Apa Salahku Ibu?

Apa Salahku Ibu?
bab 34


__ADS_3

bel pulang sekolah pun berbunyi. dengan segera, Mahendra menarik tangan Nirmala. karena laki-laki itu tidak ingin ada penolakan lagi dari gadis itu.


akhirnya mau tidak mau, Nirmala menurut dan ikut masuk ke dalam mobil. karena memang hari ini, Mahendra membawa mobil.


Sepanjang perjalanan, mereka hanya terdiam. tak ada obrolan sama sekali. Sesekali, Mahendra melirik ke arah Nirmala.


Namun sepertinya Gadis itu Tengah fokus pada lamunannya sendiri. hingga tak menyadari, jika mobil Mandra telah berhenti.


" Apakah ada yang mengganggu pikiranmu,?" tanya Mahendra Seraya menyentuh lengan Nirmala.


sontak saja hal itu membuat Nirmala, terperanjat kaget. Gadis itu sampai mengerjap p mengerjapkan matanya untuk mengembalikan kesadarannya.


" eh nggak Kak aku nggak ada masalah kok" ucap Nirmala menggelengkan kepala. Namun, Mahendra dapat melihat kebohongan dari raut wajah gadis itu.


" Jangan pernah merasa takut, karena kamu nggak sendiri di sini." ucapnya Seraya menggenggam jemari lentik Nirmala.


Entah mengapa, perkataan Mahendra yang baru saja terlontar itu, membuat Nirmala meneteskan air mata.


Dirinya merasa sangat terharu. Karena akhirnya dia bisa merasakan apa yang dinamakan kasih sayang. walaupun bukan dari ibu kandungnya.


Namun Nirmala masih merasa bersyukur. karena setidaknya, masih ada kasih sayang dari orang-orang di sekitarnya.


" Makasih ya Kak aku sangat bahagia hiks hiks." ucap Nirmala di sela-sela isap tangisnya.


Seketika itu pula, Mahendra segera merengkuh Gadis itu untuk masuk dalam pelukannya. kemudian mendekatnya cukup erat.


Nirmala seketika itu pula, menangis sejadi-jadinya dalam pelukan laki-laki itu." huhuhu Kenapa nasib begini banget sih Kak?" ucapnya masih terisak.


Mahendra yang mendengarnya, hanya mengusap bahu Nirmala. memberikan dukungan pada gadis yang sangat ia cinta itu.


karena memang, saat ini Mahendra merasa bingung. antara ikut campur atau tidak." Apa kau ingin melakukan hal ini pada polisi?" tiba-tiba saja Mahendra berkata seperti itu Soraya menangkap kedua pipi Nirmala.


Sehingga kedua mata mereka saling beradu pandang. dan sejenak, sama-sama terkunci satu sama lain.


Nirmala menggelengkan kepala." Tidak Kak bagaimanapun, beliau adalah ibu kandungku" ucapnya Seraya tersenyum tipis.

__ADS_1


tentu saja hal itu membuat Mahendra mendengkur kesal. bisa-bisanya jadi dihadapannya itu masih memaafkan orang yang telah menganiaya dirinya.


Namun Mahendra pun tidak bisa berbuat apa-apa. karena mencampuri urusan orang lain, adalah merupakan tindakan kriminal.


" berjanjilah jika kau tidak kuat dengan semuanya, beritahukan hal ini padaku." ucapnya tersenyum tipis. Nirmala yang mendengarnya menganggukkan kepala.


Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk segera pulang ke rumah masing-masing. memastikan Nirmala sudah tenang kembali.


tiga tahun kemudian,....


Kini Nirmala telah lulus dari sekolah internasional. dan saat ini, dirinya berniat untuk melamar pekerjaan. karena memang, sang Ibu tidak memberikan izin untuknya menjajaki pendidikan perguruan tinggi.


" untuk apa kau sekolah lagi. kamu itu nggak pantes banget lebih baik kamu bantu keuangan kami. hitung-hitung balas budi. karena kami sudah mengurusnya dari kecil." ucap Nyonya Kania dengan nada angkuh.


tentu saja, Nyonya Kania berkata seperti itu tanpa sepengetahuan Tuan Seno. tentu saja hal itu membuat Nirmala merasa sakit yang teramat sangat.


