
Delisa yang melihat adiknya mematung di ambang pintu, segera menghampiri dan memeluk Nirmala." Kakak kangen banget sama kamu, kok kamu malah bingung sih, nggak kangen ya sama kakak,?" tanya Delisa bertubi-tubi.
hal itu tentu saja membuat Nirmala terkesiap dan tersadar dari lamunannya. E-eh, iya kak, aku kaget aja lihat Kakak udah ada di rumah," ucapnya berusaha menutupi kegalauan hatinya.
Dengan segera, Delisa dan Nirmala kembali berpelukan. mereka berdua tertawa bersama Seraya bercanda.
tentu saja hal itu membuat Nyonya Kania, harus memendam rasa amarahnya. Karena jika Delisa pulang seperti ini, maka dirinya tidak akan bisa berbuat apa-apa.
" kalau begitu Mama mau ke restoran dulu," Nyonya kan yang Ketus caranya berlalu dari sana.
Hal itu membuat kedua gadis yang tengah berpelukan itu, memasang wajah yang berbeda-beda.
Jika Delisa memasang wajah gram sekaligus kasihan. karena ternyata sikap sang Ibu masih tidak berubah. dan kasihan karena melihat ekspresi sedih Nirmala.
sementara Nirmala, Gadis itu menundukkan kepala. menahan rasa sedih di dada. karena sampai saat ini pun, Dirinya belum pernah dianggap boleh bukan nama sendiri.
" nggak usah dipikirin, kita ke kamar kakak aja yuk. Kakak ada oleh-oleh lho buat kamu," ucap Delisa Seraya menarik tangan Nirmala.
Akhirnya, keduanya segera menuju ke kamar Delisa. dan setelahnya, mereka berdua segera membuka oleh-oleh yang dibawa Delisa dari luar kota.
Sejenak, mata Nirmala terfokus pada sebuah otak yang dibungkus dengan menggunakan kertas karton berwarna biru.
Dengan hati-hati, Nirmala mulai berani menanyakan tentang kado itu." Kak itu kado untuk siapa,?" tanya Nirmala dengan perasaan was-was.
Entah mengapa, dirinya mendadak takut. jika apa yang ada dalam pikirannya, menjadi kenyataan.
Delisa yang mendengarnya segera menolehkan kepalanya ke arah benda yang dituju oleh Nirmala." Oh itu untuk seseorang, kamu nggak usah kepo kan masih kecil." ledeknya dengan mengusap kepanasan adik dengan gemas.
Nirmala mendengkur kesal." enak aja aku udah gede tahu," ucapnya menggerutu ke sana. karena Sedari Dulu selalu dikatai sebagai anak kecil.
" ngambek aja nih anak." ucapnya masih dengan kekehan pelan." itu buat Kak Bani" bisik Delisa di telinga Nirmala.
__ADS_1
Deg
seketika itu pula, jantung Nirmala seakan lepas dari tempatnya. saat melihat dan mendengar Betapa besarnya rasa yang dimiliki oleh Delisa.
Setelah sekian lama berpikir, Nirmala bertekad akan mengatakan hal ini pada Marissa. karena gadis itu hanya percaya pada Marissa dan teman-temannya.
Akhirnya Delisa dan Nirmala kembali berbincang-bincang dengan hangat. Seraya sesekali bercanda melepaskan hati yang sedikit hancur itu.
******
malam harinya, mereka berkumpul di meja makan. dengan kebersamaan yang lengkap. Hal itu membuat Tuan Seno dan Nirmala, Tanti intinya tersenyum lebar.
Sementara Delisa juga ikut tersenyum lebar. namun tidak dengan Nyonya Kania. wanita paruh baya itu akan sudah muak melihat anak yang sangat Dia benci, berada di ruangan yang sama dengannya.
****
" Papa senang sekali bisa berkumpul seperti ini." ucapnya Seraya tersenyum bahagia. kemudian menatap kedua putrinya secara bergantian." Papa Arab Apapun Yang Terjadi, kalian berdua harus tetap akur" ucapnya memberi wejangan.
dengan segera, Delisa dan Nirmala mengganggukan kepala secara bersamaan." pasti itu Pa Papa nggak usah khawatir, sampai kapanpun Delisa akan menjaga Nirmala dengan baik." ucap Denisa Seraya melirik sang adik
Apalagi, jika nantinya Arbani akan segera melamarnya. itu tentu saja akan membuat semuanya menjadi kacau. dan Nirmana tidak mau mengalami hal itu.
