
akhirnya Nirmala memutuskan untuk berangkat sendiri saja besok. karena, dirinya tidak ingin menyusahkan semua orang.
hal itu tentu saja membuat Marissa dan Mahendra sama-sama tidak terima." nggak Pokoknya besok aku mau jemput kamu" ucap Mahendra mematikan panggilannya.
Marissa yang mendengarnya, memutar bola mata malasnya. Kenapa temannya ini begitu egois,? gerutunya dalam hati.
Sementara itu, Nirmala Malah semakin merasa bingung." Udah dulu ya Kak aku ngantuk nih gara-gara bingung jadi ngantuk deh" ucapnya Seraya mematikan panggilan teleponnya.
Pagi harinya,...
Seperti biasa, Nirmala bangun pagi-pagi sekali untuk membersihkan rumah dan memasakkan makanan untuk sarapan.
Sepertinya, gadis cantik itu pas akan sesuatu. dengan segera dirinya bangun dan masuk ke kamar mandi.
dirinya mandi dan setelah hampir 30 menit Nirmala akhirnya keluar dari dalam kamar. tak seperti dulu yang masih kucel. sekarang Nirmala sudah bisa make up sendiri.
sehingga Gadis itu sudah terlihat sangat cantik. dan juga mempesona. dengan segera, gadis itu menuju ke dapur.
tepat di depan pintu dapur, gadis cantik itu tertegun sesaat. di mana ternyata di sana, sudah ada pelayan yang sibuk memasak.
hal itu tentu saja membuat dirinya, terkejut. dan setelah beberapa saat, Nirmala menepuk keningnya sendiri. karena baru menyadari, jika saat ini sudah ada pelayan di rumahnya.
" non Nirma ngapain Di Sini,?" tanya salah satu pelayan yang sama-sama terkejut karena mendapati majikannya berada di dapur.
" eh Nirmala mau buat teh," ucapnya terpaksa berbohong. karena dirinya tidak ingin, mendapatkan masalah kembali.
para pelayan yang mendengarnya, tersenyum Seraya menganggukkan kepala." biar kami saja Non yang membuatnya, non Nirma kembali saja kamar," ucap pelayan yang bernama Dila itu.
mau tidak mau, Akhirnya Nirmala menganggukkan kepala dan kembali ke kamar. dirinya merasa bersyukur namun juga was-was.
bersyukur karena, waktu luangnya bisa digunakan untuk belajar. karena selama ini, dirinya jarang belajar.
hal itu membuat nilainya sedikit turun. namun Nirmana juga merasa bersyukur karena tak Mengalami penurunan yang signifikan.
was-was, karena dirinya takut akan mendapatkan sampel laki-laki dari sang ibu Atas masalah ini.
karena asyik melamun, akhirnya Nirmala tak menyadari jika dirinya telah berada di dalam kamar.
__ADS_1
" kok Aku ada di sini,?" tanyanya dengan ekspresi wajah bingung." huh Ini pasti gara-gara aku ngelamun nih," ucapnya Seraya memasukkan buku ke dalam tas.
Nirmala akhirnya turun. persamaan dengan Nyonya Kania dan Tuan Seno yang juga baru saja keluar dari kamar.
akhirnya mereka memutuskan untuk sarapan bersama. di sepanjang sarapan, mata Nyonya Kania tidak henti-hentinya menatap sinis ke arah Nirmala.
hal itu tentu saja dilakukan tanpa sepengetahuan dari sang suami. atau Tuan Seno. sementara Nirmala, gadis cantik itu hanya menundukkan kepala saja.
tak lama berselang, mereka telah selesai dengan sarapan masing-masing.
" Pah Hari ini aku mau ke butik ya,?" tanya Nyonya Kania Seraya beranjak dari duduknya.
Tuan Seno yang mendengarnya, sejenak terdiam." Kok tumben Mau ke butik?" tanya Tuan Seno menampilkan ekspresi wajah keheranan.
karena memang selama ini nyonya Kania tak pernah menghandle usahanya seorang diri. dirinya lebih memilih berbelanja dan menghabiskan uang daripada berpusing pusing Ria memikirkan masalah usaha.
karena memang, Semua usaha baik usaha Nyonya Kania sendiri, ataupun bisnis sang suami, itu di handle oleh orang kepercayaan mereka berdua.