Mengapa dirinya tidak diperbolehkan untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan universitas. Sementara Delisa, saat ini tengah mengenyam pendidikan di Universitas ternama di kota ini.


Iya walaupun, Nirmala tahu jika ibunya tak pernah menyukainya. namun tidak bisa kah wanita itu memberikan kemudahan sedikit saja.


" non Nirma Kenapa nangis,?" tanya salah satu pelayan di rumah itu. Melihat anak majikannya meneteskan air mata.


pelayan itu hanya menganggukkan kepala. tak mau ikut campur urusan majikannya. karena mereka kini telah diancam oleh Nyonya Kania.


jika dulunya, mereka tak merasa takut dengan ancaman Nyonya Kania, namun tidak untuk saat ini. karena nyonya Kania, berhasil menemukan orang tua ataupun keluarga para pelayan itu.


hal itu tentu saja membuat para pelayan itu sedikit merasa Gentar dengan ancaman yang ditujukan pada mereka.


Terpaksa, para pelayan itu membungkam mulut mereka rapat-rapat. Bahkan tak lagi melaporkan hal-hal Yang aku kan oleh Nyonya Kania pada Nirmala kepada Delisa.


" Maafkan saya ya Non, saya nggak berani lagi untuk menolong anda," ucap Pelayan itu yang bernama Dina itu.


Nirmala yang mendengarnya, tersenyum Seraya menggelengkan kepala." nggak papa hobi ini bukan sama Bibi" ucapnya Seraya menggenggam tangan wanita paruh baya itu.


Brak

__ADS_1


gebrakan pintu seketika membuat Nirmala dan Dina terjingkat kaget. " Astagfirullahaladzim.!" seru mereka berdua secara bersamaan.


" ngapain kamu masih ada di sini? hah!" bentak Nyonya Kania berapi-api. itu membuat Nirmala menunduk ketakutan.


Namun tidak setaku dulu saat dirinya masih berusia 15 tahun. Karena sekarang, Nirmala telah berusia delapan belas taun itu.


dengan segera, Nirmala bergegas menuju ke dapur untuk memasak makanan. karena memang, sekarang ini semua pelayan diperintahkan untuk mengurusi restoran Nyonya Kania.


hanya ada tiga orang pelayan yang masih tersisa di sana. yaitu Dina, Dila, dan ada lagi satu penjaga kebun.


Namun nantinya, saat Delisa kembali mereka semua harus kembali ke posisi masing-masing. dan harus menampilkan sandiwara yang luar biasa.


agar Delisa, tak menaruh curiga padanya. karena dirinya sudah muak menjadi bahan curiga terhadap anak kandungnya sendiri.


*****


Sesampainya di dapur, Nirmala segera memasak masakan kesukaan sang ibu. sementara itu, Tuan Seno masih tidak mengetahui keburukan sang istri.


Karena Lagi Dan Lagi, Nyonya Kania yang mampu melumpuhkan dan membungkam para pelayan itu. hingga mereka dapat berkutik sama sekali.


" Maaf mah makanannya sudah siap" ucapnya suaranya menundukkan kepala. jika dulu menundukkan kepala karena takut, tidak untuk saat ini.


Karena memang seiring bertambahnya usia, membuat Nirmala tidak lagi takut. namun lebih kepada segan pada sang ibu.


Nyonya Kania sendiri, tak pernah melayangkan kekerasan pada gadis itu. karena dirinya tahu, jika berhadapan dengan Nirmala yang sekarang, pasti akan langsung kalah.


Mengingat, tubuhnya semakin tua. dan juga postur tubuh Nirmala, lebih besar dan lebih tinggi daripada dia.


Prang


tiba-tiba saja, Nyonya Kania membanting Sub yang telah jadi itu hingga berserakan ke lantai. hal itu tentu saja membuat Nirmala, terkejut.


" Astagfirullah kenapa Mah,?" tanya Gadis itu dengan ekspresi wajah bingungnya.


Segera, Nyonya Kania melayangkan tatapan tajam pada gadis yang ada di hadapannya itu." ih kok masih tanya kenapa? Coba kau rasakan sendiri" ucapnya Seraya menyodorkan sendok pada Nirmala.

__ADS_1


dengan ragu, Nirmala meluapkan satu sendok ke dalam mulutnya. seketika itu pula, dirinya terbatuk-batuk.


" uhuk uhuk asin," keluhnya Seraya meringis.


__ADS_2