
Sepuluh tahun kemudian...
Kini Nirmala telah tumbuh menjadi sosok yang sangat cantik bahkan, gadis itu lebih cantik dari Dhelisa kakaknya.
" bangun kau pemalas," teriakan sesrorang dari luar kamar membuat Nirmala tersentak kaget. Dengan segera, gadis berusia lima belas taun itu segera bangkit dari rebahanya..
"dasar pemalas!!" bentak Ny.Kania saat gadis itu membuka pntu kamar gudangnya
"maaf Nyonya, saya ketiduran," ucapnya dengan menundukan kepala.
Dengan segera wanita itu menarik rambut Nirmala hingga membuat gadis itu merintih kesakitan.
"awh sakit nyonya, ampun," desis Nirmala dengan sesekali menarik tangan sang ibu pada rambutnya.
"enak sekali ya, kau itu seharusnya kerja keras bukan malah enak enakan tidur!!" bentak Ny.Kania pada gadis seusia lima belas taun itu.
"ampun Nyonya,,saya mohon ampun," teriaknya memilukan.
Sementara itu, Ny.Kania yang mendengarnya, bukanya semakin iba malah semakin manggila.
dengan keras, ia membenrurkan kepala anaknya itu hingga gadis itu terpental kebelakang.
Nirmala yang mendapati perlakuan seperti itu, hanya bisa menangis tanpa suara. Ia tak mengerti apa yang sesungguhnya terjadi,? kenapa ia sangat di benci, ?apa sebenarnya kesalahanya hingga gadis itu selalu disiksa.
"jangan kotori tempat ini dengan air matamu yang menjijikan itu," bentak Ny.Kania berapi api.
Dan hal itu membuat Nirmala segera menghentikan tangisanya. Dan segera berlalu dari sana.
******
"apa yang sebenarnya terjadi, mengapa Mama sangat membenciku," tanyanya saat gadis itu berada di kamarnya sendirian.
Tak lama, salah satu Maid mementeng sebuah ember yang menandakan Maid itu sedang membawa baju sang Mama.
"tunggu," Nirmala membuka pintu dan menghadang Maid itu kemudian merebut keranjang baju yang di bawa olehnya. " biar saya saja yang mencucinya," ucapnya seraya menarik baju milik Mamanya.
"tapi Non, nanti kalau Nyonya marah bagaimana,?" tanya Maid itu. Mencoba mengingatkan anak majikanya itu.
"udah, nggak papa, biar aku yang cuci. Bibi bantu yang lain aja," ucapnya tersenyum manis.
Akhirnya, karena sebuah desakan, Maid itubakhirnya mengangguk setuju.
"baiklah kalau begitu, bibi tinggal ya, jangan sampai ketahuan sama Nyonya," ucap Maid itu mengingatkan.
__ADS_1
Nirmala hanya mengangguk dan mulai mencuci baju sang ibu. " Mah, semoga setelah ini, Mamah bisa menerima Nirma dan memperlakukan Nirma seperti Mama menerima Kak Dhelisa, hiks hiks," tangisnya seketika itu juga pecah.
Setelah puas menangis, Nirmala mulai mengerjakan yang harus ia kerjakan.
Kemudian gadis itu mulai bersiap siap menuju sekolah yang memang, lumayan jauh dari sekolah. Sedari dulu memang, Nirmsla berangkat aekolah dengan berjalan kaki.
Karena.Ny.Kania hanya mberikan jatwh uang saku sepuluh ribu perhari. Dan itu hanya cukup membeli lauk berupa gorengan saja.
Di tengah perjalanan, Nirmala berpapasan dengan seseorang yang sedang mengendarai motornya. Dan orang itu, hampir saja menabrak dirinya.
"eh,Nirmala, kamu kok jalan kaki,?" tanya orang itu saat dirinya turun dari motornya.
"eh, Mahendra, ia aku lagi coba olah raga aja biar sehat," jawabnya dengan mengulas senyum tipis.
Mahendra yang mendengarnya, menggelengkan kepala dan mengusak rambut gadis itu. " dasar aneh," gumamnya seraya tersenyum.tipis.
"huh, kamu mah kebiasaan," gerutu Nirmala srraya mengerucutkan bibirnya karena kesal.
Sementara Mahendra, hanya bisa tersenyum simpul dsn kemudian mengajak Nirmala untuk berangkat bersama.
