Apa Salahku Ibu?

Apa Salahku Ibu?
bab 47


__ADS_3

Tak lama setelahnya, terdengar suara langkah kaki yang semakin lama semakin mendekat ke arah Mahendra. hal itu, tentu saja membuat Mahendra seketika mendengar ke arah sumber suara.


Di sana, ada seorang laki-laki paruh baya bersama wanita paruh baya dan juga seorang gadis dewasa. Mahendra tahu, jika ketiganya adalah keluarga Nirmala.


Segera Mahendra bangkit dari duduknya dan menghampiri keluarga dari calon istrinya itu." Tuan Seno Nyonya Kania, Nona Delisa, Silakan duduk." ucap Mahendra dengan sopan santun.


Hal itu membuat mereka semua segera duduk di ruang tunggu. 15 menit yang lalu, Mahendra menghubungi keluarga Nirmala menggunakan ponsel gadis itu.


Tentu saja hal itu membuat Tuan Seno menjadi sangat terkejut dan juga khawatir. dengan segera, laki-laki paruh baya itu bergegas menuju rumah sakit untuk menemui Putri tercintanya. bahkan dirinya tidak peduli dengan meeting yang akan segera dilakukan beberapa menit lagi.


laki-laki paruh baya itu sangat merasa khawatir dengan keadaan Putri bungsunya itu. Sementara Delisa dan juga Nyonya Kania, sama sekali tidak merasakan khawatir apapun. Padahal dulunya Delisa sangat perhatian dan menyayangi gadis itu.


Namun semenjak kejadian lamaran itu membuat hati Delisa seakan membantu. dirinya tak lagi menunjukkan raut kesedihan saat mendengar adiknya mengalami musibah buruk.


Memang terkadang perasaan manusia dapat seketika berubah. jika tidak dilandasi dengan ketulusan. bercampur dengan kebencian.


" nak Mahendra Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya laki-laki paruh baya itu dengan sedikit mengguncangkan tubuh Mahendra.


Hal itu membuat Mahendra yang mendengarnya, sedikit merasa bingung. bagaimana cara menjelaskannya pada ayah dari calon istrinya itu.


Akhirnya Mahendra memutuskan untuk menghela nafas panjang sebelum mengatakan hal sesungguhnya. dan juga, dirinya berniat untuk melamar Nirmala secara resmi.


" Tuan, Nyonya, Saya minta maaf karena saya tidak bisa menjaga Putri kesayangan kalian. sehingga kecelakaan itu pun bisa terjadi. tapi saya janji, setelah Nirmala sadar, saya akan langsung menikahinya." ucap Mahendra tersenyum Tulus.


Tentu saja, hal itu membuat keluarga Tuan Seno seketika Saling pandang dengan ekspresi yang berbeda-beda. jika Tuan Seno berekspresi sangat terkejut, namun tidak untuk Nyonya Kania dan juga Delisa. Karena dua wanita berbeda usia itu saling berpandangan dengan tersenyum penuh kemenangan.

__ADS_1


" sepertinya ancaman kita benar-benar berhasil mah," ucap Delisa Seraya berbisik kepada sang ibu. Nyonya Kania yang mendengarnya, seketika menganggukkan kepala.


" Kamu benar sayang, sepertinya usaha kita akan segera terlaksana dan engkau akan segera menjadi istri dari Arbani Dewana. dan menjadi menantu dari keluarga Dewana.


" Iya Mah aku sudah tak sabar untuk menantikan hari itu tiba." bisiknya Seraya tersenyum tipis.


tak lama berselang, dokter Bani pun keluar dari ruang perawatan dan menghampiri keluarga Tuan Seno.


Sehingga atensi semua orang terfokus pada dokter muda itu." Bagaimana keadaan Nirmala, nak Bani?" tanya Tuan Seno dengan ekspresi wajah yang sangat khawatir.


" Maaf om tapi sepertinya Nirmala membutuhkan banyak darah. dan kebetulan, stok darah di sini sedang tidak ada yang cocok dengan darah Nirmala." ucap Arbani Seraya menatap Tuan Seno dengan ekspresi wajah memelas.


