
Davino masuk ke ruang kerja Nyonya Marisa dan ia duduk di sofa . “Ada apa Omah?”
“Oma akan pada intinya, kita akan melakukan rencana kedua besok kamu akan bertemu dokter”
“Omah aku akan melakukanya sendiri, maksudku tidak perlu pakai suntikan, aku sendiri yang menyuntik wanita itu,” ucap Davino dengan kesal.
“Aku yang akan membuat dia bunting”
“Kamu tidak bisa melakukannya”
“Bisa.” jawab Davino semakin marah.
“Sayangnya … Aresya tidak mau, dia tidak ingin ada masalah dengan istrimu, dia hanya ingin melahirkan anak untuk keluarga ini, dia tidak mau macam-macam, juga tidak ingin kehilangan nyawa untuk kedua kalinya, jadi ikuti apa yang aku katakan, pergi ke dokter besok, biarkan dokter yang melakukan tugasnya”
“Omah aku ingin melakukanya sendiri, aku suaminya kenapa harus ribet, aku berhak untuk itu karena dia istriku,” ucap Davino.
“Davino, oma tidak banyak waktu untuk berdebat aku hanya ingin hidup tenang, tanpa ada yang menerorku, tugasku membantumu untuk meneruskan silsila keluarga kita”
“Oma aku juga ingin seperti itu, tapi kenapa Omah tidak mau?”
“Kamu jaga Kirana”
“Dia orang yang baik Oma, orang yang pengertian, jadi jangan mencurigai Kirana, dia sudah cukup baik menginzinkanku untuk menikahi wanita itu, dia rela di madu, mana ada wanita yang sebaik dia,” ucap Davino membela matian-matian Kirana di depan Neneknya.
“Baiklah aku juga berharap apa yang kamu katakan semuanya benar,” ucap Ny. Marisa, menghela napas panjang, dia merasa tubuhnya lelah mengurus satu cucu yang tidak berguna seperti Davino.
Walau dalam hati Davino merasa sangat keberatan tapi ia tidak ingin membantah apa yang dikatakan Marisa, maka saat ia di minta untuk menampung cairan dari tubuhhnya, semua itu di lakukan agar orang-orang di rumahnya percaya kalau Aresya telah keguguran.
‘Aku berharap ini berhasil, aku muak dengan semua ini, memang kenapa kalau tidak punya anak? Banyak yang tidak memiliki anak di dunia ini, tinggal adopsi anak saja, itu saja ribet amat’ Ia membatin Davino duduk di ruangan dokter dengan wajah kesal.
Apalagi saat diminta menunggu dokter yang akan menanganinya, karena dokter masih menangani satu orang pasien.
Sebenarnya bukan menunggu, Davinonya yang datang terlalu cepat dari jadwal yang sudah di janjikan, tadinya ia sudah ingin pulang, karena ia sudah menunggu 10 menit. Tapi saat ia berdiri ingin keluar, seorang perawat menahanya.
“Pak Davino waktu bapak tinggal lima menit lagi,” ucap perawat berwajah cantik itu dengan ramah.
“Saya disini sudah hampir 10 menit lebih Sus, apakah saya akan disuruh menunggu lagi? apa kamu pikir saya mau buang-buang waktuku yang berharga ini” ucap Davino membentak perawawat.
“Kami tidak membuat Bapak menunggu dokter, bapak yang datang terlalu cepat dari jadwal yang di tentukan”
Ia mengeluarkan ponsel dari saku celananya, saat sudah melihat ia malu sendiri, ia duduk dan merasa malu, ia marah-marah pada waktu yang salah, ia kecepatan datang.
“Selamat siang pak Davino” suara seorang dokter.
“Siang Dok, saya ing-“
“Saya sudah tahu mari masuk, Oma kamu sudah memberitahukanya padaku terlebih dahulu”
__ADS_1
Davino masuk ke dalam ruangan khusus. Meen’s Room. Kali Ini Davino lebih mudah mengeluarkanya karena ia tidak dipaksa seperti yang udah-udah, kali ini ia masuk keruangan khusus yang bisa membantunya dengan mudah mengeluarkanya.
Setelah selesai ia menyerahkan botol kecil itu ke suster dan setelah semua selesai ia pulang.
‘Harus berapa lama lagi aku seperti ini, kenapa wanita itu menolakku harusnya aku yang menolaknya, karena melihat tampangnya saja, aku sudah tidak berselera, tapi harusnya aku berbaikan saja dengannya’ ucap Davino dalam hati,
Ia bergegas ingin pulang, masuk kedalam mobil menyadarkan kepalanya di sandaran jok belakang, ia merasakan lututnya terasa lemas dan wajahnya sedikit pucat, saat ia mengeluarkan cairan benih miliknya.
“Kita kemana Pak?”
“Kita kerumah Aresya, saya dengar wanita itu sudah pulang ke sana lagi”
“Tapi Nyonya melarang siapapun yang ingin datang menemui Nona Aresya pak,” ucap pak Darma mencoba menjelaskan.
“Jangan kawatir, saya hanya datang sebentar, saya juga suaminya, kan, tidak mengapa kalau saya datang mengunjunginya”
**
Tiba di depan gerbang rumah Aresya, keempat penjaga Aresya tidak ada yang membukan pintu untuk Davino , itu atas perintah Ny. Marisa
“Dengar Bodoh, saya ini suaminya, saya datang mengunjungi istri saya, apa kalian melarang?”
“Maaf Pak Davino, kami hanya menjalankan perintah, kami tidak akan membuka pintu, untuk siapapun tidak terkecuali untuk bapak“
“Kalau tidak suruh saja wanita itu keluar, biarkan saya bicara dengannya, berlagu bangat,” rutuk Davino kesal.