Nirmala sempat menolaknya karena gadis itu tau, jika Mahendra adalah kekasih dari Chatlyn.
"nggak usah nggak papa kok Kak, aku bisa jalan sendiri qja," Nirmala menolak.dengan halus.
"ayolah Nirmala, kali ini aja kamu tidak membantahku bisa kan,?" tanya Mahendra dengan wajah tak besahabat.
Hal itu tentu saja, membuar Nirmala sedikit terkejut. Dengan segera, dia bergegas naik dan duduk di jok belakang motor Mahendra.
Mahendra mengulas senyumnya saat mendapati, gadis yang welama ini ia sayangi akhirnya nurut juga.
"gitu dong, kan cantik kalau nurur," ucapnya seraya menarik tangan gadis itu.
Sehingga dalam.satu kali tarikan, tubuh keduanya segera menempel. Dirasakan Mahendra, jantung Nirmala berdetak dengan cepat.
Begitupun dengan jantung gadis itu sendiri yang juga ikut berdegup dengan kencangnya.
Maira yang menyadari hal itu, segera menundukan kepalanya kareana merasa malu dengan Mahendra.
"duh, jantungku nggak bisa di kontrol" gumamnya dalam hati.
Sementara Mahendra yang mendengar detak jantung Nirmala, hanya bisa tersenyum tipis. Karena itu berarti, gadis di belakangnya itu memiliki rasa yang sama dengan dirinya.
"gak sabar nunggu dia lulus," gumamnya dalam.hati seraya menggenggam tangan Nirmala yang ada di atas perutnya.
__ADS_1
Sontak saja, hal itu membust Nirmala terkejut. Gadis itu sempat berontak dan hendak melepaskan genggaman tangan Mahendra. Tapi, dengan crpat laki laki itu menahanya.
"udah, gini aja nggak papa, aku nggak bakal ngapa ngapain kamu," ucapnya lembut.
Dan akhirnya, Nirmala hanya menurut saja. Dan mereka tetap seperti ini sampai di depan gerbang sekolah.
Seaampainya di parkiran sekolah, hampir semua siswa menatap Nirmala dan Mahendra dengan ekspresi wajah yang beragam.
Ada yang menatapnya biasa saja, ada yang menatapnya dengan ekspresi wajah terkejut, ada juga yang menatapnya dengan ekspresi wajah yang marah.
Dan salah satunya itu adalah Chatlyn. Gadis cantik berwajah bule dengan rambut curly itu, menatap Nirmala dengan ekspresi wajah bengisnya
"sialan!!" dia berani banget deketin Mahendra" ucap Chatlyn mengepalkan tanganya kuat.
"sabar say, nanti kalau waktunya telah tiba, kita beri dia pelajaran," ucap salah satu dari meerka. Dan hal itu membuat Chatlyn tersenyum puas.
"oke, kita tunggu tanggal mainya," gumamnya seraya berlalu dari sana.
Sementara itu, Nirmala Dan Mahendra berjalan dengan beringan sesekali saling melirik dan sama sama tersenyum tipis.
"kamu masuk sama dulu ya, akuau ke kelas," ucap Mahendra dengan mengelus kepala gadis yang ada di drpanya itu.
Tentu saja, hal itu membuat Nirmala merasa malu karena dalam hidupnya, ia baru lertama kalinya mendapatkan perlakuan manis itu.
"kok wajahmya merah,?" tanya laki lakk itu menggoda nirmala. Sontak saja, gadis itu malah semakin menundukan kepalanya.
Bukannya merasa kasihan, Mahendra malah semakin menggodanya. Sontak saja, hal itu menjadikan Nirmala semakin geram di buatnya.
"ish kak, jangan di goda terus ih, " rengeknya dengan nada manja.
Hal itu tentu saja membuat Mahendra semakin gemas dan gencar menggodanya.
"uh lucunya kalau lagi malu gitu," wajah laki laki itu di dekatkan ke wajah Nirma. Tentu saja, gadis itu reflek memejamkan matanya dan tiba tiba,...
Fyuh
Mahendra meniup wajah Nirmala sontak saja, gadis itu seketika membuka matanya
Bersambung......
Nb: nih mampir punya temen othor di jamin bagus ceritanya
__ADS_1