
Kamu mengambil kesempatan di tengah kesulitan awas kamu nanti ucap Aresya dalam hati, ia menahan kemarahan atas sikap liar Davino padanya.
Davino menyiksa Aresya dengan kelakuanya, ia tahu Davino melakukan itu bukan karena rasa suka padanya, ia berpikir kalau Davino hanya memberinya hukuman, melihat Aresya kesakitan, ia berhenti setelah beberapa dorongan.
“Apa kamu benaran kesakitan?” Bisik Davino, ia tidak percay kalau istri yang rendahkan selama ini masih perawan.
“Sakit sekali,” bisik Aresya menutup mulutnya dengan telapak tangan.
“Apa benar … kamu belum pernah melakukannya?”
“Belum”
“Aku melakukannya dengan pelan dan hati-hati bertahanlah,” ujar Davino, melihat Aresya kesakitan dan terus menjaga perutnya Davino berpikir kalau Aresya memang sakit, ia melakukannya dengan hati-hati.
“Aku kesakitan Pak Davino,” bisik Aresya, ia mencakar lengan dan leher suaminya dengan kuat meninggalkan jejak di sana.
“Bertahan sebentar lagi, aku janji akan melakukannya dengan hati-hati,” bisiknya lagi, ia mendapatkan sensasi yang sangat berbeda, melakukan malam pertama dengan istrinya di tengah hutan di bawah pohon besar yang tumbang, para penjahat itu tidak melihat mereka, karena sudah menjauh,
“Tolong hentikan pak Davino,” ucap Aresya, ingin rasanya menangis berteriak. Tangannya terus saja menjaga perutnya yang sedang hamil.
Davino lagi-lagi menghiraukan penolakan Aresya “ Apa aku melakukan kesalahan Aresya? Bukankah kita suami istri, tidak memberi nafkah batin pada suami , itu dosanya besar Aresya,” ucap Davino masih menikmati tubuh Aresya.
“Masalahnya, kita hanya hubungan suami istri sementara, aku juga berhak menolak kamu jika istri belum siap memberi nafka batin Pak, karena aku tidak pernah sekalipun menginginkanmu, aku mencintai orang lain,” ucap Aresya.
Davino terhenti sebentar, saat Aresya menyebut mencinta orang lain.
Tetapi kali ini merasa harga dirinya terluka, “Aku berhak atas tubuh ini, camkan itu,” ucap Davino menkmati tubuh istrinya sampi puas.
“Pak Davino, hentikan” ucap Aresya ia benar-benar kesakitan di bagian area sensitifnya.
“Berteriaklah, biarkan mereka menangkap kita,” ucap Davino, acuh
Aresya diam, ia menutup matanya membiarkan Davino melakukan apa yang di mau.
__ADS_1
'Baiklak, lakukan apa yang kamu mau, iya! aku ini istrimu' ucap Aresya dalam hati, membiarkan bibir Davino menyentuh buah ranum miliknya, ia hanya mengepel gengaman tangannya dengan kuat.
Bagaimanapun ia menahan tubunya, antara otak dan tubuhnya, kali ini, tidak sejalan, saat otaknya memerintahkan tubuhnya untuk berhenti tidak tersambung, tubuhnya bergerak tidak beraturan merasakan sentuhan yang diberikan Davino, nafas Aresya mengebu.
Ia berharap orang-orang yang mengincar dirinya, cepat meninggalkan mereka, agar ia bisa melepaskan diri dari jeratan hasrat yang di bangun Davino
Naasnya tersengal-sengal saat Davino memaikan bibirnya di ujung bagian terindah miliknya, benda kecil berwarna coklat kemerah-merahan itu di nikmati dan dan sesekali digigit, ia mulai merasakan antra sakit dan nikamat berpadu jadi satu, rasa panas yang menjalar di sekitar tubunya, ia bagai tersengat aliran listrik , tubuh bagian bawahnya sudah mulai sangat perih berdenyut karena perbuatan Davino.
Mendengar tidak ada suara para penjahat itu lagi, Aresya terdiam, ia melihat ke langit ternyata bulan purnama.
‘Seperti sudah waktunya padaku melepaskan diri dari iblis itu … ini saatnya lepas dari incaranya, dari pada melakukannya dengan lelaki, lebih baik melepaskan dengan suami sendiri’ ya itu benar’ Aresya baru sadar ‘
“Baiklah ... tolong lakukan dengan pelan, tapi jangan menekan perutku, ada sesuatu yang berharga di sana yang di berikan dokter,” ujar Aresya.
