Aresya

Aresya
Selingkuh Dengan Istri Bos


__ADS_3

.


.


.


.


Bab Vulgar, pikir dulu sebelum membaca, jangan lupa kasi like dan Vote, jika kalian suka, ya.


Davino tidak berada di rumah saat Kirana tiba,   hari sudah sore, suasana dalam kediaman Davino terlihat sepi, bahkan sangat sepi rumah sebesar itu hanya terlihat dua orang asisten rumah tangga yang sibuk menyiram taman dan sibuk menyalahkan beres- beres di sekitar rumah.


Tiba di pintu gerbang, ia menekan bel, namun tidak ada yang membuka, biasanya  pos sekuriti ada dua orang  namum saat  ini tidak ada orang, ia menekan bel untuk kedua kali belum ada yang  membuka, bahkan dalam monitor bel yang terlihat di luar gerbang,  tidak ada orang yang melihat dan mendengar.


Ia di buat menunggu beberapa manit hingga akhirnya seorang wanita berlari   menujug gerbang menunduk dengan minta maaf.


“Ibu lama bangat sih, tidak punya kuping, iya!”


“Maaf Non,  saya tidak dengar ,” ucap wanita itu merasa menyesal ia menundukkan kepalanya.


“Aku sudah lama berdiri di sini, kamu paham, tidak!”


“I-Iya Non saya tadi di belakang,” ucap wanita itu terbata-bata.


“Awas ,minggir,” ucap Kirana membentak wanita itu dan menarik kopernya.


Namun kedatangannya hari itu benar-benar tidak di harapkan, rumah besar itu terlihat sangat sunyi, tidak ada  kelihatan orang-orang yang biasanya memenuhi halaman rumah keluarga Erlangga.


“Pada kemana semua orang? Apa yang terjdi di rumah ini?” tanya Kirana menatap dengan  bingung ke sekeliling rumah.


Suasana sepi semakin terasa, saat ia memasuki lantai dua , di kamar Ny. Marisa mati lampu, kamar Difi juga mati lampu dan saat ia tiba di kamar itu kamarnya terkunci.


Mata Kirana melotot terkejut, tidak pernah terbayang dalam hidupnya kalau ia akan mengalami  hal yang tidak mengenakkan seperti ini, kedua asisten rumah tangga itu menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa ia baca, mereka menatap sinis kearah Kirana.


‘Apa telah terjadi selama dua bulan ini? Kenapa mereka menatapku seperti itu? ‘

__ADS_1


Ingin rasa menangis beteriak dengansituasi saat ini,  saat ia ingin merebahkan tubuhnya di kamar ingin menenangkan pikiranya , namun kamarnya terkunci dan ia terkurung di luar dengan satu koper besar  masi dalam gengganmanya


Berdiri di depan kamar itu seperti gelandangan yang tidak punya tempat tingggal,  membuat Kirana, merasa kehilangan harga diri, ia mencoba menelepon Davino,  tetapi lelaki itu tidak menjawabnya.


‘Kamu kurang ajar Davino kamu berengsek sialan, kamu bodoh maki Kirana”


Ia terduduk di depan pintu yang terkunci,  duduk  menunduk memeluk  kedua lututnya, kepalanya ia latakkan di antara dua lututnya .


Ia benar-benar marah saat itu, karena Davino memperlakukanya dengan buruk, mengunci kamarnya tidak membiarkanya masuk.


“Kamu akan menyesal melakukan itu padaku,” ucap Kirana di tengah-tengah tangisanya.


Ia menelepon seseorang, yang ia pikir bisa  membalaskan kemarahannya, terkadang saat kedaan marah keputusan  yang diambil sering sekali satu kesalahan yang mungkin nanti ia sesali.


Maka ada baiknya,  dinginkan kepala sebelum sebelum mengambil keputusan,  bisa jadi keputusan yang  yang diambil saat marah,  bisa merugikan diri sendiri.


Setelah menelepon seseorang dengan kedaan marah  Kirana meninggalkan rumah itu  menarik kopernya mengangkatnya kembali ke dalam bagasi mobilnya menghidupkan mesin mobilnya dan meninggalkan rumah Davino.


Dalam mobil Kirana tidak henti-hentinya menangis bahkan ia berteriak dan meneriaki nama Davino dalam kemarahan dan ia semakin menginjak pedal gas mobilnnya,  mobil itu melaju  bagai terbang di jalan bebas hambatan, Kiarana benar-benar marah.


