
Apa yang di lakukan Davino pada Aresya ternyata masih meninggalkan luka di hatinya, ia menolak jadi istri sah dari Davino.
“Tapi kamu bisa melakukan itu semua dengan menjadi istri Davino, dengan menjadi menantu dari keluarga Erlangga, kamu bisa lebih mudah membahagiakan adikmu” ucap Ny. Marisa.
“Aku tidak ingin satu hubungan karena paksaan, oma”
Ny. Marisa menarik napas yang sangat berat, ia tidak pernah menduga kalau Aresya akan tetap teguh pada perjajian yang mereka sepakati, padahal ia sangat mendukung wanita itu akan menjadi menantu di rumahnya
Tidak ada yang menyangka kalau Aresya menolak mengantikan posisi Kirana di rumah Erlangga. Saat Kirana berhianat Ny. Marisa ingin mengangkat status jadi istri satu-satunya Davino , namun, Aresya tidak menerimanya, ia tetep teguh pada tujuan pertamanya.
Kabar itu sampai juga ke teliga Davino, kalau ia menolak tinggal bersama dengan denganya.
Sebelum pulang ke Jakarta Ny. Marisa ingin berbelanja, niatnya ingin mengajak Aresya, membelinya barang-barang mewah berharap dengan itu ia bisa berubah pikiran. Tetapi….
“Nak, Aresya bagaimana kalau kita belanja kebutuhan kamu dan perlengkapan calon anak itu, pakaian, tas, sepatu, oma akan tunjukan tempat yang bagus nanti”
“Aku tidak ikut Oma, aku di rumah saja, pakaianku masih layak dan masih bagus,” ucap Aresya menolak, ia bukan tipe wanita yang suka berbelanja, ia mau belanja, kalau Marta sahabatnya yang mengajaknya belanja ke pasar, tetapi, kalau di mall apa lagi elite seperti mall di Singapura, Aresya merasa kurang percaya diri, maka itu, ia menolak ikut berbelanja.
“Apa kamu tidak ingin membeli sesuatu yang kamu inginkan, tas mahal, oma akan membayari semua”
“Tidak oma, aku tidak membutuhkanya,” ucap Aresya
“Apa tidak ada yang ingin kamu butuhkan?” tanya Ny. Marisa dengan tatapan penuh harap.
Lagi-lagi Aresya menggeleng tidak ingin membeli apapun, sebenarnya bukan karena ia tidak menginginkannya, namun, ia tidak mau terlalu memaanfaatkan kedaan.
Ia berpikir Ny. Marisa sudah sangat banyak membantunya, biaya merawat adiknya selama di Singapura ia berpikir biayanya pasti sangat banyak belum lagi tempat tinggal yang baru di beli untuknya dan adiknya.
Jadi ia berpikir tidak ingin menerima barang yang tidak terlalu ia butuhkan, seperi barang-barang mewah, ia tidak membutuhkanya yang ia butuhkan ingin sebuah hunian di Jakarta untuk tempat ia berkumpul bersama kedua adik.
“Baiklah, oma akan jalan kamu sama Adi dan Hendro di sini, biar aku sama lilis saja pergi, Davino mau ikut sama oma?”
__ADS_1
“Kalian semua pergi saja jalan-jalan, nikmati liburan kali ini, biar aku dan Resya di sini,”ucap Davino.
Mata para pengawal itu menatap Ny. Marisa penuh harap, mereka berharap diizinkan pergi dan menikmati kota itu tanpa embel-embel pekerjaan.
“Baiklak, kalian juga butuh liburan” Marisa memberi libur sehari untuk orang-orangnya untuk menghabiskan liburan di kota itu.
Tinggallah Davino dan Aresya berdua dalam apartemen, ia sengaja meminta omanya membawa orang-orang itu agar ia punya wktu berdua dengan Aresya.
Aresya lagi duduk di balkon sendiri memandang gedung-gedung tinggi dan pemandangan laut yang meyegarkan mata, suasana hening dan tenang.
Tidak lama kemudian, Davino duduk di sofa di sampingnya.
“Apa aku punya kesalahan?” tanya Davino menatap kearah perut Aresya Aresya.
“Ha? Tidak pak Davino tidak melakukan apa-apa.”
“Oh. Please…, jangan memanggilku dengan sebutan pak lagi, kan ‘aku sudah pernah bilang ke kamu”
“Itu dulu Aresya, sekarang saya suami kamu, bahkan kamu sudah mengandung anakku”
“Ok, baiklah aku akan membiasakan diri,” ucap Aresya santai, matanya kembali ke layar ponsel.
