
Aresya meninggalkan rumah , baginya apa yang di lakukan Davino padanya hal yang sangat jahat, membayangkan bagaimana kedua lelaki itu memeriksa setiap bagian tubuhnya, sebenarnya ia ingin menyerah, tapi demi keluarga dan adeknya ia harus kuat.
Saat ini, ia ingin bertenu Marta, naik angkot dan berhenti di kontrakan sahabatnya, ini sudah sore, ia akan menunggu Marta pulang dari pabrik, baru beberapa menit ia berdiri menunggu.
“Sya …?” Marta turun dari motor Niko kekasihnya, lelaki itu yang selalu mengantar pulang.
“Ta” Mata Aresya sembab.
“Bang NIko pulang saja dulu iya, ada Aresyah di sini,” ucap Marta meminta pacarnya pulang.
“Sya ada apa?”
“Aku hanya ingin bertemu kamu, aku kan, tidak punya teman Ta”
“Sya, ayo kita masuk dulu , kita cerita di rumah,” ucap Marta ia tahu kalau sahabatnya pasti mengalami hari yang buruk.
Menyedorkan segelas teh manis hangat, ia duduk di samping Resya.
“Dia seorang iblis Ta, dia sangat jahat, Pak Davino bukan manusia, dia kejam apa aku harus membunuh Ta?”
“A-a-apa yang sudah dia lakukan Sya?” tanya Marta dengan wajah panik.
“Ia meminta orang untuk melakukanya padaku hal yang menurutku sangat hina,” ucap Aresya tertawa kecut.
‘Apa Pak Davino meminta orang untuk meniduri Resya? Apa dia setegah itu pada istrinya?’ Tanya Marta dalam hatinya
“Aku sangat benci padanya. Bagaimana dia melakukan itu padaku?”
Marta tidak bisa bicara, mulutnya seakan terkunci, tapi mendengar itu dia ikut merasakan emosi dan kebencian yang sama dengan Aresya
“Apa yang sebenarnya dia lakukan Sya?” tanya Marta.
“Dia meminta dokter untuk memeriksaku apa aku wanita apa lelaki Ta”
“Apa… ? hanya Dokter?”
“Ta, Dokter itu menyentuh tubuhku, bahkan memasukkan jari-jarnya kebagian sensitifku”
Marta benapas lengah walau ceritanya memang menyakitkan, tapi setidaknya tidak seperti yang ia bayangkan.
__ADS_1
“Aku pikir dia membayar orang asing menidurimu Sya, syukurlah kalau hanya Dokter.”
“Kok syukur?”
“Sya, setidaknnya walau kamu merasa terhina, setidaknya mereka dokter, anggap saja mereka memeriksa kesehatanmu, biarkan kebenaran itu bisa membungkam mulut Pak Davino, dia tidak menuduhmu lagi seorang bencong, dia tidak menuduhmu lagi manusia jadia-jadian.”
“Tetap saja aku merasa hina”
“Tidak Aresya , itu jawaban untuk Pak Davino yang selalu menuduhmu. Mulai saat ini … kamu sudah bisa mengangkat wajahmu padanya, karena apa yang di tuduhkan padamu tidak benar, bertahanlah Sya, ini baru awal bukankah kamu bilang ini demi keluargamu, kamu harus bisa mengangkat dagu, aku yakin ada orang lain yang ingin kamu keluar dari rumah itu yang tidak ingin kamu di sana”
“Siapa Ta?”
“Siapa lagi kalau bukan Kirana”
“Tapi dia baik Ta”
“Sya … tidak ada wanita yang rela di madu, apa lagi tentang anak, yakinlah pasti ada campur tangan wanita itu di balik semua yang terjadi padamu”
“Kok sama”
“Sama siapa?” tanya Marta menatap dengan bigung.
“Maka Itu Sya, aku ingin bilang padamu jalanmu masih panjang , dapatkan apa yang jadi tujuanmu,” ucap Marta memberi nasihat, walau mereka berdua berbeda keyakinan tidak lantas menghalangi persahabatan mereka/
“Makasi Ta, kamu memang sahabat sejatiku, hanya kamu yang mengerti aku.” Aresya memeluk Marta.
