Apa Salahku Ibu?

Apa Salahku Ibu?
Bab 61


__ADS_3

karena menurutnya, mengedepankan emosi itu tidaklah selalu bagus. maka dari itu, Mahendra berniat akan menanyakan hal ini terlebih dahulu pada Nirmala.


Sore harinya,...


kini, Mahendra Tengah berjalan menyusuri loby perusahaannya laki-laki itu bersiap untuk segera pulang. Namun, di tengah perjalanannya, ada sebuah nomor yang mengirimkan sesuatu padanya.


hal itu tentu saja membuat Mahendra yang mendengar jaringan ponselnya, segera mengangkat dan melihat apa yang ada di dalam ponselnya.


Seketika itu pula, wajah Mahendra menjadi merah padam. tangannya terkepal dengan sangat erat. terlihat dadanya naik turun. Pertanda, jika emosinya tengah malam sampai ke ubun-ubun.


Dengan segera, laki-laki itu masuk ke dalam mobil dan mengalukannya cukup kencang. di sepanjang jalan, Mahendra tampak sangat marah. entah sebab apa laki-laki itu sangat murka seperti itu.


****


Sementara itu di lain tempat, tampak seorang wanita seperti Tengah berdebat dengan seorang laki-laki yang memakai jas berwarna putih itu. Mereka tampak sekali tegang.


" Kakak benar-benar keterlaluan!" bentak Nirmala berapi-api. Karena, baru saja dirinya dipeluk dari belakang oleh Arbani saat Tengah memasak di dapur restoran milik Marissa itu.


Hal itu tentu saja membuat Nirmala seketika tertegun. karena dirinya masih merasa syok dengan apa yang dilakukan oleh laki-laki itu.


di saat kesempatan itulah, ada seseorang yang memotretnya dan videonya dari belakang. bukan hanya dari belakang, orang itu juga mau videonya dari depan.


Setelah selesai, orang yang memakai pakaian serba hitam itu segera berlalu dari sama dengan senyum penuh kemenangan." Aku pastikan, kali ini kau akan hancur!" ucapnya dengan nada lirih namun penuh akan ancaman.


" Kak Arbani, lepasin!" teriak Nirmala Seraya maronta dalam dekapan arbani. Entah mengapa, laki-laki yang berprofesi sebagai dokter itu, seperti orang tidak waras.


Bisa bisanya, laki-laki yang berprofesi sebagai dokter itu melakukan hal seperti ini. seperti orang yang tidak pernah mengenyam pendidikan saja.


Namun, bukannya melepaskan, Arbani Malah semakin mengeratkan pelukannya." sampai kapanpun, Aku tidak akan pernah Melepaskanmu.!" ucapnya berbisik di telinga Nirmala.

__ADS_1


Hal itu sukses membuat Nirmala yang mendengarnya, seketika bergetar hebat. dan seketika itu pula, wajahnya basah oleh keringat yang menetes dari keningnya itu.


" apa yang kalian lakukan?!" teriak seseorang dari arah belakang. Hal itu membuat Nirmala dan juga Arbani yang tengah berpelukan itu, seketika menoleh ke arah sumber suara.


Gluk


Deg


Seketika itu pula, jantung Nirmala tak akan lepas dari tempatnya. dirinya bersusah payah untuk menelan saliva yang terasa begitu sulit masuk ke dalam kerongkongannya.


dengan tanpa basa-basi, tangan Nirmala ditarik oleh Mahendra dan dengan segera membawanya untuk keluar dari restoran itu. hal itu tentu saja membuat Marisa yang berada di sana, seketika itu pula mengejar langkah Mahendra dan juga Nirmala.


Wanita itu takut jika hal buruk terjadi pada Nirmala. Karena bagaimanapun juga, Marissa dan kedua temannya telah menganggap Nirmala sebagai adik kandungnya sendiri.


Hal itu membuat, Marissa tanpa begitu khawatir saat Sesuatu terjadi pada gadis itu. Apalagi, saat melihat tatapan Mahendra yang menatap ke arah Nirmala. Tatapannya, begitu sangat mengerikan. hingga membuat Marissa, sesekali mengusap wajahnya dengan kasar.


