
Hari ini Nirmala dan Mahendra berencana ingin membeli rumah baru. karena mereka, ingin belajar mandiri tidak tergantung lagi kepada ibu dan Papanya.
" Kak kita mau pindah ke mana sih?" tanya Nirmala sedikit sendu. karena memang, dirinya sudah merasa nyaman berada di tengah-tengah keluarga dari Wijaya itu.
Sebenarnya Calista pun juga sedikit keberatan. saat mendengar, Mahendra berniat untuk memisahkan diri dari mereka.
" Mahendra, ibu mohon sama kamu tolong jangan bawa menantu kesayangan ibu. kalau kamu mau pergi silakan pergi Tapi tolong jangan bawa Nirmala." ucap Nyonya Calista saat mereka telah menikmati makan siang.
Memang rencana itu akan terlaksana sore menjelang malam. saat Mahendra sudah kembali dari pekerjaannya.
Mendengar hal itu, Mahendra yang dari tadi fokus kepada makanannya, seketika menduga menatap sang ibu.
" mana bisa begitu sih Bu, Ibu ini ada-ada aja." ucap Mahendra Seraya menggelengkan kepala. kemudian melanjutkan acara makannya.
Mendengar jawaban dari putranya, Nyonya Calista hanya bisa menghela nafas panjang. kemudian melanjutkan makanannya dengan ekspresi wajah cemberut dan juga seperti tak selera.
Hal itu membuat Nirmala yang melihatnya, merasa tidak enak. Kemudian, tangannya meraih tangan Ibu mertuanya Seraya tersenyum tipis.
" Ibu tenang saja, nanti kalau Kak Mahendra berangkat kerja, Nirmala akan langsung ke sini Kok temui ibu." ucapnya Seraya tersenyum tipis.
hal itu seketika membuat Nyonya Calista yang awalnya cemberut, seketika itu juga berubah menjadi sangat ceria dan berbinar-binar. hal itu sampai membuat Tuan Adi Wijaya dan juga Mahendra yang melihatnya, saling tatap dan kemudian tersenyum tipis.
Tingkah Nyonya Calista sudah seperti anak kecil yang baru saja di janjikan oleh sang ibu untuk membeli mainan. sangat lucu dan menggemaskan sekali bukan,
Nirmala yang melihatnya, juga ikut tertawa. kemudian mereka kembali menyelesaikan acara makan siangnya. Memang keluarga mereka menerapkan Sesibuk apapun harus menyempatkan diri untuk makan di rumah.
Karena menurut Nyonya Calista makanan di rumah itu lebih higienis daripada makanan di luar. dan yang lebih penting, makan di rumah dapat mempererat tali silaturahmi dan keakraban antar keluarga satu dengan yang lain.
Mahendra dan Tuan Adi Wijaya merasa tidak keberatan jika mereka harus bolak-balik dari kantor ke rumah untuk makan siang ataupun sarapan.
__ADS_1
*****
Selesai makan siang, Tuan Adi Wijaya dan juga Mahendra Langsung kembali ke kantor. Sementara Nyonya Calista dan juga Nirmala memutuskan untuk duduk-duduk saja di tepi kolam renang Seraya berbincang-bincang.
" Nirmala, kata Mahendra kamu bekerja di restoran milik Marissa ya,?" tanya nyonya Calista Seraya menatap ke arah kolam renang.
Nirmala yang mendengarnya, seketika menoleh ke arah Ibu mertuanya." Iya Bu, tapi kata Kak Mahendra setelah kita nikah aku malah nggak boleh kerja." ucapnya tertunduk lesu.
Nyonya Calista yang mendengarnya, menatap lekat ke arah menantunya itu." loh kan memang seharusnya seperti itu, suami yang bekerja istri yang di rumah. Lagi pula, gaji Mahendra dari bekerja di perusahaan Papanya itu lebih dari cukup untuk menghidupi kamu sayang." ucapnya Seraya mengusap rambut Nirmala.
Nirmala yang mendengarnya, seketika mendengar menatap Ibu mertuanya." bukan masalah uangnya Bu, aku nggak masalah dikasih berapapun. karena aku tipe orang yang tidak mau ambil pusing soal uang. yang penting cukup untuk kebutuhan sehari-hari saja itu sudah lebih dari cukup." ucapnya tersenyum tipis.