Deg


Seketika itu pula, jantung Nyonya Kania seakan ingin lepas dari tempatnya. saat mendengar ucapan dari dokter muda itu.


" kalau begitu ambil saja Darah saya nak Bani," ucap Tuan Seno Seraya menyodorkan lengannya.


Arbani yang mendengarnya segera mengajak laki-laki paruh baya itu untuk segera masuk ke ruang donor darah. hal itu semakin membuat Nyonya Kania semakin merasa ketakutan.


" Delisa bagaimana ini?" tanya Nyonya Kania Seraya menatap ke arah Putri kesayangannya dan juga ruang donor darah secara bergantian.


" Delisa juga nggak tahu mah, tapi kita berdoa saja. semoga, Papa tidak bisa mendonorkan darah untuk Nirmala." ucapnya tersenyum tipis.


Entah apa yang merasuki tubuh gadis itu. sehingga memiliki sifat dan Perangai seperti seorang iblis itu. Padahal dulunya Delisa adalah sosok yang sangat baik dan penyayang.

__ADS_1


****


tak lama berselang, Tuan Seno dan juga Dokter Bani keluar dari ruang donor darah dengan ekspresi wajah yang sangat lesu. Hal itu membuat Nyonya Kania dan Delisa yang melihatnya, dapat menebak jika donor darahnya gagal.


" Pah Bagaimana bisa,?" tanya Nyonya Kania yang berpura-pura khawatir. Padahal wanita paruh baya itu berharap jika anak yang tak diharapkan itu tak selamat. agar tak mengganggu keluarganya lagi.


" Papa nggak bisa donor darah untuk Nirmala mah, tensi Papah terlalu rendah." ucap Tuan Seno dengan ekspresi wajah lesunya.


Seketika itu pula, pasangan ibu dan anak itu segera menggelar nafas panjang karena itu artinya Rahasianya masih terjaga dengan baik.


" syukurlah Papa nggak jadi mendonorkan darah untuk Nirmala." tanpa sadar, Nyonya Kania berkata demikian.


hal itu tentu saja membuat tiga laki-laki yang ada di hadapannya itu menatap penuh keheranan." maksud Mama apa?" tanya Tuan Seno yang sedikit merasa geram.


Seketika itu pula ekspresi wajah Nyonya Kania menjadi berubah pias seketika. dengan terbata-bata, wanita paruh baya itu mencoba untuk menjelaskan pada sang suami.


"maksud mama itu syukur papa nggak jadi donor darah umtuk Nirmala, karena kesehatan Papah kan sedang memburuk. lebih baik kita cari saja pendonor yang lebih muda dan juga sehat." ucap Nyonya Kania sebisa mungkin dengan ekspresi biasa saja.


Hal itu membuat Tuan Seno dan juga Dokter Bani mengangguk setuju. karena apa yang dikatakan oleh Nyonya Kania itu ada benarnya juga. Namun, tidak dengan Mahendra. karena laki-laki itu terlanjur mengetahui sikap buruk wanita yang ada di hadapannya itu pada Nirmala.


" Astaga kenapa aku baru menyadari kalau anak ini ada di sini sekarang!" tanya Nyonya Kania saat netranya tak sengaja melihat ke arah Mahendra. laki-laki muda yang pernah ia usir dulu.


" jangan sampai dia membocorkan semua kelakuanku terhadap Nirmala. bisa-bisa, riwayatku tamat hari ini juga." gumam Nyonya Kania dalam hati.


Sementara Mahendra yang mengetahui ekspresi wajah dari wanita paruh baya itu, tak begitu mempedulikannya. saat ini, yang dirinya prioritaskan adalah kesehatan dari Nirmala.

__ADS_1


" Tuan Seno, Bagaimana kalau saya menghubungi orang tua Saya kemari. karena, kebetulan ibu saya adalah seorang pendonor darah yang aktif. dan kebetulan pula, golongan darahnya juga sama dengan golongan darah dari Nirmala." ucap Mahendra Seraya menatap ke arah Tuan Seno.


Seketika itu pula, Tuan Seno segera mendongak dengan ekspresi wajah yang sangat berbinar-binar.


__ADS_2