
" enggak mah, kali ini Papa tidak akan pernah membantu dia. biar dia mengerti akan apa yang dinamakan pengorbanan dan juga perjuangan. Nirmala sudah banyak berkurban dalam hidupnya. dan kini, giliran Mahendra yang harus berjuang." ucap Tuan Adi Seraya menatap ke arah sang istri.
Mendengar hal itu, Nyonya Calista hanya dapat terdiam. kemudian melangkahkan kakinya mengikuti sang suami menuju ke arah ruang tamu. di mana saat ini, Tuan Wisnu tengah bersama Nirmala.
***
Sementara itu di ruang tamu, Nirmala tampak memeluk tubuh laki-laki paruh baya itu dengan sesekali menyeka air matanya. hal itu tentu saja membuat Mahendra yang melihatnya, menjadi sedikit risau.
Dirinya menganggap jika Nirmala telah berbicara tentang apa yang ia alami pada sang papa. hal itu tentu saja membuat Mahendra semakin merasa cemas.
Apalagi, saat ini Tuan Wisnu Tengah menatapnya dengan Tatapan yang sangat tajam. Tatapan yang seakan-akan menelannya secara hidup-hidup.
Gluk
Mahendra berusaha menelan salivanya dengan susah payah. Perlahan-lahan, Mahendra pun duduk di samping kedua orang tuanya yang kini tengah duduk sofa seberang Tuan Wisnu.
" Tuan, Ada apa Ada kemari? uum' maksudku, Kenapa pagi-pagi sekali bertamu?" tanya Tuan Adi sedikit agak merasa gerogi.
Sejenak, Tuan Wisnu menatap Mahendra dan kedua orang tuanya dengan tatapan menyelidik. Hal itu membuat ketiga orang itu seketika menjadi gelisah. karena memang, Tuan Wisnu adalah salah satu orang yang sangat berpengaruh di dalam dunia bisnis.
Kemudian, tatapan tajam itu melemah dan menatap hangat ke arah Nirmala yang masih saja memeluk tubuh Tuan Wisnu.
" Sayang ada apa, Apa ada yang menyakitimu lagi?" tanya Tuan Wisnu Seraya mengusap kepala dari Nirmala.
Huh
Seketika itu pula, Mahendra dan kedua orang tuanya menghela nafas panjang. saat mereka tahu, Nirmala belum membongkar perlakuan yang dilakukan oleh Mahendra.
Nirmala yang mendengarnya, seketika menduga menatap ke arah sang ayah. yang baru saja ia temui itu." aku nggak papa kok, aku hanya rindu sama ayah." ucapnya Seraya mengulas senyum tipis.
Mendengar hal itu, Tuan Wisnu segera tertawa terbahak." Hahaha kirain Ayah, kamu kenapa. ternyata cuma rindu toh." ucapnya masih dengan kekehan kecil.
__ADS_1
" Pah Apa aku boleh tinggal sama papa untuk satu minggu ini?" tanya Nirmala Seraya menatap ke arah Tuan Wisnu.
Hal itu tentu saja membuat Tuan Wisnu yang mendengarnya, seketika menatap ke arah keluarga Wijaya dengan tatapan menyelidik.
" Memangnya ada apa, kau bertengkar dengan suamimu?" tanya Tuan Wisnu dengan tatapan sesekali melirik tajam ke arah keluarga Mahendra.
Nirmala yang mendengarnya, ketika menggelengkan kepala." Enggak aku Pah, aku nggak lagi berantem sama Kak Mahendra. aku hanya kangen sama papa." ucapnya tersenyum simpul.
Tuan Wisnu yang mendengarnya, seketika menatap lekat ke arah bola mata Sang Putri. dia bukan laki-laki bodoh yang tidak mengerti tentang wanita. namun, Tuan Wisnu mencoba untuk berdiam dulu sebelum putrinya itu mengatakan kebenarannya.
" baik kalau begitu, segera bawa barang kamu yang mau kamu bawa, Ayah tunggu di sini." ucapnya Seraya mengulas senyum tipis.
Hal itu membuat Nirmala seketika, mengulas dengan tipis. dan dengan segera, beranjak dari duduknya dan melangkahkan kakinya menuju kamar. tak lama berselang, Mahendra pun ikut menyusul. Hal itu membuat kecurigaan Tuan Wisnu semakin kuat.
