Aresya

Aresya
Benci Dengan Kirana


__ADS_3

Masalah perusahaan akhirnya bisa diatasi,  namun  di balik itu ada seseorang yang merasa marah


Dengan dada naik turun  menahan kemarahan,  menghempaskan tubuhnya di kursinya, Difi menjabat sebagia komisaris, namun ia hanya sebatas  pajangan,  peranya tidak pernah dibutuhkan.


Ny. Marisa tahu wanita seperti apa Difi, karena itu,  ia tidak pernah melibatkanya dalam masalah keluarga maupun dalam pekerjaan.


Kemarahan Difi memuncak hari ini, setelah Ny. Marisa menyebut cucu hanya satu.  Davino Erlangga. Namun tidak begitu dengan anak yang ia bawa Bimo, ia hanya anak yang tidak dianggap dalam keluarga Erlangga.


Setelah rapat selesai, ia  mendatangi  ruangan suaminya Sutomo Erlangga, tanpa mengetuk dan tanpa memberi salam.


“Apa kamu juga setuju?” tanya Difi  saat masuk keruangan Sutomo.


“Kamu ada apa sih, tidak bisa mengetuk pintu dulu?”


“Tidak. Aku tidak bisa. Apa kamu juga terlibat dengan semua ini?”


“Dengar, jangan berteriak-teriak seperti itu, bagaimana kalau ibu dengar”


“Aku tidak perduli lagi pada wanita tua itu,” teriak Difi dengan


kemarahan.


“Terus, kamu mau apa? tidak cukup kamu mempengaruhi dan mengompori para pemegang saham hari ini, jangan kamu pikir aku tidak tahu, kalau kamu di balik semua keributan ini, dengar, ibu bukan orang bodoh, ia tahu apa dan siapa para biang pengacau di perusahaanya jadi berhentilah cari masalah, saya capek melihat kelakuanmu”


“Iya, aku yang melakukannya”


“Iya baguslah kamu mengaku, sekarang kamu keluar saya ingin bekerja”


“Apa Bimo, tidak ada artinya bagimu, ia mengangapmu sebagai Ayahnya, tidak bisakah kalian berbaik hati sedikit dengannya?”


“Difi! Itu semua keputusan ibu, aku bisa apa? aku tidak pernah membantah apa yang  dikatakan Ibuku”


“Iya kamu lelaki yang tunduk di bawah ketek ibumu, baiklah aku akan melakukan sesuatu untuk anakku, kalau tidak biarkan hancur sekalian,” ucap Difi dengan marah.


Semua yang dikatakan Difi terdengar sama Ny. Marisa, tadinya ia ingin keruangan anaknya, namun mendengar di sana ada menantunya,  ia membatalkan dan pergi keruangan Davino.

__ADS_1


 Tok… Tok ….


“Masuk” sahut Davino dari ruang kerjanya. Ini pertama kalinya Ny. Marisa masuk keruangan Davino sejak ia menjabat sebagai wakil di rektur, ruangannya sangat nyaman dan luas, sekretaris Davino meletakkan beberapa tanaman hidup di setiap pojok ruangan.


“Wah, ruangan yang sangat nyaman, omah juga mau ruangan yang seperti ini, Vin,”  ucap Ny. Marisa memuji ruangan  kantor Davino.


“Eh, oma sini duduk” membawa orang tua itu duduk di sofa.


“Davino, Oma ingin bicara serius dengan kamu, tadinya oma ingin kamu tahu sendiri, namun, tidak ada waktu, ini tentang istrimu Kirana, oma ing-“


“Aku tahu oma”


“Apa maksud kamu? Kamu tahu apa?” tanya wanita itu menatap Davino dengan tatapan serius.


“Ia berselingkuh dengan pegawai kita namanya Alir”


“Kamu tahu? Tetapi, kenapa kamu hanya diam saja?”


“Aku baru mengetahuinya saat aku menyuruh Lilis menyelidiki, saat ia pulang dari Bandung ia juga ke apartemen Kenzo, aku ingin menceraikanya tadinya oma, namun perusahaan kita lagi ada masalah dan orang tua Kirana salah satu pemegang saham terbesar di perusahaan kita, aku takut, karena hal itu mereka mengkaitkannya dengan pernikahanku dengan Aresya.”


“Oma tidak tahu kalau kamu berpikir panjang sampai kesitu Nak, terimakasi Davino, karena kamu kembali pada pangkaun nenek, baik Papimu juga saat ini sudah berpihak pada oma, aku sayang kalian nak, oma tidak merasa sendirian lagi, terus apa rencanamu selanjutnya?”


“Apa kamu bisa mengatasinya,  Nak?”