" Mahendra tunggu," ucap Marissa Seraya meraih tangan laki-laki itu. sontak saja itu langsung ditepis oleh Mahendra.


Untungnya, di restoran ini sudah sepi. karena memang, jam lima sore, Marissa memutuskan untuk menutup restorannya dan akan buka setelah jam tujuh malam nanti.


hal itu menjadikan, Marissa tidak malu kalau ada orang yang melihat Mahendra berteriak seperti itu.


" Mahendra gue bisa jelasin semuanya," ucap Marissa yang mencoba menenangkan emosi sahabat kecilnya itu.


Namun, sepertinya amarah laki-laki itu telah membuncah. terlihat dari hidung dan matanya yang berwarna merah. pertanda laki-laki itu Tengah emosi berat.


" lu mau belain dia?" tanya Mahendra dengan nada tinggi dan juga berapi-api. hal itu seketika membuat Nirmala yang mendengarnya, semakin menundukkan kepala karena merasa ketakutan.


Marisa yang mendengarnya, seketika menggilingkan kepala." gue nggak mau bilangin dia, kalau dia memang salah. Tapi dalam hal ini dia itu tidak salah." ujarnya Seraya menatap ke arah Nirmala yang semakin menunduk ketakutan.

__ADS_1


hal itu semakin membuat Mahendra, yang mendengarnya, seketika menatap tajam ke arah sahabat kecilnya itu." lu nggak usah ikut campur," gentak Mahendra.


Kemudian, dengan segera, Mahendra menari dengan Nirmala kemudian memasukkannya ke dalam mobil. , laki-laki itu menutup pintu mobil dengan begitu kencang.


sontak saja, hal itu membuat Nirmala, seketika menunjukkan kepalanya. dalam kediamannya itu, Nirmala menangis sesenggukan.


" Maafkan aku Kak" ucap Nirmala Seraya menatap ke arah kursi kemudi. di mana, Mahendra Tengah fokus menyetir.


Berharap, laki-laki itu tidak murka padanya. Namun, Mahendra yang biasanya penyabar itu, kini mendadak terdiam dengan mata menatap tajam ke arah depan.


Sontak saja hal itu membuat Nirmala semakin merasa ketakutan. Akhirnya, Nirmala memutuskan untuk berdiam saja.


tak berapa lama, Nirmala dan Mahendra Akhirnya sampai di kediaman keluarga Wijaya. dan dengan segera, laki-laki itu turun dari dalam mobil. Kemudian, menarik tangan Nirmala sedikit kasar.


Membawa gadis itu masuk ke dalam rumah dengan sedikit menyeretnya. hal itu tentu saja membuat Nirmala, sedikit meringis kesakitan.


Beruntungnya, di rumah ini dalam keadaan sepi. karena ibu dan papa Mahendra, belum pulang dari pekerjaannya. sementara untuk para pelayan, diberi rumah sendiri yang berada tepat di belakang rumah utama.


***


Dengan kasar, Mahendra menarik dan mendorong tubuh Nirmala. hingga terjerembab atas kasur dengan kasar.


dengan segera, Mahendra menindih tubuh Nirmala. meraup benda kenyal yang ada di hadapannya itu, dengan begitu kasar. hingga membuat Nirmala yang merasakan perih di area bibirnya, seketika meneteskan air mata.


tak sampai di situ, Mahendra dengan kasar juga menjelajahi tubuh Nirmala. hingga membuat gadis itu, seketika merintih dan memetik kesakitan.


"hiks sakit kak, ampun." ucapnya terdengar Parau karena memang Nirmala telah menahan rasa sakit akibat ulah dari Mahendra itu.


Namun, bukannya merasa Iba, justru Mahendra Malah semakin menjadi. dan dengan segera, membuka paksa kedua kaki Nirmala dan langsung menghunuskan senjata miliknya tanpa ada pemanasan.

__ADS_1


Seketika, itu pula, Nirmala berteriak cukup kencang. karena merasakan panas dan juga sakit di area intinya. bahkan menurutnya, rasa sakit ini lebih parah daripada saat malam pertama berlangsung.


Lagi Dan Lagi, Mahendra tak merasakan iba sama sekali. bahkan, laki-laki itu tetap melancarkan aksinya. walaupun, Nirmala sudah mohon ampun.


__ADS_2