“Apa sekarang kamu menyerah?” Tanya Davino licik, ia berpikir ia menang,
“Ya, tolong lakukan dengan hati-hati aku kesakitan, jangan khawatir mereka sudah, nikmati tubuhku sepuasmu” ucap Aresya melepaskan dres yang ia pakai. Davino tertegun, ia tidak pernah menduga kalau Aresya akan menyerah.
Ia mendaratkan bibir di bibir Aresya dengan liar menjelajahi setiap sudut di wajah Aresya, ia merasakan aroma tubuh yang berbeda dari tubuh Aresya sesuatu yang membuat bagian dari tubuhnya begitu bersemangat.
“Tubuhmu harum sekali … aku sangat menyukainya, ini seperti wangi bunga,” ucap davino menjilti leher dan wajah Aresya, wanita itu hanya bisa memejamkan mata, sesekali tubuhnya bergerak menahan gejolak yang ditimbulka suaminya.
“Kenapa dia saja, kita kan sama-sama suka, kamu juga harus menyambut sentuhanku”
“Aku tidak tahu Pak Davino, kamu harus mengajariku bagaimana caranya, karena ini pertama kalinya bagiku,” ucap Aresya.
Davino tersenyum bersemangat, saat Aresya meminta mengajarinya,
“Baiklah, apa kamu masih merasa kesakitan?”
“Ya”
“Baiklah aku akan mengurangi rasa sakit itu”
__ADS_1
Davino memang memiliki ranjang aneh, ia sangat senang melihat teman wanita kesakitan dan berdara-darah, melihat bagian bawah Aresya berdarah, ia sangat bersemngat, lalu ia menarik tubuhnya dari Aresya dan ia menekuk kedua kaki Aresya, lalu mengarahkan mulutnya ke bagian sensiti istrinya dan ia membesihkannya dengan lidahnya.
“Apa yang bapak lakukan?” Tanya Aresya panik.
“Tenanglah, rasa sakit itu akan hilang,” ucapnya lagi.
Ia melakukannya sampai bersih dan memasukkan lidahnya ke bagian dalam dan terus bermain di sana. Davino benar-benar mendapatkan kepauasan dari istri yang ia benci.
Tidak lama kemudian tubuh Aresya tiba-tiba mengeluarkan sebuah bayangan, itu adalah cakra penjaga milik Aresya, seketika tubuh yang penuh tato itu bersih, tato di tubuhnya hilang dan kulitnya cantik bagai seorang bidadari, itulah wujud asli Aresya yang sebenarnya.
Tidak lama kemudian suara raungan panjang seperti seseorang menangis terdengar melintas diatas mereka.
“Apa itu?” Tanya Davino menatap keluar, ia tidak bisa melihat wujud asli Aresya karena bulan tertutup awan gelap.
“Ayo cepat pakai pakaianmu, itu iblis yang mengejarku,” ujar Aresya memakai pakainnya dengan buru-buru.
Sebenarnya ia sudah bisa menggunakan kekuatan supernya karena mahkota yang di incar iblis tersebut sudah lapas, tetapi ia tidak melakukan karena ada anak dalam rahimnya.
Aresya mendorong kayu besar itu, ia keluar dari galian persembunyiania merapikan pakaianya.
“Mereka sudah pergi, ayo kita pulang,” ucap Aresya menarik tangan Davino keluar .
“Apa kamu masih kesakitan?”
“Lupakan itu aku hanya tidak puya tenaga lagi untuk jalan, aku lapar,” ucap Aresya setelah mereka berjalan keluar dari hutan.
“Kita berjalan kira-kira 200 Meter lagi, akan sampai ke sebuah kampung,” ucap Davino, matanya mencoba melihat wajah Aresya yang terlihat berbeda.
“Aku tidak kuat lagi untuk berjalan, tiba-tiba suntikan dokter tadi siang terasa berdenyut, sakit,” ucap Aresya memegang lengannya.
Davino mencoba mencoba menatap wajah wanita yang ia benci selama ini, wanita yang tadi ia tampar, ternyata bukan seperti yang ia pikirkan selama ini. Namun, Davino hanya di pengaruhi Kirana istrinya dia yang selama ini menjelek-jelekkan Aresya, hingga ia percaya, tetapi saat ini ia punya pemikiran ke dua pada istri kedua tersebut.
Bersambung
__ADS_1