
Mereka keluar dari dalam kamar, dengan saling menautkan jari satu sama lain. Seraya sesekali melirik dan melempar senyum. Hal itu membuat nyonya Calista dan juga tuan Adi Saling pandang seraya melempar senyum tipis.
" Wah pengantin baru makin mesra nih," ucap Nyonya Calista Seraya meledek ke arah pasang pengantin baru itu.
" jadi, Kapan kalian akan memberikan ibu sama papa cucu?" tanya wanita paruh baya itu Seraya menaik turunkan alisnya.
Membuat wajah Nirmala seketika memerah karena merasa malu. sementara Mahendra yang melihatnya, ia hanya tersenyum tipis Seraya mengecup pipinya di depan kedua orang tuanya.
Cup
Seketika itu pula, Nirmala melotot karena tindakan nekat yang dilakukan oleh sang suami." ih kak Mahendra malu tahu, ada ibu sama papa nggak sopan!" omelnya Seraya duduk di kursi meja makan.
Sementara Tuan Adi dan juga Nyonya Calista yang mendengarnya, seketika saling tatap dan juga tersenyum tipis. mereka merasa begitu beruntung memiliki menantu yang mempunyai etika dan adab Yang sepertinya masih dijunjung tinggi itu.
Karena, di zaman sekarang ini jarang sekali menemukan gadis yang masih menggunakan tata krama dan juga norma kesopanan. Apa lagi, menggunakannya Di tempat yang asing.
" nggak papa kali Nir, ibu sama papa juga tahu kalau kita pengantin baru." ucap Mahendra dengan santainya kemudian duduk di sebelah kursi sang istri.
Seketika itu pula Nirmala yang mendengarnya, segera mencubit pinggang laki-laki itu. hingga membuat, Mahendra mengaduh kesakitan.
" aw sakit sayang," ucapnya Seraya mengusap bagian perut yang dicubit oleh istrinya itu.
Sementara Nirmala yang mendengarnya, bukannya merasa kasihan, malah menatap tajam ke arah yang suami." Makanya kalau ngomong itu di filter" ujarnya seraya mengambilkan makanan di atas piring.
hal itu semakin membuat Nyonya Calista, merasa kagum terhadap menantunya ini." sepertinya Nirmala memang berjodoh dengan Putraku ini" gumamnya si Raya melanjutkan aktivitas makannya.
di saat mereka sedang makan, tiba-tiba saja Nirmala menghentikan makannya. kemudian, menatap ke arah sang suami dengan tetapan yang sulit diartikan.
Mahendra yang mengetahui sikap istrinya itu, segera menatap Nirmala dengan kening mengerut." Ada apa sayang, Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Mahendra sedikit kebingungan dengan tingkah istri kecilnya itu.
"emm, Hari ini aku boleh kerja lagi nggak di tempat Kak Marissa?" tanya Nirmala Seraya meremas Jari tangannya karena merasa gugup.
__ADS_1
Seketika itu pula, Mahendra yang memang sedang asyik menikmati makanannya, seketika menghentikan aksinya itu. setelahnya, menatap dekat ke arah Nirmala.
" Memangnya kenapa, uang yang aku kasih Kurang?" tanya Mahendra dengan ekspresi wajah seperti tidak suka.
Nirmala dengan segera menggelengkan kepala mendengar pertanyaan dari suaminya itu." bukan, bukan itu masalahnya." ucapnya dengan cepat.
karena memang, Nirmala bukanlah tipe-tipe wanita yang senang dengan uang. Walaupun uang itu adalah prioritas setiap wanita. Namun, tidak untuk Nirmala. karena dirinya akan menggunakan uang itu untuk keperluan yang penting saja. jadi dirinya tidak memerlukan banyak uang.
" Terus kalau bukan uang apa masalahnya?" tanya Mahendra kebingungan.
" Aku hanya ingin punya teman seperti dulu, ya walaupun temanku hanya Kak Marissa, Kak Agnes sama Kak Alexandra. itu sudah membuat aku bahagia." ucapnya lirih Seraya menundukkan kepala.
Mendengar hal itu, Mahendra menghembuskan nafasnya kasar. memang dirinya akui, jika selama mereka menikah, Nirmala belum pernah keluar rumah sedikitpun.
