Apa Salahku Ibu?

Apa Salahku Ibu?
bab 48


__ADS_3

Tak lama kemudian, kedua orang tua Mahendra datang menghampiri laki-laki itu. Mereka berdua begitu terkejut saat mendengar ucapan dari Putra mereka.


" Tuan Seno, Nyonya Kania, kalian berdua apa kabar?" tanya seorang laki-laki yang tak lain adalah tuan Adi Wijaya.


" Tuan Adi Wijaya, untuk apa Anda kemari?" tanya Tuan Seno sedikit terkejut. karena dapat bertemu dengan rekan kerjanya sekaligus kolega bisnisnya.


Mendengar hal itu, Tuan Adi Wijaya beserta istrinya yang bernama Calista Wijaya, menatap ke arah Mahendra dengan tatapan penuh arti.


" saya ke sini membawa istri saya tuan, untuk mendonorkan darahnya untuk temannya katanya." Ucap Tuan Adi


Hal itu membuat Tuan Seno seketika tersenyum senang. karena akhirnya, putrinya bisa mendapatkan donor darah.


Tak lama kemudian, Seorang perawat keluar dari ruangan donor darah menghampiri Tuan Seno dan juga yang lainnya. Hal itu membuat Nyonya Kania seketika menjadi keringat dingin.


" Astaga mau apalagi perawat itu?!" tanya Nyonya Kania sedikit gemetar. Setelahnya, dirinya menatap ke arah Putri tercintanya. seakan ingin mengatakan bagaimana ini.


hal itu langsung direspon oleh Delisa dengan mengedipkan bahunya pertanda tidak mengerti.


" tuan, ini sampel darah anda. darah Anda dan darah Nona Nirmala, memang cocok. namun kondisi kesehatan anda sedikit bermasalah." ucap si perawat Seraya menyerahkan lembaran kertas tersebut.


" suster biar saya saja yang mendonorkan darah untuk Nirmala. Hitung-hitung, berkurban untuk calon menantu." ucap Nyonya Calista Seraya tersenyum tipis.


hal itu seketika membuat Tuan Seno terperangah kaget." Maaf Nyonya apa yang anda bicarakan?" tanya Tuan Seno guna memperjelas apa yang ia dengar.


" Iya, Tuan Seno Nyonya Kania Nirmala kan sudah menerima lamaran dari Mahendra" ucap Nyonya Calista Seraya tersenyum tipis.


sebenarnya pun wanita paruh baya itu juga merasa curiga dan merasa aneh dengan Sikap yang ditunjukkan oleh Tuan Seno. Apakah memang Nyonya Kania dan Tuan Seno tidak mengetahui tentang lamaran itu atau bagaimana.

__ADS_1


" Iya Tante Om, saya sudah melamar Nirmala tadi di restoran. dan awalnya memang, Nirmala sendiri yang mengajukan diri. Karena, beberapa hari yang lalu saya pernah melamarnya. namun belum ada jawaban. dan setelah beberapa hari, tiba-tiba saja Nirmala mengajak saya untuk pertemuan dan mengatakan jika dirinya ingin menjadi istri saya." ucap Mahendra tersenyum tipis.


" apa yang kau katakan?" tanya seseorang yang baru saja keluar dari ruang perawatan Nirmala. siapa lagi jika bukan dokter Bani.


laki-laki muda itu ingin memberikan kejutan pada keluarga Nirmala. Dengan mengatakan, jika Gadis itu telah sadarkan diri. Namun, apalah daya malah justru dirinya yang merasa terkejut dengan pengakuan Mahendra.


" Iya dokter Bani, Nirmala sudah menerima lamaran saya" ucapnya dengan tersenyum tipis dan penuh dengan kemenangan.


****


Suasana menjadi semakin mencekam karena kedua laki-laki itu sama-sama berisi Kukuh dengan pendiriannya.


" Sudahlah lebih baik kita tanyakan sendiri pada Nirmala." ucap Arbani memutuskan sesuatu. Dirinya meyakini jika apa yang dikatakan oleh Mahendra itu tidaklah benar dan hanya kehaluan Semata.


Dengan segera akhirnya mereka semua masuk ke dalam ruang rawat Nirmala.


Nirmala yang mendengarnya, tersenyum tipis." aku baik Pah. apalagi, nanti malam aku sama Kak Mahendra akan menikah." ucap Nirmala ringan seakan tanpa beban.


