Apa Salahku Ibu?

Apa Salahku Ibu?
Bab 60


__ADS_3

siang harinya, di saat semua kantor sedang waktunya makan siang, restoran milik Marissa begitu ramai. Hal itu membuatNirmala yang memang sedang berada di sana, Tengah tersenyum bahagia. Karena akhirnya dirinya bisa merasakan keramaian di tempat umum seperti ini. karena Sejujurnya, dirinya merasa begitu bosan berada di rumah. tak ada teman yang bisa diajak bertukar pendapat.


Marissa yang melihat Nirmala tampak terbengong dengan tersenyum sendiri, segera menghampiri gadis yang sudah tidak gadis lagi itu.


" ngapain senyum-senyum,?" tanya Marissa Seraya menepuk pundak Nirmala.


sontak saja, Hal itu membuat Nirmala seketika tersingkat kaget." Astagfirullah, Kak Marissa ngagetin aja sih." ucapnya sedikit mengomel Seraya mengelus dada.


Hal itu membuat Marisa yang mendengarnya, seketika tersenyum tipis. karena selama mereka berteman, Marisa tak pernah melihat Nirmala menggombal seperti ini.


Sementara Nirmala yang mendapati Marissa hanya tersenyum tipis, seketika menghentak-hentakkan kakinya karena merasa sedikit kesal dengan wanita itu.


Hal itu justru menjadikan Marissa tertawa lepas. hingga membuat sebagian pengunjung yang ada di sana, juga ikut tertawa melihat tingkah laku gadis bersuami itu.


" udah ayo kita ke dalam. aku sudah buat makanan kesukaan kamu." ucap Marissa Seraya menarik tangan Nirmala.


Hal itu membuat Nirmala seketika mengangguk setuju dan mengikuti langkah dari Marissa. Sesampainya di sana, Marissa dan Nirmala segera duduk bersebelahan.


Mereka berdua asyik menikmati makanan yang baru saja dibuat oleh pemilik restoran itu."emm, ini enak banget Kak. nanti kapan-kapan, Ajari Aku cara membuat makanan ini ya." ucap Nirmala Seraya memasukkan potongan makanan itu ke dalam mulutnya.


" mau belajar jadi istri yang baik ya," ledek Marissa Soraya tersenyum tipis pada gadis itu. seketika itu pula, Nirmala menundukkan kepala karena merasa malu dengan ucapan sahabatnya itu.


Memang, Nirmala itu adalah gadis yang pemalu. sedikit saja digoda, makan wajahnya akan bersemu merah bak kepiting rebus.


Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang menatapnya dengan tatapannya sulit diartikan dari balik pohon yang ada di samping restoran itu. Memang, restoran Marisa masih sangat Asri. karena memang, masih terdapat pepohonan yang begitu rindang. membuat para pengunjung itu betah untuk makan di tempatnya.


Kebetulan, ruang dapur Marissa berhadapan langsung dengan kebun jagung miliknya yang sengaja dirinya beli untuk stok bahan makanan agar tidak harus keluar uang lagi untuk membeli bahan makanan itu.

__ADS_1


" Tunggu saja bocah ingsan, nanti kau akan merasakan sendiri. apa yang akan aku lakukan." Ucap orang itu Seraya melangkah pergi dari sana.


***


Setelah selesai menikmati makanan di dapur, Nirmala dan Mariska bergegas menuju ke depan restoran. dan di sana, Nirmala tertegun sesaat karena melihat sesuatu yang membuat jantungnya berdegup dengan kencang.


Bagaimana tidak, di depan sana telah berdiri Arbani lengkap dengan setelan jas dokternya. itu menandakan bahwa laki-laki itu masih melakukan pekerjaannya.


Lalu, untuk apa laki-laki itu datang kemari. jangan bilang dirinya ingin mendekati Nirmala lagi. Sejujurnya, Nirmala sudah merasa lelah karena terus-menerus disalahkan oleh keluarga Albert.


" mau apa kakak ke sini,?" tanya Nirmala dengan ekspresi wajah sedikit ketakutan. hal itu tentu saja membuat Arbani yang mendengarnya, tersentak kaget.