Bertemu dengan Marta selalu dapat jalan keluar untuk semua masalah untuk Aresya, ia memutuskan untuk tidur malam itu di kontrakan Marta, saling curhat dan saling bertukar cerita, jika mereka sudah bersama bisa tidak tahu waktu terkadang bisa nonton Drakor sampai pagi.
Aresya berangkat kerja dari kontarakan Marta, baginya kejadian malam itu satu langkah awal untuk mencapai tujuan, langkahnya akan semakin berat nantinya, sekarang ia akam mempersiapkan diri untuk hal yang baru dalam hidupnya, Davino sudah tahu kalau Resyah bukanlah trangender seperti yang ia tuduhkan padanya selama ini.
Walau rasa sakit hati dan dendam membara pada Davino, tetapi tidak ia akan melakukanya sebelum ia mendapat apa yang jadi tujuanya.
**
Apa yang Davino lakukan ternyata sampai juga ke teliga Ny Marisa wanita marah besar pada Davino.
“Apa yang kamu lakukan apa kamu pikir saya orang bodoh apa kamu pikir saya memilih wanita yang salah? Ha...! kamu lancang”
Paaak …!
__ADS_1
Untuk pertama kalinya wanita itu melayangan tamparan langsung ke wajah Davino, ia tidak meminta apa-apa dari cucunya, ia hanya meminta keturunan untuk keluarganya.
“Maafkan aku omah, aku salah”
“Aku kasih kamu waktu satu minggu”
“Oma…!”
“Jangan membantah, jika dalam satu minggu kamu belum melakukanya, kamu aku akan usir dari rumah ini dan dari Perusahaan ,” ucap wanita itu dengan kemaharan.
Ini sudah dua hari sejak kejadian pahit malam itu , Aresya baru saja keluar dari kamarn, tapi ia terhenti karena tiba-tiba Davino berdiri dengan sikap ragu-ragu di depan pintu kamarnya.
“Aku ingin mengantarmu kerja, maksudku kita bisa pergi bersama,” ucapnya Davino.
“Saya tidak bisa pak, saya berangkat dengan Marta”
“Kamu bisa membatalkanya, kamu berangkat dengan saya saja”
“Maaf Pak saya tidak bisa”
“Kamu membangkang, aku bilang kita berangkat bersama”
Aresya berdiri tepat di depannya, kali ini ia berani menatap lelaki angkuh itu, ingin rasanya ia menggunakan kekuatannya untuk membakar wajah tampan suaminya. Ia hanya menatap tajam, dan berbalik badan meningalkan Davino.
“Lelaki kejam,” ucapnya pelan.
‘Aku tahu kamu akan melakukan itu mungkin Ny besar sudah menghajar kamu lagi, memberimu sedikit pelajaran tidak ada salahnya juga’ ucap Aresya dalam hati lalu meninggalkan Davino
Satu minggu waktu yang di berikan Ny Marisa untuk mendapatkan Aresya, tapi satu minggu itu juga Resya memilih tidur di tempat Marta berangkat kerja dari sana dan pulang juga kesana.
Bahkan di pabrik saat Davino ingin menemuinya, ia menghindar , memberi pelajaran buat Davino, hingga waktu yang di tentukan wanita itu akhirnya habis. Davino di pangil kembali , wajah Ny Marisa benar-benar menyepelekan Davino.
“Bagaimana kamu akan memimpin hal besar, kalau hal kecil seperti ini saja kamu tidak mampu lakukan”
Ucap wanita itu dengan nada kesal, hal itulah yang selalu membuat lelaki itu merasa buruk, saat keluarganya tidak pernah menerima apa yang ia kerjakan dengan baik, semua keluarganya mengangapnya lemah dan tidak pantas, baik Omanya baik Papinya juga seperti itu, selalu mengangapnya tidak mampu, tidak dapat pengakuan dari keluarga menjadikan Davino pribadi yang angkuh dan pemaraha dan sombong.
Davino disepelekan omanya, ia dianggap lelaki yang lemah, setelah gagal melakukan malam pengantin dengan istrinya, Aresya juga memberinya hukuman atas sika sombong nya selama ini. Lalu apa rencana oma pada Aresya setelah Davino gagala apakah pernikahan mereka berlanjut sesuai perjanjian?
Bersambung.
__ADS_1
Bantu like dan vote ya kakak, baca juga karyaku yang lain ya kakak.