
Setelah memikirkannya dengan matang-matang, akhirnya Nirmala memutuskan untuk ikut ke pernikahan Arbani dan juga Delisa. Walaupun, Mahendra sang suami, Sudah beberapa kali mengingatkan Nirmala agar memikirkan tindakannya terlebih dahulu.
" Kak Mahendra, aku udah siap nih ayo kita pergi!" ucapnya Seraya tersenyum tipis. Mahendra yang mendengarnya, seketika menatap istri kecilnya itu tanpa kedip.
Bagaimana tidak, Nirmala yang ada di hadapannya itu sangat sempurna. dengan balutan gaun berwarna silver dan juga jepit rambut yang berwarna Senada.
Itu membuat penampilannya menjadi begitu memukau. hal itu sampai membuat Mahendra enggan untuk mengedipkan mata. dengan segera, laki-laki itu menghampiri dan langsung merengkuh pinggang Nirmala.
" Kau begitu sempurna," bisiknya tepat di telinga gadis itu. hal itu membuat Nirmala seketika tersipu malu.
gadis itu hanya bisa tersenyum tipis kemudian jemari lantainya mengelus rahang kokoh milik Mahendra." Makasih Kak, Tolong jangan berhenti untuk mengajariku dan membahagiakanku." ucapnya dengan nada Sendu.
Mahendra yang mendengarnya, seketika mengganggu Seraya membawa istrinya ke dalam dekapannya.
"pasti, Kau tidak perlu khawatir Sayang, tanpa diminta pun, aku akan selalu mengajarimu untuk membuka hatimu dan memasukkan Namaku seutuhnya dalam hatimu." ucapnya Seraya tersenyum tipis.
Mereka berdua kini saling tatap dan juga saling tersenyum tipis. Mengunci perasaan satu sama lain yang hadir dalam mata mereka.
"ekhem," tiba-tiba saja, terdengar seseorang berdehem dari belakang. hal itu seketika membuat Mahendra dan juga Nirmala seketika menoleh ke arah sumber suara.
Seketika itu pula, wajah Nirmala terasa memanas dengan warna kulit merah padam seperti kepiting rebus karena menahan malu. Kemudian, menyembunyikan wajahnya di dalam dada bidang sang suami.
" papa sama ibu ih, ganggu aja." gerutu Mahendra Seraya membawa Nirmala keluar dari dalam rumah. hal itu, mendapat kekehan kecil dan juga ledekan dari kedua orang tua itu.
" Dasar anak muda ini." gumamnya Seraya masih terkekeh kecil. Kemudian, mereka berdua segera mengikuti langkah kedua pasangan muda itu yang memang sudah lebih dulu melangkah.
****
di dalam mobil, agaknya Nirmala sudah mulai merasa cemas. karena dirinya takut akan dibully kembali oleh mereka. dan tentu saja, Nirmala belum siap untuk bertemu dengan ibu kandungnya.
" Kak Mahendra, aku takut." ucapnya dengan Lirih Soraya mengeratkan pelukannya di lengan Mahendra. hal itu tentu saja membuat laki-laki bertubuh atletis itu, segera menggenggam jemari Nirmala.
__ADS_1
Seketika itu pula Mahendra merasa sedikit terkejut karena ternyata suhu badan dari Nirmala sedikit naik. hingga membuat tubuhnya terasa panas saat disentuh.
" sayang, kau sakit?" tanya Mahendra sedikit cemas. Seraya sesekali menyentuh dahi sang istri. memang sedikit agak terasa panas." lebih baik kita ke dokter saja ya," ucap Mahendra menawarkan.
Namun, dengan cepat Nirmala menggelengkan kepala." aku nggak apa-apa kok Kak, lebih baik kita lanjutkan saja Perjalanan Ini." ucapnya tersenyum tipis.
****
tak lama berselang, mobil yang ditumpangi oleh Mahendra dan keluarganya telah sampai di depan sebuah hotel ternama di kota itu.
Nirmala bergegas turun bersama sang suami. dengan memegang lengan laki-laki itu erat. mereka segera masuk ke dalam.
Setibanya di ruangan itu, terlihat semua mata tertuju padanya. Bukan pandangan kagum, melainkan pandangan sinis dan penuh kebencian. entah apa yang terjadi, Nirmala tidak mengerti. dirinya pun seketika menundukkan kepala karena merasa takut dengan pemandangan yang ada di depannya.
