Aresya

Aresya
Davino Masih Membenci Areaya


__ADS_3

Ny. Marisa sangat marah karena bangunan yang ia beli untuk kantor disalah gunakan oleh karyawan kantor, mereka orang-orang yang tidak tahu  mengucapkan kata terimakasih,  di saat banyak perusahaan tutup  karena perekenomian dunia yang susah.  Akan tetapi, karyawan Samudra Erlangga malah mengahancurkan tempat yang akan memberi mereka penghasilan,


"Bagaiamana mungkin dari sekian  banyak orang tidak ada yang berinisiatif untuk  berpikir,  bagaiamana biar kantor dan perusahaan ini tetap berjalan lancar. Mereka semua malah melakukan hal yang tidak pantas dalam kantor," ucap Ny. Marisa, ia menatap mereka dengan tatapan sangat kecewa.


Padahal  dari beberapa dari mereka,  ada yang sudah puluhan tahun bekerja di sana.  Perusahaan itu hancur saat di pegang sama Dios adek dari Difi ibu tiri dari Davino, dulu saat Ny. Marisa yang memimpin  masih jaya,  setelah ia serahkan pada Papinya Davino masih berjalan baik. Namun, setelah di tangan Dios semuanya berubah.


Bagunan  itu akhirnya ditutup oleh Ny. Marisa. Sebagai pemilik, ia merasa jijik dan  sangat kecewa dengan seluruh pengawai yang bekerja di dalamnya, tapi bukan berarti perusahaannya juga tutup,  ia akan membeli bagunan baru  untuk kantor,  ia juga butuh orang-orang baru untuk menjalankannya orang yang lama tidak ia terima lagi walaupun mereka  sudah berpengalaman, baginya mereka semua sampah yang harus dibuang. Ia benar-benar marah, mereka yang kedapatan korupsi, dipermalukan dan ia denda dan ia pecat itu hukuman pada orang yang tidak tahu berterimakasih.


                   **


“Saya serahkan padamu untuk  mengurus semuanya,” ucap Ny. Marisa,  pada lelaki muda yang sudah ia persiapkan sebelumnya , lelaki itulah nantinya yang akan mengurus perusahaan Samudra Erlangga di Surabaya.


“Baik Bu,” jawab lelaki muda yang berwajah tampan, namanya Devan  lelaki muda lulusan luar negeri, ia sengaja pulang ke Indonsesia atas permintaan Ny. Marisa untuk memimpin Perusahaan  besar dibidang pembuatan kapal milik keluarga Erlangga.


“Kamu juga boleh mengajari cucu menantuku,” ucap Ny Marisa memperkenalkan Aresya pada Devan.


“Halo Nona, saya Devan,” ucap Devan mengulurkan tangannya.


Aresya menyambut tangan lelaki tampan itu dengan dengan hangat, Aresya tidak tahu, kalau lelaki itu yang sudah di pilih Marisa untuk Aresya.


Ny. Marisa meninggalkan Aresya dan Devan mengobrol, meminta membawa Aresya jalan menyusuri pinggir pantai di dermaga, kapal-kapal hasil produksi perusahaan Samudera Erlangga, berderet rapi di pinggir pantai.


Saat mereka mengobrol, Davino tiba-tiba datang entah dari mana.


“Devan kapan  datang."Ke duanya akrab karena sudah kenal


“Kemarin Bos”


Aresya pamit pada Devan, ia tidak ingin dekat-dekat dengan Davino,  ia sangat membenci lelaki sombong itu, setiap kali Davino ada, maka Aresya akan pergi selalu seperti selama meraka berada di Surabaya, penjaga yang mengawal Aresya selalu waspada.


“Pak Devan, saya  mau ketemu Oma dulu, iya”


“Ok Aresya,” ucap Davino.


Tapi Davino meliriknya dengan sinis, ia tidak tahu di dalam rahim wanita yang ia benci itu, tumbuh subur buah hati mereka, walau mereka saling membenci satu sama lain, tetapi Aresya tetaplah istrinya

__ADS_1


                     *


Setelah beberapa hari di Surabaya,  akhirnya pekerjaan bisa terselesaikan, bagunan kantor baru juga akhirnya dapat, gedung perkantoran tidak jauh dari pabrik.


Iklan lowongan kerja  juga sudah di iklankan baik media  eletronik, maupun Koran.


Saat serapan pagi   selesai, Ny. Marisa mengumpulkan  semua orang, kebetulan hari itu kantor libur jadi bebas.


“Kita akan liburan hari ini, ada yang punga ide kita ke mana?” tanya wanita itu menatap para lelaki  tangguh itu, mereka adalah body guard yang ia bawa menjaga Aresya dan dirinya,  totalnya ada 8 orang di tambah supir dua,  asisten dua orang  empat belas orang.


