
Saat Davino dari kamar perawatan, Adi melirik Aresya, wanita itu tidak terpengaruh sedikitpun dengan sikap Davino.
“Bos muda kenapa?” tanya Adi saat Aresya duduk di di sisi ranjang.
“Jangan pedulikan orang aneh seperti itu, dia hanya bisa menghina dan menuduh orag lain”
“Tapi, tetap biar bagaimanapun , Non harus memberinya perhatian dan-”
“Aku tidak menyukainya, aku membenci lelaki itu,” potong Aresya dengan dengan tatapan tidak suka.
Melihat raut wajah yang ditunjukan Aresya, Adi tidak ingin memperpanjang, ia diam dan suasana menjadi hening.
“Aku ingin tidur lagi Non, bisa meninggalkan aku sendirian?” tanya Adi dengan tatapan mata penuh makna tidak ingin Aresya dalam ruangan itu berduaan dengannya, jika mereka seperti akan ada gosip miring nantinya.
“Baiklah,” ucap Aresya mengerti apa yang inginkan Adi.
Aresya juga melepas infus di tangannya, ia keluar setelah lelah berdiri, ia naik keatas gedung dan duduk di sana melihat ibu kota dari ketinggian, menurutnya sangat indah.
‘Apa jalan yang aku pilih sudah benar? untuk memberikan yang diinginkan keluarga Erlangga, hampir berbulan-bulan sejak rencana untuk melahirkan anak, saat ini sudah berhasil .
“Bersabarlah Areyana, aku akan menyelamatkanmu , walau hari ini, aku hampir kehilangan nyawa tapi aku masih bisa bertahan,” ucap Aresya ia duduk di bangku kayu di gedung atap, menikmati pemandangan Ibu kota.
Disisi lain, setelah melihat barang miliknya ada di rumah lelaki lain, ia yakin kalau istrinya selingkuh.
Davino duduk masih dalam diam, matanya masih menatap dua benda yang baru diberikan Lilis padanya, ia berpikir kenapa benda itu ada pada lelaki itu, setahunya ia menyimpannya dalam tempat yang tersembunyi di dalam brankas, yang tahu akses untuk membukanya, hanya ia dan Kirana.
“Apa yang terjadi sebenarnya, ada apa ini?” tanya Davino masih duduk mematung, niat ingin menelepon Kirana jadi batal, tadinya ia ingin membawa wanita itu pulang, melupakan pertengkaran mereka.
Davino memijat kepalanya, ia ingin marah, namun, ia tidak tahu ia marah untuk apa.
Tok … Tok …
Davino membuka pintu, Omah Marisa terlihat sangat pucat.
“Apa ada Aresya bersamamu?”
“Apaaa? Apa dia menghilang?” Davino juga panik tiba-tiba bayangan dalam mimpinya tadi memenuhi kepalanya,
Tadi mimpi yang dialami Davino membuatnya sampai ketakutan.
__ADS_1
Semua orang mencari Aresya, tidak ada yang menyadari kalau ia naik ke atap mencari angin, padahal, sebelumnya ia sudah meminta izin pada Rini asisten sekaligus sekretaris Ny. Marisa, sayang wanita itu berangkat ke kantor dengan buru-buru, hingga lupa memberitahukan kalau Aresya izin padanya untuk naik gedung atas.
Semua orang panik, berpikir kalau ada yang membawa Aresya pergi. Bukan hanya Ny. Marisa yang dibuat panik, bahkan Davino ikut mencari,
Semua orang dalam rumah dilanda kepanikan mencari Aresya, bahkan Ny. Marisa marah pada semua penjaga yang bertugas mengawasi Aresya, mengancam, akan memecat mereka semua, jika dalam satu Jam Aresya tidak ditemukan.
Alat pendeteksi computer penjaga berkedip berwarna hijau, dan target ada di atap, gps yang di pasang di gelang Aresya menunjukkan keberadaan Aresya ada di gedung paling atas di rumah Ny. Marisa.
Mereka semua berlari ke atas gedung Ny. Marisa bahkan sempat berpikir kalau Aresya akan melompat dari gedung tinggi itu karena terlalu banyak beban hidup yang menimpanya.
Semua orang berlari menghampiri Aresya, ia kaget saat semua mata menatapnya dengan tatapan lega,
Tetapi ada seseorang yang murka saat Aresya duduk di sana Davino marah.
