Apa Salahku Ibu?

Apa Salahku Ibu?
bab 41


__ADS_3

sore hari pun tiba, semua keluarga Arbani, telah mempersiapkan semuanya. bahkan laki-laki itu telah mempersiapkan cincin yang paling bagus di antara cincin yang lain.


mereka segera menaiki mobil mewah masing-masing dengan perasaan yang berbunga-bunga. Terutama, yang dirasakan oleh Arbani.


Laki-laki itu tak henti-hentinya mengulas senyum manisnya. Hal itu membuat nyonya Ariska dan Tuan Burhan yang melihatnya, juga ikut tersenyum tipis.


" cie, yang sebentar lagi akan bertemu dengan calonnya, sumringah banget." goda Tuan Burhan pada anaknya.


hal itu tentu saja membuat Arbani yang mendengarnya, mendegus kesal. " ais Papa, kayak dulu nggak pernah muda aja." gerutunya kesal.


Sementara, ocehan dari Arbani, hanya ditanggapi kekean kecil dari kedua orang tuanya. dan setelahnya, tak ada pembicaraan dari mereka hingga Di tengah perjalanan menuju ke kediaman milik Tuan Seno Albert.


Arbani segera mengeluarkan ponselnya dari saku celananya. karena memang rencananya dirinya memberikan kejutan pada wanitanya itu.


setelah melakukan perbincangan melalui sambungan telepon, arbani segera mengakhirinya dan memasukkan ponselnya ke dalam celananya.


Namun ada guratan kekhawatiran dari yang tampak di wajah tampannya itu. hal itu dengan cepat ia tepis. dan berusaha meyakinkan dirinya sendiri jika semuanya akan baik-baik saja.


Walaupun sejatinya di dalam tubuh Arbani sekarang ini, tampak sekali kecemasan yang melanda pikiran dokter muda itu.


dirinya memejamkan mata seraya menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi. dalam hatinya, dia berdoa memohon untuk terjadi apa-apa pada gadis kesayangannya itu.


***


sementara itu, di kediaman Tuan Albert tepatnya di kamar Nirmala, terjadi kecemasan yang cukup kuat. terlihat keringat keringat dingin Tengah melanda tubuh mungilnya itu.


Hingga, tubuhnya tampak mengkilap karena deraian keringat yang membasahi tubuhnya. Nirmala sedari tadi hanya mondar-mandir saja.


Entahlah, namun Entah mengapa saat ini dirinya kamu begitu sangat ketakutan. bahkan rasa takutnya melebihi saat dirinya mendapatkan perawan kasar dari ibunya sendiri.

__ADS_1


" ya Allah aku harus apa ini," gumamnya dalam hati Seraya tangannya menyatu di depan wajah dengan sedikit gemetar.


Tak lama berselang ponselnya berdering dan menampakan nama laki-laki yang mengganggu pikirannya beberapa hari ini. dengan cepat gadis itu mengangkatnya.


Bukan karena merasa bahagia sampai tidak bisa melupakan nama dari dokter itu. Melainkan rasa cemas yang terus menggerogoti hatinya.


Tak lama berselang, ponsel Nirmala pun berdering. dan dengan cepat gadis itu, segera mengangkat telepon dari laki-laki yang tengah mengganggu pikirannya dari kemarin itu.


" halo sayang apa kabar,?" tanya laki-laki itu Soraya tersenyum tipis.


sangat kontras sekali dengan ekspresi yang diperlihatkan oleh Nirmala. karena Gadis itu malah terlihat sedikit gemetar. hal itu tentu saja membuat Arbani mengerutkan kening karena merasa heran.


" Kamu kenapa sayang, kok gemeteran gitu?" tanya Arbani dengan sedikit cemas.


tiba-tiba saja, Nirmala memohon dengan gerakan air mata dan tubuh yang semakin gemetaran. hal itu tentu saja membuat Arbani semakin panik di buatnya.


Namun, sebisa mungkon laki laki itu berusaha bersikap sedikit lebih tenang agar kedua orang tuanya tidak curiga.


Karena, dirinya benar benar merasa takut dengan resiko yang akan ia tanggung nantinya. Setelahnya, Nirmala segera menutup sambungan ponsel itu.