“Aresya, kamu kenapa masih memperlakukanku seperti pertama bertemu, apa kamu masih marah padaku atau kamu masih belum memaafkanku?”
“Tidak, aku dan pak, eh-eh… kamu tidak ada masalah, aku merasa nyaman seperti itu”
“Aku ingin kamu tinggal di rumah utama denganku sebagai suami, agar kita bisa menjaga anak dalam kandunganmu,”ucap Davino dengan hati-hati.
“Aku tidak ingin tinggal bersama, aku ingin kita beda rumah, aku lebih nyaman seperti itu,” ujar Aresya lagi.
“Kenapa kamu hanya mimikirkan hanya nyaman untuk kamu saja, aku suamimu aku berhak memintamu menemaniku untuk mengurusku”
__ADS_1
“Tapi, kita waktu itu sudah sepakat kalau aku dan kamu akan tetap tinggal pisah sampai tugasku selesai”
“Ares. Itu dulu, dulu sama sekarang sangat berbeda, dulu aku pikir kamu seorang lelaki, ternyta aku salah, karena itu aku selalu menolakmu, namun, sekarang aku tahu semua, aku yakin kalau kamu takdirku, jadi tolong pertimbangkan untuk tinggal bersamaku, aku akan selalu bersikap baik denganmu,” bujuk Davino, namun, Aresya hanya menunduk dan tidak mau menjawab. “Apa kamu mau?” tanya Davino duduk di samping Aresya, ia meraih tangan istrinya mengusapnya dengan lembut.
Aresya merasa tidak enak hati melihat sikap Davino, ia tidak tahan dengan sorot mata lelaki tampan di depannya, Davino menatap langsung ke manik-manik mata Aresya,
Manik mata berwarna hitam itu hanya bisa mengerjap dengan nafas tertahan, Aresya tidak berdaya saat wajah Davino tepat di depen matanya nafas hangat menyapu wajahnya, membuatnya menelan savilanya dengan susah paya, nafasnya seakan tertahan saat lelaki itu memburu wajanya, saat ia ingin mengalihkan matanya, satu tangan Davino menahan dagunya.
Mematung dengan napas tertahan.
“Kamu milikku saat ini Aresya, aku suamimu, kamu harus menuruti apa yang dikatan suamimu, karena dalam hukum pernikahan wanita yang menuruti kemauan suaminya adalah suatu ibadah”
Mendengar kalimat itu Aresya hanya bisa berdiam otaknya seakan-akan berhenti berpikir, ia tidak tahu harus melakukan apa, bulu kuduknya berdiri merasakan hembusan napas hangat dari hidung Davino, bau mint dari mulut Davino seakan menariknya untuk mencicipi bibir itu.
Wajah Davino semakin mendekat dan mendekat hingga bibir sensual itu mendarat di bibir Aresya, bunyi jantung Aresya lebih keras dari bunyi gendang dipukul, ia merasakan aliran dalam tubuhnya mengalir dengan deras.
“Bernapaslah, aku tidak mau kamu kehabisan nafas,” ucap Davino tersenyum kecil.
Aresya menarik tubuhnya bersandar di sofa, ia mengeluarkan napas yang ia tahan tadi, ia terengah-engah dengan pundak naik turun.
‘Memalukan kamu Aresya, belum apa-apa sudah kehabisan nafas, seperti habis lari marathon ,payaaah…’ merutuk dirinya sendiri
Saat ia bersandari di sofa, lagi lelaki itu menarik tubuhnya, Davino mebenarkan posisi tubuh Aresya, ia mengeser badanya duduk dengan posisi nyamanan posisi tubuh menghadap Aresya, raut wajah yang sama seperti tadi mematung dengan mata membulat.
Davino yang merasa seorang suami, ia megangap dirinya, bahwa ia berhak menikmati bibir bahkan tubuh istrinya.
Lelaki berwajah tampan itu memegang kembali dagu Aresya mengercapnya denga lembut dan lidahnya masuk ke semakin dalam mengelitik bagin rongga mulut Aresya, ia masih diam membiarkan suaminya bermain sendiri, namun Davino tidak ingin bermain sendiri.
Ia mengerakkan tangannya menyelinap ke kemeja Aresya menyentuh dua benda lembut milik istrinya, Aresya menegang hingga akhirnya menutup mata dan menerima sentuhan bibir Davino.
“Tenanglah, aku akan melakukannya dengan hati-hati tidak akan menyakiti anak kita,” bisik Davino mengusap perut bucit Aresya.
__ADS_1
Bersambung.