Aresya

Aresya
Saat jati dirinya dipertanyakan


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul 19:00 saat Aresyah selesai mandi,  Davino datang tanpa mengetuk pintu, mata Aresya menatap dengan kaget.


“Kenapa kaget apa kamu pikir saya  maling”


“Tidak pak, soalnya bapak tidak mengetuk pintu dulu,” ucap Resya berucap pelan.


“Ini rumah saya. Kamu hanya menumpang di sini”


Resya hanya diam, medengar kata-kata kasar itu keluar lagi dari mulut Davino, mungkin itu sudah kesekian kalinya sejak ia jadi setatus dari istri  dari Davino Erlangga, ucapan kasar, makian, hinaan itu sudah  seperti angin berlalu untuknya. Resya berdiam diri dan mematung karena ia tidak tahu  harus  melakukan apa.


Walau sekarang ia sudah jadi  status istri dari Davino, tapi  kata-kata kasar  hinaan yang di lakukan lelaki itu padanya membuatnya engan melakukanya kewajipannya sebagai istri.


“Sudah, mandi?” tanya Davino terdengar seperti  meledeknya .


“Sudah,” ucap Resya tapi masih duduk menunggu lelaki itu meninggalkan kamarnya.


“Kalau sudah, terus ngapain  begong?”


 Resya berdiri,  ia lapar menunggu lelaki keras kepala itu keluar.


“Apa yang kamu lakukan ? apa  kamu bersembunyi dariku?”


“Tidak, saya hanya ingin makan lapar , saya ingin makan.”


“Kamu tidak pantas memakai ini. Kamu saja membohongi Tuhan dan kamu munafik dan menjijikkan,” ucap Davino menarik kerudung berwarna putih hingga lepas.


“Apa yang kamu lakukan?” ucap Resya panik, karena Davino bersikap sangat kasar.


Ingim rasanya ia menggunakan kekuatannya untuk melemparkan tubuhsang sampai mental. Tetapi jika sering-sering menggunakannya ia takut mahluk yang mengejarnya menemukan keberadaanya.


“Saya datang ke rumah ini mau ngapain?”


“Aku tidak tahu Pak”


“Oma memaksamu datang ke sini untuk menghamilimu, walau sebenarnya aku jijik, melihatmu sama saja aku melihat sampah,” ujarnya.


“Jangan lakukan, kalau bapak keberatan saya juga tidak memaksa,” balas Resya.


“Lihat dirimu, kaca dirimu,  apa kamu pantas?” ucap Cavino menarik rambutnya dengan sangat kasar, menjambaknya membawanya ke depan kaca,


“Lepaskkan, saya sudah bilang itu bukan seperti bapak bayangkan, saya sudah bilang berapa kali,” teriak Resya.

__ADS_1


“LIhat ini bodoh, lihat dirimu dalam foto ini .Lihat lebih jelas! sekarang katakan siapa yang ingin kamu bodohi” Davino mendorong tubunya ke sisi ranjang menarik rambutnya menekan kepalanya di atas tumpukan foto-foto lama Resya,  Foto yang ia lemparkan di atas ranjang, Resyah merasakan batang lehernya sangat sakit,  saat Davino mendorongnya, ia diperlakukan seperti seorang Bandar di bekuk, cara polisi memperlakukan penjahat , cara itulah yang dilakukan Davino padanya.


“Itu semua tidak seperti bapak pikirkan,” balas Resya.


“Lihat tato di tubuhmu, tetapi kamu menutupnya dengan kerudung yang kamu pakai siapa yang coba kamu bohongin”


“Ada alasan untuk itu Pak,” balas Resya.


“Apa kamu bilang kalau kamu masih perawan? Jangan bohodi aku. Cukup hanya oma yang kamu bohongin. Tetapi aku tidak perduli itu aku hanya datang untuk melakukannya tugasku malam ini.  Aku berharap benihku bisa tumbuh di sana dengan sekali melakukan agar aku tidak melihatmu lagi. Berbaringlah di sana aku akan melakukannya dengan cepat.”


Davino menyingkirkan  foto-foto lama Aresya foto lama di mana ia berpenampilan layaknya seorang lelaki di mana banyak ukiran seni memenuhi tubuhnya bahkan sebagian lehenyakarena itulah ia memakai hijap untuk menutupi ukiran seni di  tubuhnya.


Karena itulah Davino sangat membencinya ia menganggap Aresya wanita jalanan yang mencoba membohongi omahnya.


Lelaki bertubuh tinggi itu membuka kancing baju kemejanya, sementara Aresya masih duduk dengan bigug di kursi di samping ranjang.