“Syukurlah Nak, Oma pikir kamu kenapa-napa tadi,” ucap Ny. Marisa melepaskan pelukannya.
Aresya masih bingung saat mata semua orang menatapnya dengan tatapan yang beragam.
Tetapi, dari jauh datang Davino dengan tatapan seperti singa buas.
“Apa kamu puas membuat semua orang panik, ha!”
Satu tamparan keras dari tangan Davino mengenai pipi kanan Aresya, dengan sikap kaget bercampur bingung Aresya memegang pipinya, tamparan suaminya meninggalkan stempel lima jari di pipinya.
“Davino! apa yang kamu lakukan….?” Teriak Ny. Marisa, matanya menatap tajam pada Davino.
“Kamu bisanya hanya bikin orang marah dan kesal, dasar gadis kampung,” ucap Davino dengan kemarahan, ia hanya takut kehilangan.
“Ada apa Oma?” tanya Aresya masih memegang pipinya yang terasa panas karena tamparan keras dari Davino.
“Kita semua mencari kamu kemana-mana Nak, kamu tidak bilang kalau kamu kesini, semua sibuk mencari kamu bahkan Iwan mencari kamu keluar rumah,” ucap Ny. Marisa menjelaskan dengan lembut.
“Tapi, aku sudah bilang sama Rini kalau aku mau cari angin di atas , ia juga yang menyarankan aku duduk di kursi ni agar jauh dari orang-orang”
“Rini? Kok ia gak bilang apa sama saya”
Dengan wajah marah, ia menelepon Rini padahal wanita itu belum juga tiba di kantor ia harus putar balik lagi,
Mereka masih menunggu di gedung atas saat wanita bermata indah itu naik keatas gedung.
__ADS_1
Saat mobil itu berhenti di depan rumah berlantai tiga, Rini berlari menuju gedung atas, mendengar nada tegas dari Ny. Marisa ia tahu kalau sesuatu yang besar telah terjadi, dengan langkah sedikit berlari ia menuju Lift .
“Ada Bu?” tanya Rini dengan panik karena raut wajah semua orang marah.
“Kamu sudah menyebabkan satu kekacauan yang besar hari ini, ibu Rini”
Kepalanya menunduk dan melirik kanan-kiri belum tahu kesalahan apa yang ia lakukan.
“Maaf Bu, saya tidak tahu apa kesalahan saya”
“Kesalahan kamu terlihat sepele, tapi, itu bisa menyebabkan masalah besar, dalam situasi ini. Saya sudah bilang pada semua yang ada di sini agar hati-hati untuk setiap tindakan, maupun tugas kecil maupun tugas besar, kesalahan kamu… apa Aresya tadi bilang padamu untuk duduk di atas?”
Tiba-tiba wajah Rini terlihat panik ia baru menyadari kesalahannya.
“Oh. Saya lupa, Bu maafkan saya itu karena buru-buru tadi,” ucap Rini merasa bersalah.
“Kamu tahu, karena kelupaan kamu itu seisi rumah saya, jadi panik,”
“Maafkan saya, Bu,” ucap Rini wajah benar-benar sangat menyesal, karena ulahnya Aresya mendapat satu tamparan dari Davino”
‘Dasar lelaki gila aku semakin membencimu’ ucap Aresya menatap Davino dengan sinis.
Davino juga membalas tatapannya dengan tatapan tidak mau kalah, ia merasa tindakannya, tidak salah, ia beralasan kalau tindakan spontan karena ia sangat khawatir.
“Sudah kalian boleh bubar, tapi ingat lain kali, jangan ada kejadian seperti ini, karena semua salah, saya masih bisa memaklumi, tapi kedepan tidak ada lagi kejadian Aresya pergi, namun, tidak ada yang melihat”
“Baik Bu,” jawab mereka serentak
Semua bubar, hanya tinggal Ny. Marisa dan Aresya yang duduk masih mengobrol.
“Maafkan Davino iya Nak, dia hanya panik, bagaimana dengan kandunganmu,” bisik Marisa.
“Baik omah, itu tidak ada apa-apanya, tapi Omah…” Aresya, ragu untuk meneruskan kalimatnya.
“Ada apa, Nak?” tanya Ny. Marisa dengan mata menatap Aresya dengan wajah serius.
“Aku sangat merindukan adekku boleh aku bertemu mereka, hanya satu malam saja, Maaf jika aku melanggar aturan, tetapi, aku tidak bisa menahannya lagi”
Bersambung
__ADS_1