Sebuah apartemen mewah,


Dengan cepat ia memarkirkan mobilnya  dan menekan tombol lift naik menuju lantai Sembilan.


Ting… Ting….


Pintu terbuka.”Selamat datang sayang, selamat datang di istanaku lagi,” ucap Alir.


“Jangan mengangguku dulu aku lagi marah, aku hanya ingin  tidur,” ucap Kirana mendorong kopernya dengan asal melepaskan sepatu hill berwarna merah itu melemparkannya dengan asal juga, berjalan  menuju ranjang,  menarik selimut dan ia menangis dengan kencang di bawah selimut.


“Ow … ow ada apa ini,” tanya lelaki  berbadan kekar itu mendudukkan panggulnya di samping ranjang.


“Jangan menganguku aku marah !” Teriak Kirana dengan suara meninggi,  saat Alirmenyentuh kakinya.


“Hei katakan padaku ada apa?” ucap lelaki itu.

__ADS_1


Mendengar Kirana mau datang ke tempatnya ia mandi secepat kilat dan menyuruh wanita yang berkecan dengannya untuk pulang.  Ia sengaja memakai kaos ketat dan berlengan pendek,  untuk memperlihatkan otot kekarnnya pada Kirana.


 Kirana bangun denganmasih sesegukan, “Davino mengurungku di luar dia jahat padaku”


“Oh, sudah donk saat ini kan ada aku sayang kemarilah Baby,  lupakan  lelaki jahat itu sebentar,” ucap Alir merentangkan tangannya.


Dengan sikap manja Kirana menghamburkan dirinya ke pelukan lelaki berbadan tegap itu.


“Aku lapar Lir,” ucap Kirana masih dengan sikap manja dan tubuhny  di liuk-liukkan di pelukan lelaki itu,  tubuhnya semakin berreaksi saat mencium wangi harum dari tubuh Alir, seketika ia lupa kalau ia sedang sedih


“Mau makan apa,  Baby?”  tanya Alir mengusap pinggang  Kirana,.


“Tapi aku mau mandi dulu aku tiba-tiba merasa gerah saat perjalanan ke sini.”


Kirana turun dari ranjang ia berdiri membelakangi Alir dengan gerakan  tubuh meliuk-liuk bak penari malam . Kirana menanggalkan dress mini yang ia kenakan,  tidak hanya itu, bagian pengaman  bagian dada ikut ia lepaskan kain berbentuk segiti dengan warna senada ikut juga ia tanggalkan.


Dengan gerakan gemulai ia berjalan santai kaerah kamar mandi, melihat ada ikan menari-nari memanggilnya kucing jantan itu mengikutinya ke kamar mandi.


Saat Kirana memasukkan dirinya dalam bathtub dengan cepat Alir  menanggalkan pakainya   tanpa di minta ia lansung ikut masuk ke dalam bak berwarna putih , menunggu airnya terisi penuh Alir menaburkan  satu kantung kelopak bunga berwarna merah ia juga menuangkan  beberapa botol susu cair ke dalam bak mandi kesukaan  Kirana.


Kirana meletakkan kepalanya bersandar di sisi bathtub merentangkan kedua tanganya di kedua sisi bak mandi, dengan begitu ia merasa sangat nyaman.


Tapi tidak bagi Alir,  ia masih sibuk melakukan banyak hal menyalahkan lilin dengan aroma terapi yang khusus yang disukai Kirana menyetel suhu tingkat kepanasan air yang akan merendam tubuh Kirana, ia terlihat seperti babu yang melayai tuan putri.


Alir menuangkan sabun cair di tangan dan dia duduk di depan Kirana di antara dua kakinya. Wanita itu masih menutup matanya menghirup aroma  dari lilin dan aroma dari kelopak bunga dalan bak  tempat ia berendam.


Ia tidak memerintah dan tidak menghentikan apa yang dilakukan Alir seakan akan lelaki bertubuh besar itu sudah hapal apa yang d inginkan Kirana.


Dengan gerakan tangan lembut Alirmengusap tubuh bagian depan Kirana, tangannya dengan lihai menari-nari menyusuri setiap inci tubuh wanita  bertubuh seksi itu.


Tubuh Kirana merespon gerakan tangan Alir, ia mengeluarkan suara dengan bibir di gigit dengan punggung gerakan  mendayu-dayu maju mundur.


Alir semakin bersemangat,  dengan cepat Ia tangkap dagu Kirana dan menikmati bibirnya dengan gerakan posesif, ia juga mencekram bukit indah milik Kirana.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2