“Kemarilah berbaring bodoh lepaskan pakaianmu,” ujar Davino menarik ikat pinggangnya  dan mengeluarkan gulungan tali  nilon dari kantongnya ia ia bawa dari pabrik tadi. Melihat alat peyiksaan itu bulu kuduk Aresya langsung  meriding.


Pak Darmono sudah pernah memberitahukan Arsya tentang gaya ranjang sang majikan sebelum  mereka menikah, tetapi melhatnya secara langsung membuatnya lansung bergelidig takut.


“ Apa lagi yang kamu tungu. Apa kamu takut? Harusnya kamu  sudah tahu orang seperti apa ku kan? Lalu kenapa kamu mau menyetujui pernikahan itu?”


“Aku tidak takut aku hanya lapar”


 Davino membuka pakain atasnya.


‘Wah otot tubuhnya’ Aresya menatap kagum melihat tubuh sispack sang suami.


“Jangan melihatku seperti itu,” ujar


Aresya membuka kancing kemeja yang ia pakai memperlihatkan ukiran- ukiran sani di tubuhnya.


Melihat ytubuh polos Aresya Davino sangat kesal.


‘Kamu membuatku kehilangan nafsu, apa benar kamu seorang wanita tulen Ha?”


Davino kembali mengimintidasi  bagian tubuhnya dan penampilanya.


“Pergilah dari rumahku sebelum kamu mati di tanganku, lupakan impiamu, menjadi bagian di keluarga ini, Kamu hanya makluk  hina yang mencoba menipu kelurgaku jangan berharap apa-apa lagi,” ucap Davino mendorong tubuhnya kebelakang lagi,  wajah  Aresya terbentur di sisi  kursi.


Ia hanya meringis  dan menahan rasa sakit, Davino tidak memperdulikanya.

__ADS_1


“Jangan kasih ia makan Bi, biarkan ia mati  kelaparan, itu akibatnya tidak  tidak mau mengaku, dasar  orang gila, kebanyakan bermimpi, lelaki banci mengaku wanita,” ujar Davino meningaalkan kamar.


Wanita paru baya itu hanya bisa diam, tentu saja ia menurut apa kata majikannya, walau hatinya sakit dan tidak tega meliha Aresya kelaparan, tapi malah tambah tidak tegah lagi jika melihat anak-anaknya tidak makan di kampung kalau ia sampai di pecat kalau tidak menuruti apa kata tuan muda itu.


Resya meringkuk di kasurnya,  menahan rasa lapar yang kian menyiksanya, belum lagi rasa berdenyut di pipinya yang bengkak,


‘Harusnya aku makan tadi sama Marta sebelum aku pulang,” gumam Resya memijat  pipinya yang membiru, ia hanya mengopresnya dengan kain basah untuk menghilangkan bengkaknya.


Mencoba  menutup mata dan ingin membawa rasa lapar itu kealam tiburnya, tapi  tidak berhasil cacing-cacingnya seakan berdemo karena tidak diberi mereka makan, Resya hanya duduk di sisi ranjannya menyisihkan gorden jendela di kamarnya,  menatap dengan tatapan tegar ke arah luar.


“Ratih adekku bertahanlah kamu pasti sembuh,” ujarnya tegar.


Aresya masih di kurung sampai pagi, ia mandi dan sudah rapi, menunggu pintu di buka Bu Darmono tentunya selepas Tuan muda itu berangkat ke kantor, ternyata saat pintu di buka Davino yang datang.


“Kamu  masih hidup ternyata, dengar aku meminta kamu meninggalkan rumahku,  mengaku saja pada oma kalau kamu tidak bisa memberiku anak dengan begitu hidup kamu tenang.


“Lhat! lihat tato ini… ada berapa  kamu kamu miliki?” Davino  menarik kera bajunya memperlihatkan tato berbentuk sayap di lengannya.


“Hentikan Pak, aku mohon,” ucap resya dengan pelan. Matanya  mulai  berbah warna kekuatan uper dari matanya nyaris membakar tubuh Davino. Ia tidak ingin ada  bencana lagi karena kekuanya ia menutup matanya dengan kedua telapak tanganya, ia tidak ingin  melempar tubuh Davino dengan kekuatanya..


Bersambung ….


KAKAK TERSAYAN JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA BARU IYA KAKAK


 Baca juga.


- Pariban Jadi rokkap( Baru)


-Aresya(Baru)


-Turun Ranjang(Baru)


-The Curet king( Baru)


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)

__ADS_1


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


-Bintang kecil untuk Faila (ongoing


__ADS_2