" Tentu saja aku kemari karena aku rindu padamu." ucapnya dengan enteng tanpa dosa. hal itu tentu saja membuat Marisa dan Nirmala yang mendengarnya, seketika Saling pandang.


" Dasar dokter gila!" maki salah satu wanita itu yang tak lain adalah Marisa. karena jika Nirmala, wanita itu tidak akan pernah berani untuk memaki seseorang.


Grep


Tiba-tiba saja tanpa basa-basi, dokter Arbani segera memeluk tubuh ramping dan kecil milik Nirmala. hal itu sentak saja membuat Nirmala dan juga Marissa, seketika merasa terkejut. dengan tindakan nekat yang dilakukan oleh dokter itu.


Untuk beberapa saat, Nirmala mematung dalam dekapan laki-laki itu. hingga sebuah usapan yang mendarat mulus di pipinya, membuat Nirmala tersadar.


Kemudian, dengan sekuat tenaga, Nirmala mendorong tubuh kekar itu. hingga akhirnya, tubuh dokter Arbani terlepas.


" kakak sudah gila!" Pekik Nirmala panik. karena dia baru saja menyadari jika dirinya sudah tidak single lagi. Mendadak, tubuh Nirmala sedikit menegang. Bagaimana jika adegannya tadi, direkam oleh seseorang, dan dikirimkan kepada suaminya.


Entah muncul dari mana pemikiran Nirmala yang seperti itu. Namun, saat ini dirinya benar-benar merasa takut.

__ADS_1


" lebih baik, Kakak sekarang segera pergi dari sini." ucapnya dengan nada sedikit meninggi. karena memang, dirinya merasa sangat ketakutan saat ini.


Hal itu membuat Arbani yang mendengarnya, seketika menuruti perkataan dari gadis yang ia cintai itu. laki-laki itu, segera melangkah pergi dari sana.


Setelah itu, Nirmala ambruk terduduk di sebuah kursi yang tidak ada pengunjungnya. karena memang hari sudah menunjukkan pukul satu siang. yang menandakan bahwa, jam makan siang sudah usai.


" Nirmala, kau tidak apa-apa?" tanya Marissa Seraya merangkul dan memeluk tubuh teman kecilnya itu.


Seketika itu pula, Nirmala menangis sejadi-jadinya. karena saat ini, dirinya benar-benar takut. jika adegan yang baru saja terjadi itu, direkam oleh seseorang dan disampaikan kepada suami dan keluarganya.


Rasanya, Nirmala belum siap jika harus kembali dibenci oleh seseorang. memang, hati dan tubuhnya begitu ringkih.


" kak aku takut, aku takut kalau tindakan yang baru saja terjadi itu, bisa sampai di tangan tak Mahendra. Aku tidak ingin mendapatkan musuh lagi Kak, huhuhu . hiks hiks hiks." ucapnya dengan tangis tersedu-sedu.


Tanpa Nirmala sadari, memang dari tadi ada orang yang memperhatikan kegiatan itu dari jauh. dan sepertinya, prasangka yang ditunjukkan oleh Nirmala itu benar.


" loe pasti akan segera habis Nirmala!" ucapnya Seraya menatap tajam ke arah Nirmala dan juga Marissa secara bergantian.


Setelahnya, orang yang memakai pakaian serba hitam itu segera terlalu dari sana. Padahal, hari begitu tarik. namun, orang itu masih nekat menggunakan baju yang serba hitam yang pastinya sangat panas itu.


****


Sementara itu di lain tempat, terlihat seorang laki-laki muda Tengah mematung di kursi kebesarannya. matanya tampak nanar melihat ke arah ponsel.


" Apa ini benar mereka,?" tanya laki-laki itu yang tak lain adalah Mahendra. Yap, baru saja, seseorang dengan nomor yang tak dikenal, mengirimkan sebuah video dan juga beberapa foto yang memperlihatkan Nirmala berpelukan dengan seseorang.


hal itu seketika membuat Mahendra yang melihatnya, seketika itu pula terbakar rasa api cemburu yang begitu kuat. hingga membuatnya, sedikit hilang kendali.

__ADS_1


Untungnya, Mahendra masih memiliki akal sehat yang masih berfungsi. dirinya akan mencari tahu alasannya.


__ADS_2