Davino merasa sangat kesal ini pertama kalinya ada orang yang berani mengusirnya, ia merasa malu pada pak Darma yang tadi sudah melarangnya untuk tidak datang kerumah itu, tapi dengan percaya diri ia bilang akan mengurusnya, ternyata, saat ini ia di perlakukan layaknya tukang koperasi atau penagih hutang, karena baru saja di luar gerbang sudah diusir pergi. Ia mengeluarkan ponselnya dan memberanikan diri menelepon Ny. Marisa.
“Kenapa?” suara tegas wanita itu terdengar di ujung telepon.
“Oma, saya sudah dari rumah sakit tadi sa-“
“Baguslah”
“Ma-maksudku, saya ingin ke rumah Aresya, tapi orang- orang Oma melarangku, bisakah oma menyingkirkan mereka, aku ingin bicara dengan Aresya”
“Ngapain kesana? Oma sudah bilang jangan datang ke rumah tinggal Aresya.” Ny Marisa marah karena, ia mendatangi rumah Aresya. Karena tidak diperbolehkan masuk Davino pulang, tapi dalam hatinya ia semakin dendam pada Aresya.
“Kita pulang pak, tidak usah ke kantor lansung kerumah saja, aku ingin tidur, jangan tanya kenapa.”
“Baik Pak”
Pak Darma mengarahkan mobilnya menuju Jakarta, sepanjang perjalanan Davino terlihat sibuk menelepon seseorang tentang dari mana ia mendapatkan Foto masa lalu Aresya, kalau saja ia tidak diberi informasi yang salah seperti itu, ia tidak akan melakukan hal buruk pada wanita itu.
“Cepat katakan, kalau kamu tidak mau memberitahukanya, saya akan suruh orang mematahkan tanganmu”
Suara Davino menekan seseorang, wajah terlihat sangat marah, saat mendengar jawaban.
__ADS_1
“Tolong dipercepat pak, saya buru-buru,” ucap Davino terlihat kesal dan gelisah, Pak Darma tidak berani membuka mulutnya, ia takut salah bicara dan takut di jadikan pelampiasaan juga, maka itu lebih baik ia diam, kalau Davino bertanya baru ia akan menjawabnya.
“Baik Pak,” ucap pak Darma, menginjak pedal gas mobil yang ia kendarai, laju mobil itu semakin cepat membela jalan tol.
Setelah satu jam menempuh perjalanan Bekasi- Jakarta akhirnya tiba di depan rumah keluarga Erlangga. Davino turun dengan buru-buru, ia mencari Kirana.
Davino mencari istrinya ke tempat ia biasa mengumpul dan bergosip degan teman-teman sosialitanya. Kirana itu tidak punya pemasukan selain uang dari keluarga Davino tapi gayanya dan caranya berpoya-poya sangat luar biasa, ia sering sekali mengadakan parti-parti mewah dengan teman-temanya dan ia semua yang membiayai.
Hal itulah yang tidak disukai Ny. Marisa dari wanita itu, tapi setiap kali ia menasehati Kirana, ia akan mengaduh pada Davino dan laki-laki itu akan membela istrinya.
“Iya sayang, aku di sini sama teman-teman, ayo gabung” Kirana bergelayut manja di lengan Davino, ia akan bersikap sangat romantis di depan teman-temannya menyanjungnya dan itu akan menyenangkan hatinya.
“Ayo bicara sebentar ada yang kita bicarakan”
“Disini saja sayag,” ucap Kirana manja.
“Ini sangat penting Ki … hanya kita berdua, kalau tidak, pestanya udahan dulu iya, kapan-kapan lagi” ucap Davino, ia berbeda saat ini, kalau biasanya ia sangat menuruti apa yang Kirana mau.
Saat semua teman-teman Kirana pulang, wanita itu menyusul Davino ke kamar.
“Ada apa sih sayang, kenapa bersikap seperti itu pada teman-temanku, aku kan jadi tidak enak sama mereka,” ucap Kirana saat masuk dalam kamar.
“Katakan dari mana kamu dapat ini?” Davino melemparkan amplop coklat.
“Apa itu,” tanya Kirana membuka amplop, wajahnya lansung panik
“Dari mana kamu dapatkan itu dan kenapa kamu menyuruh orang memberikan itu padaku, karena hal itu aku melakukan hal buruk”
“Aku mendapatkannya dari teman,” jawab Kirana panik.
“Teman siapa? Teman yang mana?”
“I-tu i-tu-“
“Katakan! Ada hubungan apa kamu dengan Alir?”
“Sayang, jangan menuduhku seperti itu, -a-aku tidak punya hubungan a-apa dengan pria itu?”
“Pria ? saya tidak menyebut pria, tadi”
“I-i-iya maksudku Alir” Kirana terbata-bata saat Davino mulai mencercanya dengan berbagai pertanyaan.
Melihat gelagat Kirana yang gugup dan ketakutan ia yakin ada sesuatu yang ia sembunyikan darinya selama ini, ia yakin itu, tapi setidaknya ia sedikit paham kalau Kirana tidak sebaik yang ia pikirkan,
‘Aku mulai paham sekarang, kenapa Omah tidak pernah suka pada Kirana, Omah selalu menyebutnya ular bermuka dua, harusnya aku tidak terlalu percaya padanya selama ini, rahasia apa lagi yang ia sembunyikan dariku, apa dia juga selingkuh di belakangku?’ Tanya Davino dalam hatinya.
Bersambung ...
__ADS_1