***
" aku mohon maaf, tapi kamu nggak boleh pergi dari sini." ucap Mahendra Seraya mencekal pergelangan tangan Nirmala.
hal itu tentu saja membuat Nirmala, seketika berontak ingin dilepaskan." lepaskan!" sontaknya seraya menepis kasar tangan suaminya itu.
hal itu semakin membuat Nirmala meringis kesakitan."awwh, kak Mahendra lepasin aku!" teriak Nirmala Seraya berderai air mata.
Sontak saja, hal itu membuat Mahendra yang mendengarnya, seketika tertegun sesaat. karena selama dirinya kenal dengan Nirmala, gadis itu belum pernah sekalipun bernada tinggi.
terlebih lagi, saat melihat tatapan dari Nirmala. begitu tajam dan juga dingin. hal itu semakin membuat Mahendra sedikit merinding dibuatnya.
" aku sudah memutuskan, akan ikut Ayah selama satu minggu." ucapnya dengan nada dingin,, datar, dan menakutkan.
Mahendra yang mendengarnya, seketika menggilingkan kepala." tidak, kau tidak boleh pergi." ucapnya Seraya meraih dan menggenggam tangan nirmala.
Berharap, istrinya itu akan berubah pikiran dan tidak mau meninggalkannya. Namun, prasangka Mahendra ternyata salah. karena ternyata, Nirmala malah melangkahkan kaki meninggalkan kamar itu.
__ADS_1
Tak kehilangan akal, Mahendra masih berusaha mengejar dan menahan keinginan istri kerjanya itu. Dengan sigap, Nirmala segera berlari untuk menghampiri sang ayah. dan menghindari dari kejaran Mahendra.
***
di ruang tamu itu, Tuan Wisnu Tengah menatap tajam ke arah dua orang paruh baya itu secara bergantian." katakan! sebenarnya, ada masalah apa antara Mahendra dan Nirmala?" tanya Tuan Wisnu dengan tatapan tajamnya.
Nyonya Calista baru saja akan membuka mulutnya. Namun, seketika terhenti saat melihat anak dan menantunya seperti sedang ribut.
" aku nggak mau ikut Kakak lagi, Aku mau Kita pisah!" ucap Nirmala dengan nada yang sedikit meninggi.
entah apa yang dipikirkan oleh Nirmala. sehingga membuat Gadis itu lupa akan sebuah komitmen yang telah Ia sepakati dengan dirinya sendiri. Bahwa, dirinya tidak akan pernah mengungkap suatu masalah di depan orang banyak.
Namun, sepertinya hari ini dirinya melupakan hal itu. Karena dengan keras, dirinya mengatakan kata-kata keramat itu.
" enggak, sampai kapanpun, aku nggak mau pisah dari kamu." ucap Mahendra dengan tegas.
Hal itu tentu saja membuat para orang tua yang Tengah berada di ruang tamu, seketika menoleh dan menghampiri pasangan pengantin baru itu.
" Ada apa ini, kenapa kalian bertengkar?" tanya Nyonya Calista yang sedikit panik.
Berbeda dengan Tuan Wisnu dan juga tuan Adi, karena kedua laki-laki paruh baya itu, tampak menatap kedua pengantin baru itu dengan Tatapan yang biasa saja. Walaupun, di dalam hati Tuan Wisnu, ada rasa bergejolak. mendengar penuturan dari Nirmala.
" pokoknya aku ingin Kita pisah, hiks hiks hiks. Aku udah capek, dari dulu tidak pernah mengalami yang namanya bahagia." ucapnya dengan tangis tersedu-sedu.
Nyonya Calista yang mendengarnya, seketika segera memeluk tubuh mungil menantunya itu. untuk menenangkan gadis itu.
"sabar sayang, jika kau ingin pergi, pergilah, Ibu tidak akan mencegahmu" ucapnya dengan terus mrngusap pynggung dan air mata sang menantu.
Nirmala yang mendengarnya, mendongak dan menatap wajah ibu mertuanya dengan seksama.
"tidak, aku tidak akan membiarkan istriku pergi," ucap Mahendra yang dengan sedikit kasar menarik tangan Nirmala.
__ADS_1
Namun, tindakan itu segeradi tepis oleh Tuan Wisnu dan dengan segera, mbawa putrinya keluar dari rumah keluarga Wijaya.
Hal itu tentu saja membuat Mahendra histeris dan meronta ingin meraih tubuh istrinya kembali