Cukup, cukup sudah Nirmala mendapatkan perlakuan kasar dari sang ibu. jangan sampai kakak kandungnya juga ikut membencinya hanya karena ini.
selesai menyantap makanan, Nirmala memutuskan untuk segera ke kamar. karena memang, ada yang harus ia beritahu dokter muda itu.
*****
Sesampainya di dalam kamar, Nirmala segera meraih ponselnya yang terletak di atas nakas. kemudian, mendali nomor sang dokter muda.
setelah menemukannya, Nirmala segera menghubungi nomor tersebut. dan tak lama berselang, terdengar sambungan ponsel yang diangkat.
__ADS_1
" Halo ada apa sayang, Kenapa kau sudah merasa tidak sabar ya dengan lamaranku kemarin,?" tanya Arbani terdengar menggodanya dari seberang sana.
hal itu tentu saja membuat Nirmala, segera melotot tajam. dirinya tidak menyangka Arbani akan bersungguh-sungguh mengatakan hal ini. sebisa mungkin Nirmala harus bisa menggagalkannya.
" Kak Bani aku mohon tolong hentikan semua ini. aku nggak mau nikah sama kakak." ucapnya sedikit bernada marah.
hal itu tentu saja membuat Arbani yang ada di seberang sana, bukannya merasa takut malah merasa lucu. bukti dengan kekehan kecil yang keluar dari mulut laki-laki itu.
" Kak Bani aku serius, aku nggak mau nikah sama kamu" ucapnya menghela nafas panjang." atau kalau kamu masih nekat, aku akan lari dari rumah." ancamnya dengan nada serius.
Hal itu membuat Bani yang mendengarnya, menghentikan tawa kecilnya kemudian mengalihkan panggilan itu menjadi panggilan video call.
dengan rasa enggan, Nirmala mengangkat panggilan itu. setelahnya terlihat ekspresi wajah dari dokter muda itu." Jika kamu mengancam akan pergi dari rumah, maka bersiap-siaplah hari itu juga aku akan langsung akan menikahimu tanpa harus mengadakan lamaran." Antam Bani balik.
hal itu tentu saja membuat Nirmala yang mendengarnya, melotot tajam." Jangan pernah Kakak lakukan itu!" ucapnya sedikit meninggi.
Hal itu tentu saja membuat Arbani, sedikit tercengang. karena selama ini, Nirmala tak pernah menggunakan nada tinggi ataupun berkata kasar sekalipun.
Namun itu hanya berlaku untuk beberapa saat saja karena Arbani kembali ke ekspresi wajah awalnya saja.
" Makanya kamu jangan sok-sokan mau mengancamku. pokoknya Tunggu saja tanggal mainnya." setelahnya laki-laki itu menutup panggilan teleponnya dengan segera.
Nirmala segera meletakkan ponselnya kembali ke atas nakas. gadis itu berbaring dengan posisi tengkurap.
wajahnya ia benamkan di bawah bantal dengan ekspresi cemberut. dirinya Harus berpikir dengan keras. bagaimana caranya agar rencana dokter itu tak terlaksana.
*****
Pagi harinya, Nirmala dan Delisa sedang melakukan olahraga pagi. karena memang hari ini adalah hari Minggu. dan kebetulan pula, Hari ini restoran Marissa Tengah tutup.
karena kabarnya, Gadis itu Tengah berada di luar kota untuk beberapa hari ke depan. awalnya, Marissa ingin menyerahkan tanggung jawab itu pada Nirmala.
__ADS_1
Namun dengan cepat Gadis itu menolaknya dengan beralasan. jika Dirinya belum mampu mengelola bisnis sebesar itu.
akhirnya mau tidak mau, Marissa menutup restoran itu untuk beberapa saat. karena memang, di sana tidak ada orang yang harus saya percaya kecuali Nirmala.