“Saya ingin ke laut, Bu,” ucap Adi lelaki  yang memiliki tato di wajah , ia lelaki yang sudah lama bekerja untuk Marisa dan kini ditugaskan untuk mengawal Aresya.


Aresya dan Adi cukup akrap bukan seperti majikan dan Bos,  melainkan terlihat seperti sahabat karena kadang tertawa dan bercerita bersama.


“Saya setuju dengan kak Adi kita  laut  naik kapal dan-“


“Memancing, menangkap ikan bakar ikan,” ucap Ny. Marisa antusias, tetapi kalian harus tetap jaga Aresya jangan ada tahu, kalau ia sedang hamil, perlakukan dengan biasa, agar Davino tidak curiga "


“Ya Nyonya,” sahut  semua.


“Baik persiapkan semua yang kita butuhkan Bi, bawa semuanya ke kapal, mungkin kita akan menginap di sana malam ini,” perintah wanita itu pada asisten rumah tangga .


“Itu kapal Davino, jangan pakai itu, mingkin dia juga nanti akan pakai bersama teman-temannya,” ucap Ny. Marisa saat mereka tiba di dermaga.


“Kita pakai kapalku saja, itu ….”


Sebuah kapal yang lebih besar dari milik Davino.


“Ini ada spitboard, nanti kita pakai itu untuk balapan,” ucap Adi bersemangat


Pra lelaki berbadan  kekar itu juga terlihat antusias.


“Kita juga akan menghabiskan malam minggu di sini, jangan lupa mempersiapkan lagu untukku nanti Lis, " ucap wanita itu bercanda pada asistenya yang bernama lilis.


Hingga kapal mulai  perlahan menyusuri laut dan berhenti tidak jauh dari dermaga. Adi membuka pakainya dan terjun ke laut untuk menyelam, ia hanya mengunakan peralatan seadanya, saat Adi berani memulai yang lain mengikuti, keseruan di mulai.

__ADS_1


Lilis si manusia batu tidak mau ketinggalan juga, ia melepaskan pakaianya hanya mengunakan sepasang  pakaian renang  pakaian dalam yang senada, memperlihatkan tubuh ramping yang dipenuhi banyak tato, semua lelaki itu tampak cuek tidak ada yang macam-macam, tidak mau ketinggalan juga asisten yang satu lagi yang bernama Rini, saat melihat Lilis cuek dengan kedaan,  ia juga tidak mau ketinggalan ia menganti pakaian yang sudah ia persiapkan tadi,  sepasang baju renang dengan model terbuka, memperlihatkan punggunya.


“Nak, Aresya kamu tidak mau,?” tanya Ny Marisa melihat Aresya,


“Boleh aku ikut? ”


“Boleh  tapi hati-hati, kandunganmu masih lemah"


“Tapi pakaianyaku sedikit terbuka"


“Tidak apa-apa, berenang harus pakain berenang, masah pakai daster,” ucap wanita itu dengan senyum


Aresya menganti pakainnya.


“Non Resya,  mau coba,” tanya Adi menunjuk spetboard


“Coba kamu balapan dari sini sampai dermaga dan kita balik lagi,” ucap Aresya menantang Adi dan Lilis.


“Boleh sipaa takut "


Aresya sangat menjaga kehamilan ia hanya berenang sekedarnya saja, mengingat dirinya yang sedang hamil.


                           


Di sisi Lain.


Tadi malam Davino tidak pulang kerumah, ia menghabiskan waktunya dengan Devan dan temanya yang lain , ia juga rencananya akan akan memancing dengan beberapa temanya yang membawa pasangan masing-masing, saat mereka naik ke kapal Davino, ada pertunjukan yang mereka lihat.


“Vin, itu bukannya kapal oma Loe?” tanya Kiki lelaki bertubuh tinggi menunjuk kearah laut.


Mata Davino ikut menoleh saat mereka mengobrol dua kapal spitboard sedang balapan lilis dan Adi.


“Itu bukanya Lilis, wah keren,” ucap Devan memuji, namun Davino menatap dengan tatapan acuh pada Aresya yang ikut naik spitbord tetapi di bonceng seorang pengawal.


'Kenapa wanita aneh ini ada di sini, melihat tato di sekujur tubuhnya membuat jijik' Davino membatin, ia sangat benci dengan Aresya, apa lagi saat itu ada teman-teman juga.

__ADS_1


Apakah Davino masih membenci Aresya jika tau wanita itu hamil?


Bersambung...


__ADS_2