" Iya ah soalnya Mamah mau nyari referensi saja. siapa tahu bisa nambah bisnis fashion mama" ucapnya tersenyum tipis.
bukan tidak mau memberikan mobil pada Nirmala. namun Tuan Seno belum ingin Sang Putri terjerat pergaulan yang tidak tidak.
" aku bisa berangkat sendiri kok Pah" tiba-tiba saja Nirmala ucapan sang papa. hal itu tentu saja membuat Tuan Seno merasa keberatan.
" nggak boleh! kamu harus tetap berangkat sama papa" ucapnya dengan nada tegas.
Nirmala hendak memotong pembicaraan itu. namun diurungkan saat mendengar suara klakson mobil dari depan.
dengan segera, pasangan orang tua dan anak itu bergegas menuju keluar rumah. Tuan Seno tersenyum tipis, saat menyadari Siapa orangnya.
" Selamat pagi om tante" sapanya dengan tersenyum tipis Seraya menyalami kedua manusia paruh baya itu.
" Pagi nak Beni, mau jemput Nirmala ya,?" tanya Tuan Seno berbasa-basi.
Bani yang mendengarnya, tersenyum tipis Seraya menganggukkan kepala." Iya Om soalnya Bani kebetulan ada praktek pagi hari. jadi sekalian mampir deh." ucapnya tersenyum tipis.
Tuan Seno yang mendengarnya, dapat bernafas dengan lega. karena ternyata Putri tidak sendiri." baik kalau begitu Om titip Nirmala ya," ucapnya Seraya berlalu dari sana.
__ADS_1
Sementara Nyonya Kania, menatap tajam penuh dengan kebencian pada gadis yang ada di depannya itu.
" ngapain masih berdiri di sana, mau gantiin posisi Pak satpam,?" Tanya Dokter Bani dengan nada menyindir.
hal itu tentu saja membuat Nirmala tersadar dari bangunannya." nggak, mau cosplay jadi patung." jawab Nirmala Ketus.
dokter Bani yang mendengarnya, hanya tersenyum tipis Soraya menggelengkan kepala." Ayo masuk, nanti telat loh" ucapnya Seraya menarik tangan Nirmala.
Sementara Nirmala hanya menurut saja. dan akhirnya mereka berangkat bersama-sama. karena memang letak rumah sakit dan sekolah searah.
*****
di sepanjang perjalanan, Nirmala lebih banyak terdiam. Bani sesekali melirik ke arah gading yang di sampingnya dengan ekor mata dan menggunakan kaca yang ada di depannya.
" Aku sungguh mencintaimu," ucap Bani dengan nada datar. Namun sepertinya Nirmala tak mendengarnya. atau Gadis itu fokus pada lamunan.
hingga Bani memberhentikan mobilnya di pertigaan jalan. membuat Nirmala sedikit terkejut. dengan refleks, gadis itu menoleh ke arah samping.
dan Gadis itu, semakin tercekat saat melihat jarak wajah di antara mereka sangatlah dekat." astaghfirullahaladzim," seru Gadis itu Seraya sedikit menjauhkan wajahnya.
" kak Bani ngapain sih kamu cari kesempatan ya,?" omelnya Seraya memalingkan wajah. Sesungguhnya, dadanya berdebar-debar.
" kamu yang kenapa dari tadi diajak ngobrol kok nggak nyambung terus," ucapnya Seraya Manuel pipi gadis itu.
" Memangnya tadi kakak tanya apa,?" tanya Nirmala dengan wajah bingung.
" Aku mencintaimu," ucapnya dengan ekspresi wajah serius.
Deg
jantungnya tiba-tiba berdegup dengan kencang. "sabar sabar, jangan baper jangan baper" Nirmala Seraya mengelus dada.
" aku nggak," ucapnya Seraya memalingkan wajah. karena nyatanya, wajahnya telah memerah bak kepiting rebus.
" lagi pula ingat Nirmana, dokter Bani itu milik Kak Delisa," ucapnya meyakinkan perasaannya.
mereka akhirnya sama-sama terdiam. dokter Bani menatap sekilas ke arah Nirmala. namun Nirmala sama sekali tak merespon.
__ADS_1