
Setelah mengatakan hal itu, Nirmala diseret oleh Nyonya Kania menuju kamar mandi. dan seperti biasa, Nyonya Kania segera menghujani gadis berusia 18 tahun itu dengan guyuran air satu Gayung.
Hal itu membuat Nirmala, membuka mulutnya berapa kali bak seperti seekor ikan yang mencari oksigen.
" Ampun ma ampun," ucap Nirmala Seraya mengatupkan kedua tangannya di depan dadanya. namun bukannya merasa kasihan, Nyonya kalian justru menarik rambut gadis itu hingga Nirmala mendugak ke atas.
" sekarang kau masak yang bener, jika tidak maka siap-siap akan menerima yang lebih parah dari ini!" ucapnya Seraya melepaskan tarikannya dengan kasar.
Hal itu membuat Nirmala meringis kesakitan. karena Lagi Dan Lagi, kepala Gadis itu terbentur cukup kuat. dengan segera, dirinya bangkit dari duduknya.
Untuk saat ini, Nirmala tidak boleh lagi cengeng. harus kuat menahan semua ini. karena mungkin, dirinya sudah sedikit terbiasa dengan perlakuan kasar sang ibu.
Dirinya hanya bisa berdoa dan memohon agar sang ibu dibukakan pintu maafnya. dengan segera ia kembali melanjutkan cara masaknya.
Karena setelah ini dirinya akan berangkat ke restoran tempat dia bekerja. Yap sekarang ini, Nirmala bekerja di sebuah restoran milik Marissa.
Hal itulah yang membuat Nirmala, merasa tenang karena sudah bisa mendapatkan penghasilannya sendiri.
******
Setelah selesai memasak, Nirmala bersiap-siap untuk berangkat kerja. tak lupa sebelumnya dirinya mengoleksi luka di kepalanya agar tidak menimbulkan kecurigaan bagi orang lain.
karena Entah mengapa, walaupun Nirmala telah berulang kali disakiti oleh nyonya Kania, namun dirinya tak ada niatan untuk melaporkan hal ini pada ayah maupun kakaknya.
entah apa yang ia pikirkan. namun, dirinya hanya berharap agar ibunya cepat membuka hati untuknya. dan entah itu sampai kapan.
Setelah semua siap, Nirmala segera berangkat menuju restoran. dan hanya menempuh kurang lebih 30 menit Gadis itu telah sampai di depan restoran.
Dengan segera Nirmala masuk ke dalam dan menghampiri Marissa yang Tengah sibuk mengatur pengunjung yang datang.
" Hai Kak Marisa apa kabar,?" tanya Nirmala dengan nada ceria. itu tentu saja membuat Marissa seketika Mendongak.
Kemudian Marisa tersenyum dan mengajak Nirmala untuk duduk." Kenapa datang lebih awal?" tanya Marisa yang merasa heran.
Karena memang, restorannya ini buka mulai pukul 09.00 pagi. dan saat ini baru jam 07.30. Mendengar hal itu, Nirmala tersenyum tipis.
__ADS_1
" aku hanya merasa bosan di rumah" ucapnya Seraya menutupi kenyataan sebenarnya. Namun, Maira yang melihat ada kejanggalan di raut wajah Nirmala.
" nggak usah bohong, kamu pasti juga sering dikasari lagi kan sama nenek lampir itu." ucapnya Seraya mendengkus kesal.
karena merasa Jengah dengan sikap Nirmala yang sampai saat ini masih menutupi kelakuan Sang Ibu. dan tak ingin memberitahu pada ayah dan kakaknya.
Yap Nirmala akhirnya memberitahu semuanya pada Marissa dan yang lain. hal itu tentu saja membuat mereka bertiga merasa geram.
Bahkan, Alexandra pun mengancam akan melaporkan hal ini pada pihak berwajib. Namun, hal itu segera dilarang oleh Nirmala.
entah apa yang iya pikirkan. Hingga membiarkan pelaku kekerasan berkeliaran di sekitarnya. jawaban Nirmala pun cukup singkat.
" dia tetap ibuku," ucapnya di suatu ketika saat mereka Tengah berkumpul. dan Hal itu membuat ketiga sahabatnya hanya bisa terdiam saja.
