Aresya

Aresya
Berangkat Ke Surabaya


__ADS_3

“Aku akan pulang kerumah orang tuaku,” ucap Kirana, ia berharap Davino melarangnya seperti biasa, tapi kali ini lelaki itu tiba-tiba bersikap dingin padanya.


Tidak ada  sahutan dari Davino,  Kirana marah, dengan sikap buru-buru ia memasukkan pakaiannya dalam koper,  tidak perlu mandi tidak perlu berganti pakaian,  ia hanya perlu pergi dan jauh saat ini dari Davino, ia mengambil kunci mobilnya dan menyeret  kopernya dan meninggalkan kamar, ia sangat berharap Davino melarangnya karena sebenarnya ia tidak ada niat untuk keluar dari rumah,  mudah sekali keluar dari rumah Davino, tapi susah untuk masuk kembali.


Ia sengaja mengobrak kopernya agar Davino mendengar,  tapi kali ini lelaki itu mendadak  acuh dan cuek , ia  menghiraukan Kirana walau wanita itu sudah menyeretnya koper besar miliknya keluar dari kamar.


‘Ada apa dengannya? Kenapa ia tidak melarangku pergi, please, please larang aku pergi’ ucap Kirana berjalan ragu,  saat ia tiba di samping mobilnya  tidak ada suara yang memangilnya tidak ada orang yang melarangnya pergi.


“Dasar Jahat” ucap Kirana menghidupkan mesin mobilnya dan meninggalkan rumah keluarga Erlangga lalu ia pergi.


Orang tua Kirana juga orang yang memiliki kehidupan yang lumayan,  Ayahnya seorang Pengacara kondang dan Ibunya yang menjalankan Bisnis  kuliner dan Kirana juga anak satu-satunya di keluarganya , jadi boleh di bilang Kirana juga anak orang berada.


Saat Kirana pergi meninggalkan rumah,  kini giliran Davino yang memasukkan beberapa pakaiannya ke dalam koper dan ia juga pergi bersama supir.


“Kita kemana Pak?” tanya pak Darma saat  Davino dalam mobil.


“Kita kerumah yang di Surabaya,  saya ingin ziarah ke makam Mami dulu”


“Baik Pak,” jawab lelaki paruh baya itu dengan patuh.


Maminya Davino sudah meninggal saat ia masih kecil, umur Davino saat itu sepuluh tahun, satu tahun kemudian Papinya menikahi Difi yang tak lain sekretarisnya sendiri, kematian ibu Davino  sampai saat ini masih misteri.


Setiap kali ia merasa sedih dan putus asa ia akan pulang ke Surabaya  ziarah ke makam ibunya,  hal itu akan membuat pikirannya akan tenang kembali.


*


Setelah beberapa jam perjalanan, Aresya dan rombongan sudah tiba di Surabaya, Ny. Marisa tidak perlu mencari hotel,  karena ia memiliki rumah di sana dan ada juga Villa di pinggir laut, ia memutuskan tinggal di villa, Asisten rumah tangga yang biasa menjaga rumahnya terlihat sibuk mempersiapkan makanan untuk rombongan Nyonya besar.

__ADS_1


“Nak Resya,  kita memantau Pabrik besok saja, kita akan  lanjut  ke restaurant  yang baru”


“Baik Oma,” ucap Aresya. Tapi dalam hatinya ia sangat kagum dengan  banyaknya bisnis yang di geluti keluarga Erlangga.


‘Kenapa keluarga ini memiliki banyak ladang uang sih, apa  mereka ini tidak terlalu maruk? Kenapa  begitu banyak  perusahaan yang mereka miliki? Pantesan  kedua wanita itu Difi dan Kirana,  ingin menjadi nyonya besar  di keluarga Erlangga,  karena hartanya banyak mungkin sudah menggunung  kalau  di uangkan ‘ucap Aresyah.


“Itu kamar Davino kamu boleh memakainya”


“Tidak  omah,  kamar yang lain saja”


“Dia tidak akan datang kesini, kamu boleh pakai, hati-hati dengan kehamilan kamu"


“Baik oma, tapi,  nanti aku tidak bisa tidur tenang kalau aku  di sana,” ucap Aresya seakan ia punya firasat kalau Davino akan datang  ke Surabaya.


“Baiklah, kamu boleh tidur di kamar depan, biar saya yang tidur di kamar Davino,” ucap Ny. Marisa ia mengalah, ada beberapa kamar yang bisa mereka gunakan, tapi Ny. Maris juga memberikan kamar untuk para bodyguard yang menjaganya dan untuk lilis juga.


