Mungkin itu juga menjadi penyebabnya Karena rasa sayang yang berlebihan, membuat Nyonya Ariska akhirnya kehilangan Kendari. dan saat ini, dirinya sangat-sangat membenci gadis yang bernama Nirmala itu.


Memang benar apa kata pepatah. jangan pernah berlebihan dalam menyikapi sesuatu. karena jika tidak sesuai dengan ekspektasi, maka kesakitan lah yang akan didapat.


Delisa yang mendengar penuturan dari ibu mertuanya, seketika tersenyum tipis. kemudian, segera menghampiri wanita paruh baya itu.


" Terima kasih mah, Mamah memang benar-benar ibu yang baik." ucap Delisa tersenyum manis. senyuman itu, dibalas oleh Nyonya Ariska dan mengurus kepala menantunya itu dengan sayang.


" sama-sama sayang, Mama tidak akan pernah membiarkan arbani akan jatuh ke dalam pelukan wanita itu lagi." ucapnya Seraya menatap tajam entah pada siapa tatapan itu ditujukan.


Sontak saja, Hal itu membuat Delisa yang mendengarnya, seketika tersenyum penuh kemenangan.

__ADS_1


Kemudian, mereka berdua melangkahkan kakinya menuju ruang keluarga. di mana saat ini, Tuan Burhan Dewana telah duduk manis bersama dengan Arbani.


Terlihat mereka Tengah mengobrol ringan dan sesekali tertawa pelan. namun, interaksi mereka segera berhenti saat mendapati Nyonya Ariska dan Delisa datang menghampirinya.


Mendadak, wajah dari Arbani, seketika mengeras dengan tatapan tajam yang ditujukan pada Delisa. Entah mengapa, Arbani masih belum bisa menerima wanita itu.


" Bani, Delisa, kalian istirahat saja. mama sama papa juga mau istirahat." ucap Nyonya Ariska Seraya menarik tangan sang suami.


Awalnya, Tuan Burhan menolak saat istrinya menarik tangannya. namun akhirnya tak berkutik saat mendapati tatapan dari Nyonya Ariska.


Sepeninggal kedua orang tuanya, Arbani masih saja terdiam dan enggan untuk menatap Delisa. hal itu tentu saja membuat wanita itu, seketika meradang dan menatap ke arah sang suami.


" kamu benar-benar keterlaluan Mas, apa sebenarnya kesalahanku, sehingga membuatmu tak pernah menyentuhku." ucapnya dengan suara bergetar menahan tangis. karena jujur, Delisa sudah mulai merasa lelah dengan Sikap yang ditunjukkan oleh suaminya itu.


" kamu tidak salah, aku yang bersalah. Karena telah menikahimu dalam keadaan tersulit emosi." ucapnya Seraya menghela nafas panjang.


Arbani yang mendengarnya, seketika menoleh dan menatap wajah wanita yang kini telah menjadi istrinya itu." Sayangnya, aku tidak seperti itu. dan aku memutuskan, kita akan secepatnya berpisah." ucapnya Saya beranjak dari tempat duduk.


Mendengar ucapan dari sang suami, membuat Delisa makin merasa geram. Tangannya, mengepal cukup kuat menahan gejolak yang ada di dalam dadanya.


" Baiklah kalau begitu, jangan salahkan aku jika aku berbuat nekat." gumamnya dalam hati Seraya menatap nanar kepergian sang suami.


****


Sementara itu, di tempat lain, tepatnya di kediaman keluarga Wijaya, suasana tampak sedikit tegang. karena sedari tadi, Nirmala sama sekali tidak mengeluarkan suaranya.


" sayang Apa kau sakit?" tiba-tiba saja Nyonya Calista datang menghampiri menantunya dan duduk di sampingnya.


Nirmala yang mendengar itu, seketika menoleh dan menatap lekat ke arah wajah sang ibu mertua. Kemudian, dengan lemah menggelengkan kepala.

__ADS_1


" aku nggak papa kok Bu, Cuma agak lemes aja." ucapnya tersenyum tipis. Walaupun, dalam hati Nirmala, gadis itu sangat tersiksa.


Bukan Tanpa Alasan Nirmala menutupi semua masalah yang tengah ia hadapi. Namun, dirinya tidak ingin Ibu mertuanya membenci dirinya seperti yang lain. Untuk itulah, Nirmala memutuskan untuk menyimpan semuanya rapat-rapat.


" kau habis menangis nak?" tanya Nyonya Calista yang baru saja menyadari raut wajah menantunya itu. Seketika itu pula, Nirmala menggelengkan kepala.


" B,u kalau aku ada salah, tolong maafkan aku." ucapnya dengan air mata berlinang. hal itu semakin membuat Nyonya Calista yang melihatnya, semakin panik.


" Ya Tuhan, sayang kau kenapa? apa harus memanggil Mahendra?" tanya Nyonya Calista sembari beranjak dari duduknya.


Namun, dengan segera Nirmala menggelengkan kepala Seraya menarik tangan Ibu mertuanya agar kembali duduk di sampingnya." Tidak usah Bu, aku tidak apa-apa." ucapnya dengan mengusap air mata.


Hal itu membuat Nyonya Calista, seketika terdiam. karena memang, wanita paruh baya itu merasa jika menantunya itu, Tengah menyembunyikan sesuatu.


" Ya sudah kalau begitu, ibu keluar dulu ya, sepertinya papamu baru saja pulang." ucapnya Seraya memeluk tubuh mungil Nirmala.


Kemudian, berjalan keluar dari kamar Nirmala. tepat di depan pintu, Nyonya Calista melihat Mahendra Tengah berdiri di ambang pintu.


" Apa yang kau lakukan pada menantuku?" tanya Nyonya Calista tanpa basa-basi. seketika itu pula, Mahendra menundukkan kepala. karena merasa takut akan kemarahan dari ibunya itu.


" jawab!" bentaknya pelan namun syarat akan penekanan. seketika itu pula, Mahendra melangkah mundur.


" Maafkan aku Bu, aku tidak sengaja menyakitinya." ucapnya Lirih dengan raut wajah sedihnya.


Bugh


Seketika itu pula, pundak Mahendra ditinju oleh Nyonya Calista dengan begitu kuat. Hal itu membuat Mahendra seketika meringis kesakitan." dasar kau ya! jangan salahkan Nirmala jika dia meninggalkanmu!" ucapnya menatap tajam ke arah sang Putra.


Seketika itu pula, tubuh Mahendra bergetar hebat karena menahan rasa takut.

__ADS_1


__ADS_2