
Jam sudah menunjukkan jam sepuluh malam , tetapi, Davino dan Sutomo masih asik membahas berbagai topik. Mulai dari pekerjaan, liburan, makanan, mereka berdua terlihat sangat akrap.
Belum pernah Sutomo merasa kalau ia sedekat ini sama putra semata wayangnya, Davino terlihat sangat dewasa tidak ada bantahan dan tidak ada jawaban ketus saat di tanya seperti dulu-dulu. Tidak ada suara meninggi saat ia di nasehati, semuanya ia saring dalam otaknya sebelum memberi jawaban dan sesekali ia menganguk. Patuh mendengar nasiha-nasihat yang di berikan papinya ke padanya.
“Eh, Vin Papi belum mandi ini ,sudah malam , besok lagi kita sambung,” ucap Lelaki paru baya itu ia berdiri.
“Iya pi” Davino mengaruk kepalanya yang tidak gatal, ia inginnya sampai malam sampai Kirana tidur agar tidak ada waktu untuk mereka bicara.
“Sana, kasihan Kirana menunggumu lama”
“Iya, Pi,” jawab Davino tidak bersemangat.
Kembali ke dalam kamar pilihan satu-satunya, setelah menyudahi obrolan dengan Papinya.
Saat tangannya menekan handle pintu, Davino menarik napas berat, kamar itu bukan seperti kamar lagi baginya lebih tepatnya sebuah ruangan pesakitan , karena ia harus memikirkan cara bagai mana ia harus bersikap menghindari istri yang sudah menghianatinya, wanita yang memberikan tubuhnya pada lelaki lain yang bukan suaminya, ia juga merayu dirinya seakan ia tidak melakukan kesalahan apapun.
Saat pintu terbuka sebuah pemandangan yang membuatnya kembali tidak nyaman, Kirana sudah duduk di tepi ranjang dengan tatapan merayu.
“Sayang, kamu dari mana sih, kok aku ditinggal,” ucap Karina memeluk leher Davino.
“Papi tadi mangajakku makan malam di bawah, kami juga mengobrol sebentar”
“Tapi aku juga belum makan malam,” ucap Kirana meraih leher Davino ingin menciumnya.
Akhirnya ia tidak bisa berpura-pura lagi, ia menolak menjauhkan wajahnya dari cakraman tanga Kirana.
“Ki. Aku lagi capek, aku juga harus menyelesaikan tugas yang di berikan Oma untukku”
“Sebentar saja kita sudah lama tidak melakukanya, apa kamu tidak menginginkanya?” tanya Kirana masih bersikap memaksa.
“Aku masih harus kerja, aku harus lembur malam ini agar bisa besok pagi aku serahkan”
__ADS_1
“Hanya sebentar, sayang” Kirana meraih bibir Davino mengercaonya dengan lembut.
“Ki tolong jangan memaksa”
Tapi Kirana menghirukan penolakan yang di berikan Davino, ia menikmati bibir Davino dengan posesif memasukkan lidahnya kedalam mulut Davino, lelaki tampan itu terlihat sangat kesal, ia hanya diam, tidak tahan dengan sikap murahan Kirana.
Ia mendorong tubuh wanita itu dengan kasar menjauhkanya dari hadapanya.
“Ada apa denganmu!” Kirana terkejut.
“Kamu yang kenapa? Aku sudah bilang tidak mau tapi kamu masih saja memaksa, apa kamu sehat? Sejak kapan sikapmu murahan seperti ini?” tanya Davino marah.
Ia bena-benar kehilangan kesabaran,
“Kamu berubah, kamu tidak mencintaiku lagi!” Teriak Kiran di tengah malam, suara ribut terdengar dari kamar Davino.
“Kamu tanyakan di rimu kenapa aku seperti itu, itu semua kerena sikapmu yang suka memaksa,” ucap Davino merasa kesal .