**


Setelah pagi tiba, Nyonya besar itu mengajak semua pengawalnya untuk mengawasi Aresya,  kerena mereka akan menemui semua pekerja pabrik, wanita itu ingin mendengar keluhan langsung dari para pekerja bawahan itu, karena ia mendapat laporan kalau pendapatan dan penjualan sangat menurun dan hampir gulung tikar dan banyak klien dari luar Negeri yang mengeluh dengan kualitas buatan kapal dari perusahaanya yang semakin buruk, keluhan datang juga dari pemesan kapal dari nelayan tanah air, kapal kayu yang mereka pesan sangat jelek.


Pabrik mereka  kebanyakan mendapat pesanan dari Laur Negeri,  mereka memproduksi pembuatan kapal besar atau kapal pengangkut barang baik dari Luar Negeri  baik dalam Negeri, untuk dalam Negeri biasanya banyak yang pesan untuk kapal Nelayan yang berbahan kayu dan beberapa kapal Veri dari luar Negeri biasanya lebih berkelas untuk kapal pribadi kapal mewah berbahan baja dan fiberglass. Biasanya yang pesan kalangan artis dan pemain bola, dan pengusaha.


Ny. Marisa bukanlah pemain baru di dunia bisnis  dalam tubuhnya sudah mengalir  ilmu bisnis, maka saat ada penurunan pendapatan dan adanya keluhan dengan kualitas kapal hasil produksi yang menurun,  ia terjun langsung, ia  bahkan tidak mengabari terlebih dulu,  ia datang sidak dadakan ke pabriknya, semua pegawai dan petinggi perusahaan kocar-kacir di buatnya, ia tidaklah datang kekantor , pagi-pagi sekali ia langsung turun kebawah  bicara langsung pada para pekerja. Maka banyak pelanggaran yang ia temukan, salah satunya mengenai waktu kerja.


Pabrik yang harusnya sudah beroperasi pukul setengah delapan, tapi saat ia tiba jam  delapan, belum mulai bekerja berapa jam waktu yang terbuang sia-sia sementara perusaan akan menghitung upah mereka perjam sudah korupsi satu jam, satu jam kali  ratusan orang.


Kurangnya pengawasan di lapangan salah satu  kendala.

__ADS_1


“Mereka semua membuatku marah, panggil kesini pak Tono,” perintah Ny. Marisa tegas.


“ Baik Bu,” jawab Lilis te, ia melihat wajah kemarahan dalam bosnya.


Saat Pabrik di buka  semua pekerja di kumpulkan dalam satu aula besar ia  ingin mendengar keluhan mereka secara langsung, ternyata apa yang menjadi penyebabnya ia sudah ia ketahui.


“Jangan ada yang memberitahukan pada orang-orang kantor saya ada sini, biarkan saja saya yang lihat apa yang mereka kerjakan,   jemput langsung pak Tono jangan biarkan ia mengabari orang-orang kantor,” baik Bu Adi dengan cepat bertindak.


Mendengar penjelasan langung dari para buruh ia paham mereka tidak pantas di salahkan yang disalahkan itu harusnya perusahaan yang tidak memberi kelayakan pembayaran upah pada mereka.


“Gaji saya baru dibayar setengah Bu, sejak tiga bulan terakhir, bagaimana saya menghidupi keluarga saya, jadi saya nguli dulu di pasar,  baru saya datang ke Pabrik, karena dari sini saya tidak dapat gaji yang layak”


“Kami juga kerja lembur Bu, tapi tidak dibayar untuk lembur,” ucap seorang pekerja yang lain.


“Kurang ajar orang kantor! Gertak Ny. Marisa, Lilis! Catat semua gaji buruh yang belum dibayarkan dan lembur yang belum dibayar” ucap Ny. Marisa dengan kemarahan ia sampai berdiri karena marah. “Selesaikan hari ini juga semua buruh yang ada dalam ruangan ini harus pulang, membawa  uang hak  mereka saat ini” ucap Ny. Marisa dengan nada marah.


“Baik Bu” jawab Lilis yang berdiri di sampingnya.


“Benarkah Bu, perusahaan kita mau di tutup?”


“Kata siapa?” tanya Ny Marisa ia kaget dengan gosip yang beredar.


“Begitulah Bu, gosip yang beredar di lingkungan pabrik, karena itu bulan-bulan terakhir ini banyak karyawan yang keluar tanpa mendapat upah mereka sampai tiga bulan”


“Apaa? Apa ada Phk di pabrik ini tanpa sepengetahuan saya?”


Apa Davino akan bertemu dengan Aresya saat di Surabaya?

__ADS_1


__ADS_2