“Iya oma”


“Bagaimana dengan Aresya oma?”


“Kata dokter ia sudah pulih,  aku takut kalian jadi incaran selanjutnya, karena itu, aku berharap jangan menemui Aresya untuk sementara waktu”


“Baik omah”


Mata Ny. Marisa menatap Davino dengan tatapan bigung karena ia sangat berbeda lebih perhatian penurut saat ini, seakan sebuah sihir jahat terlepas dari tubuhnya.


“Aku sayang padamu Davino,” ucap Oma Marisa mengusap wajah cucu semata wayangnya.

__ADS_1


Dalam hati wanita tua itu ada rasa bangga  sekaligus rasa penyesalan, menyesal karena ia terlambat memahami Davino, selama ini ia hanya sibuk menuntut ini dan itu dari Davino, tanpa memberi petunjuk  dan jalan untuk ia ikuti. Sekarang ia sadar orang yang seperti apa Davino. Mementingkan perusahaan dari pada masalah pribadinya memikirkan oma dan papinya dari pada masala pribadinya.


 Tidak terbayang betapa sakitnya di hianati orang kita percaya, istri yang ia percaya berselingkuh dengan temanya.


Sakit hati, sedih, kecewa, hal itu sudah pasti dirasakan Davino, namun demi perusahaannya ia menahan hati diri dan demi keluarga,  ia bertahan dan berpuru-pura semua baik-baik saja.


                           *


Nyonya Marisa sengaja tidak pulang kerumah utama melihat dua wanita berhati iblis akan membuatnya semakin sakit kepala, ia memutuskan  untuk tinggal di rumah yang di bekasi di mana Aresya pernah tinggal di sana.


Ia tahu ada beberapa orang yang mengikutiny sejak  berangkat ke kantor tadi pagi. Ny. Marisa takut kalau ia melihat kedaan Aresya,  takut persembunyian akan di ketahui orang yang mengejar mereka. Tetapi dalam rumah Ny. Marisa tetap memantau kedaan Aresya lewat telepon.


Di sisi lain, sudah hampir sore namun, Davino masih berkutat dengan laptop  memeriksa segala berkas  dan menendatangani. Saat jam bertengger di angka tujuh, ia menghela nafas panjang, memikirkan ia akan pulang kerumah yang mana. Pulang kerumah utama membuat  merasa berat,  bersikap pura-pura hal yang paling tidak bisa ia lakukan, ia hrus bersabar menunggu, menunggu omanya menyelesaikan masalah saham. Keluarga Kirana salah satu pemegang saham terbesar di perusahaannya, bukan hanya bapaknya, Kirana sendiri memilik beberapa persen saham dalam perusahaan Erlangga, mudah sebenarnya Ny. Marisa menendang keluarga Kirana, namun, Ayah Kirana bukan orang yang muda di usir,  ia akan mengigit saat ia merasa terancam bahkan akan mempergaruhi yang lain.


Jadi Ny. Marisa harus bermain cantikk dengannya agar ia mendapat hasil yang cantik juga.


“Aku harus pulang ke mana ini,” ucap Davino menutup laptopnya.


 Tok… Tok….


“Masuk”


Mata Davino menatap kerah pintu melihat wujud si pengetuk, betapa terkejutnya ia saat yang berdiri di depan pintu sosok yang ingin ia hindari bahkan  sangat ia benci.


Kirana berdiri di ambang pintu dengan pose bensandar di tiang pintu, denga tangan  bertengger di pinggang terlihat seperti pose foto model pakaian dalam.


“Sayang, kok melihat gak suka begitu sih,” ucap Kirana menghampiri suaminya, Davino ingin sekali mendorong tubuhnya agar menyingkir.


Ahhirnya ia paham  apa yang dikatakan Aresya saat mereka bertengkar di Surabaya adalah sebuah kebenaran.


‘Oma tahu, Aresya, Lilis mereka semua tahu, tetapi aku terlalu bodoh, karena terlalu mempercayai wanita gila ini, aku menyesal pernah menampar Aresya karena wanita menjijikan ini’


Ia salah memilih mempercayai orang, ia salah mempertahankan Kirana selama ini depan keluarganya terutama selalu membelanya di depan omanya.


“Sayang, kok melamun sih, aku datang menjemputmu loh,  ayo kita makan di tempa biasa habis itu kita bar yang biasa bagaimana?”

__ADS_1


“Aku tidak bisa Ki, oma memberiku tugas berat hari, harus menyesaikannya malam ini juga dan besok akan aku serahkan laporanya, aku harus lembur,” ucap Davino membuat alasan agar tidak bersama Kirana.


Bersambung


__ADS_2