Tiba-tiba saja seorang wanita paruh baya datang menghampirinya dan kemudian,..
Plak
" puas kau hah, kau sudah menghancurkan semua keluargaku." ucap wanita paruh baya itu yang tak lain adalah Nyonya Kania. yang tak lain adalah ibu kandung Nirmala.
" Maaf Nyonya apa ya Nyonya lakukan kepada menantu saya?" tanya Nyonya Calista Seraya melangkah menghampiri menantunya.
Nyonya Kania yang mendengarnya, seketika melirik sinis ke arah Nyonya Calista Wijaya." anda tidak usah ikut campur nyonya, ini urusan dengan anak sialan ini!" ucapnya Seraya menunjuk ke arah wajan Nirmala.
" cukup nyonya, gadis yang ada di hadapanmu ini sekarang adalah anakku!" ucap Nyonya Calista penuh dengan penekanan.
tak sampai di situ, tiba-tiba saja seorang wanita paruh baya datang menghampiri mereka bertiga dan tiba-tiba,...
plak
satu tamparan lagi, mendarat mulus di pipi kirinya. itu adalah dari nyonya Ariska Dewana. wanita yang telah Dianggap ibu oleh Nirmala, ini juga dengan tega menamparnya.
__ADS_1
hal itu semakin membuat Nirmala menundukkan kepala. Seraya sesekali mengusap air mata yang jatuh di pipinya tanpa permisi.
"cukup!" tiba-tiba saja, Mahendra berteriak cukup kuat. menatap tajam ke arah dua wanita yang telah melukai istri kesayangannya itu." Apa kalian belum puas untuk menyiksa istriku?" tanya Mahendra dengan nada meluap-luap.
Nyonya Calista dengan segera memeluk tubuh menantunya itu Seraya menenangkannya." sudah lebih baik kita pulang saja" ucapnya Seraya melayangkan tatapan tajam ke arah nyonya Ariska dan juga Nyonya Kania.
Kemudian melenggang pergi meninggalkan tempat pernikahan itu. Tiba-tiba saja, Nyonya Calista terhenti saat mendengar ucapan dari belakang.
" Awas kau anak sialan, sampai yang terjadi apa-apa dengan keluargaku, maka kau bersiap akan hancur." teriak Nyonya Kania dengan nada tinggi. dan seperti orang tidak waras saja.
Hal itu membuat Nyonya Calista seketika berbalik arah dan menatap tajam ke arah Nyonya Kania dan juga Nyonya Ariska.
" Jangan harap kau bisa menyentuh menantu kesayanganku." ucapnya di Seraya melayangkan tatapan tajam.
" kok bangga dengan wanita yang rela meninggalkan calon suaminya demi laki-laki lain?" tanya Nyonya Ariska menyindir.
Namun Nyonya Calista tidak memperdulikannya. wanita paruh baya itu segera melingkar pergi meninggalkan tempat resepsi pernikahan itu.
****
Sepanjang perjalanan, Nirmala tak henti-hentinya menangis. dirinya masih tidak menyangka akan mengalami kejadian seperti ini. dan yang lebih membuatnya sakit, adalah perlakuan Nyonya Ariska. wanita paruh baya yang telah Dianggap Ibu oleh gadis itu.
Sementara Mahendra yang melihatnya hanya bisa menenangkan gadis itu. tak lama berselang, keluarga Mahendra sampai juga di rumah.
Nyonya Calista menghempaskan tubuhnya dengan kasar di kursi sofa yang ada di ruang keluarga." huh, Ibu nggak habis pikir kenapa orang-orang itu bisa sekejam itu padamu?" tanya Nyonya Calista masih dengan emosi yang meluap-luap.
Nirmala yang mendengarnya, ketika menundukkan kepala." maaf gara-gara aku, persahabatan kalian menjadi rusak seperti itu hiks hiks hiks." ucapnya Seraya terisak.
" tidak apa-apa sayang, mereka memang pantas mendapatkan ini semua." ucapnya Seraya merangkul gadis itu dengan hangatnya.
seketika itu pula Nirmala Malah semakin menangis menjadi jadi
__ADS_1