"Lalu, kalau bukan masalah uang terus masalah apa?" tanya Nyonya Calista yang merasa heran.
" Hihihi aku ingin sedikit ada kebebasan untuk aku dan teman-temanku Bu, mereka adalah salah satu orang yang menolongku saat aku di bully dulu." ucapnya tersenyum simpul.
Tok tok tok
Saat mereka asyik berbincang-bincang, terdengar suara pintu yang diketuk dari luar. Hal itu membuat Nyonya Calista, segera bangkit dari duduknya kemudian melangkah menuju ke arah pintu utama.
Ceklek
pintu dibuka dan seketika itu pula, menampakan 3 orang gadis cantik yang berdiri di hadapan Nyonya Calista dan juga Nirmala ya memang telah berdiri di belakang Bu mertuanya.
" surprise!" teriak mereka bertiga Seraya merentangkan tangan kepada Nirmala. hal itu langsung disambut oleh Nirmala dan mereka kini telah berpelukan seperti Teletubbies.
" kalian kok ke sini? Emangnya nggak kerja?" tanya Nirmala Seraya menatap ke arah Marissa dan teman-temannya secara bergantian.
" kerjalah kan kerjaan kita cuma mengawasi para karyawan." ucap Marissa tersenyum simpul. kemudian beralih menatap nyonya Calista dan kemudian menyalaminya." siang tante" Sapa Marisa ramah.
__ADS_1
Plak
bukannya menjawab, Nyonya Calista justru menepuk bahu Marissa hingga membuat si pemilik merintih kesakitan.
" kenapa kamu nggak pernah datang ke sini lagi? Hah! mau Tante kutuk jadi batu?" tanya Nyonya Calista Seraya melotot tajam ke arah gadis itu.
Mendengar hal itu, Marissa seketika mencebikkan bibir karena merasa kesal."ish Tante mah, Marisa kan sibuk," gerutunya Seraya mengerucutkan bibirnya.
Hal itu membuat Nirmala dan kedua temannya yang melihat itu, hanya terkikik geli. mereka akhirnya masuk ke dalam rumah. dan duduk di sofa ruang tamu.
" lu nggak ada niatan untuk kerja lagi gitu Nir?" tanya Marisa Seraya menatap ke arah Nirmala.
Nirmala yang mendengarnya hanya tersenyum tipis. sementara Nyonya Calista, masuk ke dapur untuk membuatkan minuman." dia dilarang kerja sama suaminya" ucapnya Seraya duduk di samping Nirmala.
Hal itu membuat Marisa yang mendengarnya seketika mendegus kesal. " hais kenapa juga tuh cowok sensi banget, lagian kan Nirmala di sana kerja. Masa di rumah terus yang ada bete itu anak " ucapnya Seraya menatap ke arah Nirmala.
Nyonya Calista yang mendengarnya, sebenarnya merasa kasihan pada menantunya itu. karena memang, di sini Nirmala tidak mendapatkan teman sebayanya.
"Nanti coba Tante ngomong sama Mahendra" ucap Nyonya Calista saat mereka telah sama-sama terdiam.
Marissa dan Nirmala yang mendengarnya, seketika menganggukkan kepala dengan antusias. dan akhirnya mereka semua berbincang-bincang hingga sore hari. dan setelah itu, Marissa dan kedua temannya berpamitan untuk pulang.
****
Sementara itu, di kediaman keluarga Deewana tampak seorang laki-laki baru saja pulang dari bekerja. dan laki-laki itu langsung saja masuk ke dalam kamar tanpa menyapa istri dan ibunya.
hal itu tentu saja membuat istrinya menjadi sangat kesal. Karena, Sudah hampir dua minggu saat mereka menikah, suaminya itu belum pernah menyentuhnya sama sekali.
" mah ini gimana?" tanya Delisa dengan tertunduk lesu. Hal itu membuat Nyonya Ariska yang melihatnya, segera menghampiri dan memeluk menantunya itu." Tenanglah Sayang, kita pasti akan mendapatkan jalan keluarnya." ucapnya tersenyum tipis
__ADS_1