Mungkin saja dirinya merasa bosan berada di rumah sebesar ini tapi tidak mempunyai teman sebayanya. Hal itu membuat Mahendra, berpikir cukup lama.
"hmm, boleh. Asalkan, kamu jangan pernah bertemu dengan dia." ucap Mahendra Seraya menatap Nirmala dengan tatapan sedikit tajam.
" Kakak tenang sajalah, Aku tidak akan pernah menemuinya. lagi pula, tempat kerja kami kan berbeda." ucapnya dengan tersenyum simpul.
Mahendra yang mendengarnya, menghembuskan nafasnya kasar." aku tahu tempat kerja kalian berbeda. Tapi, dia bisa saja kan menemuimu di saat suasana sedang linggang?" tanya Mahendra lirih.
Nirmala yang mendengarnya, seketika tersenyum tipis Seraya mengelus lengan laki-laki yang telah menjadi suaminya itu." Kakak nggak usah khawatir Percaya deh sama aku" ucapnya dengan mengulas senyum tipisnya.
Akhirnya, setelah melalui Drama perdebatan yang cukup panjang, Mahendra menyetujui usulan dari istri kecilnya itu. hal itu tentu saja membuat Nirmala tersenyum dengan sangat lebar.
" Terima kasih Kak, Aku janji nggak akan kecewain kakak." ujarnya Seraya tersenyum manis.
Sementara Nyonya Calista dan juga tuan Adi Wijaya yang melihatnya, ikut tersenyum tipis Seraya menggelengkan kepala melihat tingkah menantu dan juga putranya itu.
****
__ADS_1
tak lama berselang, mobil yang ditumpangi oleh Mahendra dan juga Nirmala, kini telah sampai di depan sebuah restoran. dan Dengan semangatnya, Nirmala membuka pintu. Kemudian keluar dari mobil itu.
sontak saja, Hal itu membuat Mahendra, menggelengkan kepala karena merasa geli dengan tingkah laku istrinya itu.
" dasar, ternyata istriku masih bocah." ucapnya di sela kekehan kecilnya. Setelahnya, laki-laki itu ikut turun dan menghampiri istri kecilnya itu.
" wah, ada angin apa nih pengantin baru datang ke sini?" tanya Marisa Seraya memeluk tubuh mungil Nirmala.
"hmm, dia katanya mau kerja. bosen katanya di rumah terus." ucap Mahendra dengan nada sedikit Tak Rela.
Hal itu membuat Marisa yang mendengarnya, seketika memukul lengan laki-laki itu.
Plak
" Kenapa lu kayak nggak terima gitu istri lu kerja lagi di sini?" tanya Marissa sedikit Ketus.
hal itu tentu saja membuat Mahendra yang mendengarnya, seketika menenguus kesal." Iyalah takut, Takut Istri gue ketularan Barbar kayak lu." ucapnya dengan nada sinis.
Seketika itu pula, mata Marisa membulat sempurna karena merasa tak terima di tuduh sebagai wanita barbar.
Sementara Nirmala yang melihatnya, hanya tersenyum tipis Soraya menggelengkan kepala.
****
Sementara itu di tempat lain, terlihat seorang wanita paruh baya Tengah menatap tajam ke arah foto seorang gadis yang tengah tersenyum lebar.
" kau benar-benar membawa sial!" teriaknya Seraya menusuk-nusuk foto itu." Aku bersumpah akan menghancurkanmu seperti seekor burung yang jatuh dari ketinggian. hancur berantakan!" ucapnya Saraya beratkan gigi-giginya.
Setelahnya, wanita paruh baya yang tak lain adalah nyonya Kania bangkit dari duduknya. semenjak kejadian itu, hidupnya benar-benar hancur. Tuan Seno sang suami, meninggalkan dirinya di rumah Mekah ini.
Laki-laki itu memilih untuk tinggal di apartemen miliknya. karena memang, sepertinya Tuan Seno masih belum menerima kenyataan ini sepenuhnya.
__ADS_1
Hal itu membuat nyonya Kania murka. Wanita paruh baya itu berjanji akan menghancurkan gadis itu