" lah kak aku kuat kok." ucapnya tersenyum simpul. Marisa yang mendengarnya, menahan rasa gemas pada gadis yang ada di hadapannya itu
tepat pukul 09.00 pagi, restoran Marisapun kembali buka. dan Tak lama kemudian, seperti biasa Mahendra datang untuk menemui Nirmala.
sekarang laki-laki itu tak pernah malu lagi untuk menunjukkan perhatian pada gadis kesayangannya itu.
Bugh
Bugh
dengan refleks Nirmala memukul perut dan dada Mahendra beberapa kali. hingga membuat laki-laki itu memetik kesakitan.
" au ampun! Kasar banget sih jadi cewek" beruntungnya Seraya mengusap perut dan dada bidangnya yang terasa nyeri itu.
" Astaga maaf enggak sengaja" ucap Nirmala Soraya membulatkan mata saat melihat Siapa orang yang mengganggunya.
dirinya begitu terkejut saat melihat Siapa yang ada di belakangnya. dengan segera, Nirmala membantu Mahendra untuk duduk di kursi samping dapur.
dengan segera gadis itu meraih kotak obat yang ada di atas kepalanya. dan setelahnya mengobati luka yang sedikit legam akibat tonjokan.
Mahendra kembali tersenyum tipis saat memandangi wajah Nirmala dari dekat. hal itu tentu saja membuat sibempunya tidak nyaman.
__ADS_1
" ngapain dari tadi lihatin aku kayak gitu mau aku pukul lagi?" tanya Nirmala Seraya mengancam Mahendra.
seketika itu pula, Mahendra menggelengkan kepala" aku kan memang punya mata, jadi aku gunakan dengan baiklah." ucapnya menghilang.
Yap Sampai saat ini pun, Mahendra masih berusaha untuk mendapatkan hati Nirmala. sudah sejak lama, laki-laki itu memendam rasa. tak pernah ada tanggapan dari Nirmala sendiri.
Hal itulah yang membuat Mahendra Sempat ingin mendapatkan nikmala dengan cara yang tidak baik. namun beruntungnya, laki-laki itu, segera tersadar dari tindakannya.
" dasar Ngeles aja terus kaya bajaj," ucapnya Seraya menggerutu kesal. itu tentu saja membuat Mahendra terkiki geli karena melihat ekspresi Nirmala.
" Pacaran aja terus." ucap seseorang dari arah pintu dapur. dengan segera mereka berdua menoleh sumber suara.
seketika itu pula, wajah Nirmala menjadi merah padam. karena menahan malu. sementara Mahendra, laki-laki itu hanya bersikap acuh tak acuh.
" Nirma, masak sop buntut untuk meja nomor 20 ya" ucap Marissa pada gadis itu.
Dengan segera, Nirmala menganggukkan kepala dan segera melakukan apa yang diperintah oleh Marissa. hal itu tentu saja membuat Mahendra mendelik tajam.
" ngapain lu lirik gue kayak gitu, Nirmala itu harus kerja biar bisa kuliah." ucap Marissa Seraya berlalu pergi dari sana.
Hal itu membuat Mahendra yang mendengarnya, menghela nafas panjang. benar apa kata Marissa Nirmala harus mengumpulkan pundi-pundi rupiah seorang diri.
padahal dirinya memiliki Ayah dan Kakak kata orang pembisnis. Namun, nasibnya Sungguh malang.
****
sementara dari kejauhan, Sepasang Mata Tengah menatap pergerakan restoran itu dengan pandangan yang sulit diartikan.
Dia adalah Catlyn. Sampai saat inipun, Gadis itu masih belum menerima kenyataan. jika Mahendra lebih memilih Nirmala ketimbang dirinya.
Hal itulah yang membuat Catlyn, semakin memupuk rasa kebenciannya hingga menggunung tak tentu. dan berniat akan menghancurkan gadis yang bernama Nirmala itu.
" kita bergerak kapan,?" tanya salah satu teman Catlyn yang juga ikut melihat ke arah restaurant itu.
" hmm, nanti saja, kita tunggu saja waktu yang sangat tepat," ucapnya seraya menampilkan senyum iblisnya
__ADS_1