Tak lama berselang, ada suara ketukan dari luar. itu tentu saja membuat Nirmala yang sedang melamun, terperanjat kaget.


dengan cepat, Gadis itu berjalan mendekati pintu dan membukanya. setelah pintu benar-benar terbuka, barulah tampak Delisa yang tengah tersenyum kepadanya.


" Dek ngapain sih ikut kakak yuk." Delisa menarik tangan Nirmala. hingga kedua Gadis itu kini berada di ruang keluarga.


di sana juga tampak Nyonya Kania bersama Tuan Seno yang juga telah duduk di ruang keluarga. Tuan Seno menyambut kedatangan anak-anaknya dengan penuh senyuman.


Namun, itu tidak berlaku bagi Nyonya Kania. Karena Wanita itu, telah menatap Nirmala dengan tatapan yang seperti biasa yaitu penuh dengan kebencian.

__ADS_1


tak lama berselang, terdengar jaringan bel pintu di pintu utama. seketika itu pula, tubuh Nirmala bergetar hebat. keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya.


Tak lama kemudian, seorang pelayan datang menghampiri keluarga itu." Maaf Nyonya tuan, di luar ada tamu" ucap salah satu pelayan menghampiri keluarga kecil itu.


" siapa Bi,?" tanya Tuan Seno dengan kening mengerut. karena setahunnya dirinya tidak mempunyai klien yang datang hari Minggu ini. apalagi sepagi ini.


" Itu Tuan ada, keluarga tuan Burhan Deewana datang berkunjung." ucapnya dengan menunjukkan kepala sopan.


Degh


Seketika itu pula, dunia seakan berhenti berputar. ketika Nirmala mendengar kalimat yang bersajak dikeluarkan oleh salah satu pelayannya itu.


" Astagfirullah. bagaimana ini,?" tanyanya dalam hati dengan tubuh gemetar hebat. tidak tahu lagi apa yang akan dilakukan jika itu benar-benar terjadi.


" Kenapa tiba-tiba keluarga Tuan Dewana datang ke sini,?" tanya Tuan Seno kebingungan. karena setahunnya dan seingat dia, dia tidak pernah ada janji dengan keluarga itu.


Iya walaupun, bisa dikatakan keluarga mereka cukup akrab. Namun, terasa aneh saja jika keluarga mereka datang bertandang kemari.


Karena setahu dia, keluarga Deewana sangat sangatlah sibuk. Apalagi, mereka semua sama-sama berprofesi. jika Burhan Deewana setelah pengusaha sukses, begitupun juga dengan Arbani Dewana laki-laki yang berprofesi sebagai dokter itu juga tak kalah sibuknya. Jadi, Hal itu membuat Tuan Seno sedikit kehiranan.


Terlebih lagi, dengan Nyonya Ariska Dewana. wanita paruh baya itu juga tak kalah sibuknya. sebagai seorang desainer sekaligus dokter hewan, dirinya dituntut untuk selalu standby di tempat kerjanya.


dengan segera, Mereka senang datang menghampiri keluarga Dewana yang telah duduk di kursi ruang tamu.


" Tuan Burhan Dewana, ada apa Kenapa datang ke sini rame-rame?" tanya Tuan Seno sedikit terkejut. karena ternyata keluarga mereka tidak hanya datang dengan keluarga inti saja. Melainkan, membawa beberapa orang dengan seserahan di tangan mereka.


" Tuan Seno, Sudah lama kita tidak bertemu bukan?" tanya laki-laki itu dengan menjabat tangan dari rekan kerja sekaligus sahabat dekatnya itu.


" Ya itu benar Tuan Burhan, kesibukan kita berdua yang membuat kita Jarang Bertemu. padahal dulu kita sering bertemu dan sering mengobrol juga itulah yang menyebabkan anak-anak kita menjadi saling mengenal dan bahkan akrab seperti ini." ucap tuan Seno dengan sedikit basa-basi.

__ADS_1


Kemudian, mereka mengobrol ringan dengan bertujuan agar tidak terlalu mencolok jika tiba-tiba keluarga Deewana melamar Nirmala.


Sementara itu, Nirmala semakin ketakutan. wajahnya terlihat sangat pucat.


__ADS_2