Davino menatapnya dengan tatapan sinis, ini sudah di ujung kesabaranya, ingin rasanya ia memaki Kirana dengan sebutan wanita murahan.
Tetapi ia sudah berjanji pada omanya, kalau ia tidak ingin membuat keributan sebelum Aresya melahirkan.
Ia menarik nafas dan menghembuskannya dengan perlahan, ia harus belajar sabar demi sebuah tujuan, jika ia menendang Kirana dalam hidupnya secepat ini, ia akan banyak kehilangan, ia akan menuduh karena Aresya, namun ia akan bertahan dulu.
“Kenapa diam? Kamu tidak bisa menjelaskannya?”
“Kamu pikirkan saja sendiri,” ucap Davino meninggalkan wanita itu.
Kirana marah karena penolakan Davino, ia ingin pergi, ia menyambar kunci mobil dan turun mengeluarkan mobiln. Mobil merah itu keluar juga, Davino mengikuti dan menelepon seseorang. Ia tidak perduli lagi, ia harus berani melakukan sesuatu tidak ada gunanya ia menutupinya.
Davino juga menelepon Ny. Marisa.
__ADS_1
“Aku tidak tahan lagi oma, aku harap oma bersiap untuk berita besok dan aku harap oma tidak marah”
“Tidak apa-apa itu tindakan yang tepat” ucap Ny Marisa mendukung rencana yang di lakukan Davino.
Mobil merah milik Kirana berhenti di salah satu apartemen mewah di Kalibata. Davino juga berhenti ia hanya perlu menunggu, hingga sekitar satu jam tiga orang polisi melakukan pengerebekan.
Saat pengerebekan terjadi Kirana saat itu diatas ranjang dengan Alir, tiga orang wartawan sedang mengambil fose yang tepat untuknya, ia berteriak ketakutan melihat tiba banyak orang, Kiarana menarik selimut menutupi tubuhnya yang telanjang.
Tujuan polisi melakukan pergerebekan karena Alir memiliki barang haram untuk ia komsumsi dan ia edarkan di bar.
‘Satu batu di lempar dua burung kena’.
Seakan-akan tujuan utama polisi hanya ingin mengerebek dan menangkap Alir, namum siapa sangkah ada orang lain yang ikut terlibat dalam skandal panas. Davino ingin menghukum Kirana dan Alir ia tidak perduli lagi dengan cibiran orang dan rekan bisnis nanti.
*
Maka keesokan paginnya kehebohanpun terjadi, Istri Davino Erlangga cucu pemilik Erlangga Group terlibat skandal, berbagai cibiran baik simpati datang pada Davino, karena ia dihianati istrinya. Namun sebuah tawa bahagia terpancar dari bibir Ny. Marisa, akhirnya ia bisa menyingkirkan dua orang sekaligus.
Kirana wanita yang dari dulu tidak pernah ia sukai, karena niatnya datang ke kekuarganya hanya ingin mengincar harta keluarganya atas perintah kedua orang tuanya. Ayahnya memiliki saham di perusahaan Erlangga , hal itulah kenapa ia tidak bisa
Menyingkirkan wanita itu dari dulu. Tapi kali wanita itu sudah mengali kuburanya sendiri. Berselingkuh dari suaminnya.
Perselingkuhan suatu hal yang tidak bisa ia terima. Ny. Marisa marah, meminta Kirana meninggalkan Davino dan meninggalkan rumahnya selamanya .
Dengan begitu Ayah Kirana otomatis dengan muda ia tendang dari perusahaanya.
Ia meminta pengacara untuk mengurus surat cerai untuk Kirana dan meminta asisten rumah tangga mengumpulkan barang-barang Kirana dan mengirimnya ke rumah orang tuanya ke Bandung dengan begitu ia tidak punya alasan untuk datang lagi kerumahnya.
Kirana tersingkir dari tahtanya, karena ia memilih jalan yang salah, saat ia turun tahta. Apakah Aresya yang naik tahta jadi ratu pertama?
Bersambung
__ADS_1