Aresya

Aresya
Aku Bukan Aresya


__ADS_3

Saat papi dan omanya, terlihat bahagia tertawa melihat tingkah Arkan. Namun tidak untuk Davino, ia terlihat tegang, ada rasa kecewa, marah, matanya menatap Aresya, karena wanita itu hanya diam saja. Davino  keluar dari ruangan itu, memilih duduk di taman,  dadanya terasa sesak.


“Maaf karena tidak berkata jujur tadi padamu.” Suara itu mengalihkan pandangannya menatap pada wanita yang sudah berdiri di sampingnya.


“Kamu bukan Aresya, walau semua orang memanggilmu Aresya, tapi aku tahu kalau kamu bukan dia, di mana Aresya?” tanya Davino menatapnya dengan tatapan menajam.


“Iya aku terkejut karena kamu bisa mengenali kami secepat itu padahal selama ini banyak yang tidak bisa mengenal kami berdua, aku Ariyani kembaran Aresya.”


“Iya aku tahu, aku paham bau tubuh dari Aresya aku tahu shampoo yang ia gunakan, aku tahu parfum yang suka, dia istriku jadi aku tahu.”


“Oh, kamu betul, kami  memiliki selera berbeda dengan wangi parfum, dia suka waangi yang citrus menyengarkan sedangkan aku suka wangi yang lembut, wangi Vanila.”


“Apa yang terjadi?”


“Maaf, aku hanya ingin mengantarkan apa yang menjadi milik keluargamu, habis itu aku pulang.”


“Aku bertanya di mana dia!” suara Davino meninggi.


“Maaf aku hanya bisa sampai di sini, aku hanya mengantar Arkan pulang kerumah ini, sebahisnya kalian akan hidup masing-masing.


“Dia. Masih istriku, apa kamu paham, kamu tidak punya hak melarangku menemui istriku, kamu tidak berhak melarangku menemui ibu dari anakku,” ucap Davino  marah


.


“Aku tidak bisa … maaf,” ucap Areyani dengan sedih.


“Apa kamu pikir bisa mengantikan posisinya sebagi ibu dari Arkan? Karena kamu pikir kalian kembar,  orang lain bisa kamu tipu dengan mengaku kalau kamu istriku, maka aku tidak, Aresya istriku, ibu dari anakku bukan kamu,” ucap Davino emosi.

__ADS_1


“Pak Davino Erlangga, saya Areyani.  Tidak pernah ada niat mengantikan posisi kakaku, saya hanya melakukan amanah kakakku untuk mengantar anak ini pulang, hanya itu saja, habis ini saya juga pulang,” ucap Yani dengan sabar. Ternyata, walau mereka anak kembar sifat keduanya  tidak sama. Aresya bersikap cuek dan irit bicara. Tetapi, tidak untuk Areyani, ia anak yang sangat sabar dan bicara lembut.


“Makanya aku bilang di mana sekarang Aresya,  agar aku  bisa menjemputnya.”


Wanita bertubuh ramping itu hanya bisa menghela napas panjang, melihat sikap Davino yang keras kepala dan emosian, lelaki yang jadi suami kakaknya.


‘Bagaimana Aresya hidup dengan orang galak seperti ini, jika Resya pendiam,  ini pemarah, keseharian mereka seperti apa di rumah?’ tanya Areyani dalam hatinya.


“Kenapa diam apa  ada yang salah?” tanya Davino masih dalam kedaan marah.


“Tidak, hanya aku tidak bisa  menjawab, bapak bisa bertanya pada Nyonya  Marisa, beliau lebih paham.”


Davino  berdiri, ia berjalan buru-bur,  ia masuk kembali ke ruang tamu, suasana tiba-tiab hening melihat Davino berdiri di ambang pintu dengan kemarahan.


“Bi, katakan yang sebenarnya, dia di mana?” tanya Davino menatap bu Darma dengan tegas.


“Ah… itu a-a-“


“Davino kamu sudah tahu?” tanya Ny. Marisa  menatapnya dengan tatapan serius.


“Oma, aku tahu Aresya seperti apa, kerena dia istriku”


“Apa maksudnya?” tanya Sutomo terlihat kebingungan.


“Bi, tolong bawa Arkan ke kamarnya, biarkan dia istirahat di kamarnya, sudah ada suster yang akan mengawasinya,” ucap Ny. Marisa.


“Jadi Oma sudah tahu mereka akan datang hari ini? Apa Oma yang merencanakan semua ini? Apa benar seperti itu? Oh… itu sudah pasti seperti itu, Ny Marisa Erlangga pemegang kunci kehidupan semua  orang, harusnya aku tidak tertipu, harusnya aku tahu ada oma di balik semua ini” ucap Davino menatap omanya dengan kemarahan dan terlihat sangat kecewa. Saat ia mati-matian mencari Aresya ternyata omanya yang menyembunyikannya, ia merasa seakan-akan omanya mempermainkannya melihanya selama ini mencari Aresya, Davino merasa sangat bodoh di depan Omanya saat ini.

__ADS_1


“Davino, bukan seperti itu Nak, dengar dulu penjelasan Oma.”


“Baiklah ceritakan semuanya, saya siap mendengarnya dan saya akan menjemput Aresya”


Tiba-tiba suasananya jadi hening kembaran Aresya terlihat menunduk dengan sedih.


“Tapi, tunggu… tunggu, apa maksudnya, apa Aresya punya kembaran, jadi ini bukan Aresya?” tanya Sutomo kebingungan.


“Iya pak, saya kembaran Aresya dia kakakku dan saya adeknya nama saya Areyani,” ucap Yani berdiri memperkenalkan diri.


“Apa hanya aku di tempat ini yang tidak tahu hal itu,” tanya Sutomo menatap Davino dan Ny. Marisa.


Dalam ruangan itu hanya ada mereka karena ini pertemuan keluarga  yang sangat rahasia, Ny Marisa menyuruh anak buahnya menjauh dan mengawasi pintu, jadi orang-orang dan asisten yang bekerja di rumah keluarga Davino tidak tahu kalau Aresya yang mereka lihat adalah Areyani kembaran Aresya.


Bahkan lilis orang yang sangat teliti sekalipun bisa kecolongan, ia mengira kalau Areyani adalah Aresya.


“Iya, hanya papi sepertinya yang belum mengetahuinya,” ucap Davino.


“Terus kemana Aresya yang asli apa yang terjadi kenapa yang dia yang datang, kenapa harus menyuruh adek kembaranya yang datang?”  tanya Sumoto menatap mereka berdua bergantian.


“Oma jawab, kenapa Aresya tidak  datang, terus kenapa Oma tega membohongiku selama bertahun-tahun, kenapa oma tega melihatku menderita, padahal oma yang menyembunyikannya, setiap kali aku bertanya oma selalu bilang tidak tahu, bahkan oma menikahkanku dengan Tiara, apa aku masih sekedar moneka mainan di depan oma?”


“Davino tidak ada yang seperti itu Nak. Kamu harus paham keluarga kita yang sealalu dalam bahaya. Oma melakukan itu agar anakmu selamat, jika oma tidak melakukannya mungkinArkan tidak ada di tengah-tengah  kita saat ini,” ucap Ny marisa.


“Terus, bagaimana dengan Aresya, di mana dia sekarang?” tanya Davino menatap Omanya dengan tatapan memburu. “Tolong  beri taju Oma aku sangat merindukanya,” ucap Davino.


“Dia tidak ada lagi di dunia ini,” ucap Ny. Marisa.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2