Hal itu tentu saja membuat arbani dan juga tuan Seno seketika merasa tercengang. Sementara Nyonya Kania dan juga Delisa, bersikap biasa saja.


" Sayang apa yang kau katakan, bukankah kau sudah menerima lamaran dari nak arbani. kau akan menikah dan menjadi menantu keluarga Dewana?" tanya Tuan Seno merasa tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh putrinya itu.


Nirmala yang mendengar ucapan dari sang ayah hanya tersenyum tipis." Maaf Pah tapi aku ingin mengutarakan isi hatiku kalau aku tidak ingin menikah dengan Kak Bani. kemarin aku menerimanya Karena merasa tidak enak dengan tante Ariska." ucapnya Seraya tersenyum tipis.


Mendengar hal itu, Arbani segera mengepalkan tangannya karena merasa geram. dirinya merasa dipermainkan oleh gadis yang bernama Nirmala Albert itu.


" apa-apaan ini Nirmala, sengaja ingin mempermainkan keluargaku?!" tanya Arbani dengan suara meninggi.

__ADS_1


Hal itu tentu saja membuat Nirmala seketika menunduk ketakutan. Karena seumur hidupnya baru pertama kali ingin melihat dan mendengar suara dari Arbani yang begitu tinggi.


" maaf Kak tapi aku benar-benar tidak bisa menikahi denganmu." ucap Nirmala menunjukkan kepala. hal itu tentu saja membuat Tuan Seno yang mendengarnya, seketika juga ikut kecewa.


" Papa kecewa sama kamu Nirmala. kalau memang kamu tidak bisa menikah dengan nak Bani, Lalu kenapa kamu nerima lamarannya?" tanya Tuan Seno dengan suara yang sedikit serak.


Seketika itu pula, tangis Nirmala pecah Gadis itu merasa sangat berdosa sekali telah mempermainkan semuanya. Mempermainkan dokter Arbani, mempermainkan sang ayah, dan juga mempermainkan Mahendra dan keluarganya.


Dirinya merasa menjadi manusia yang paling jahat di muka bumi ini." Maafkan aku Pa, aku terpaksa. hiks hiks hiks" ucap Nirmala Seraya terisak.


" Nirmala pernikahan kita itu besok sudah terlaksana. Kenapa harus mendadak seperti ini Nirmala?" Tanya Dokter Bani Seraya menjambak rambutnya sendiri dengan kasar.


Dengan segera, Nirmala mendengak dan menatap ke arah Delisa dengan penuh arti." Kakak bisa menikah dengan Kak Delisa agar kakak tidak merasa malu" ucapnya ringan seakan tanpa dosa mengatakan hal itu.


Hal itu seketika membuat dokter muda itu menatap ke arah Nirmala dengan tatapan tak percaya. Namun Nirmala sama sekali tidak menggubrisnya. Dirinya seperti sudah merelakan semuanya.


" tante Calista, Apakah tante bisa membantu saya untuk berganti pakaian?" tanya Nirmala Soraya menatap ke arah ibunda dari Mahendra itu.


Dengan segera Nyonya Calista membantu Nirmala untuk bersiap-siap. Sebenarnya, kedua orang tua Mahendra tidak mengetahui apa penyebab masalah ini. Namun, mereka hanya percaya sesuatu yang terjadi pasti telah melalui kehendaknya.


Dengan segera Nyonya Calista mendandani Nirmala sehingga gadis Itu tampak sangat cantik. karena memang, Bunda dari Mahendra itu adalah seorang Mua terkenal di kota itu.


Setelah hampir 15 menit, Nirmala keluar dari ruangan yang memang hanya di sekat oleh tirai berwarna hijau untuk ruang merias diri.


Dirinya tampak begitu cantik dan anggun dengan balutan busana kebaya berwarna putih tulang disertai mahkota kecil yang ada di kepalanya. untuk lukanya sendiri, hanya mengoleskan perban kecil agar tidak terlihat menonjol.


hal itu membuat Arbani yang melihatnya semakin merasa marah." kau memang keterlaluan Nirmala. Aku membencimu!" ucapnya Seraya berlalu dari sana.

__ADS_1


Hal itu diikuti oleh Delisa yang juga ikut keluar dari ruangan Nirmala. Sementara Nyonya Kania masih berada di sana. karena wanita paruh baya itu akan memastikan jika pernikahan ini tidaklah gagal


__ADS_2