
“Apa kamu akan sejauh itu, kamu membalasku dengan meniduri wanita lain lagi, tanpa seizinku!”
“Sudah hentikan suaramu, aku muak mendengarnya, aku pusing ” ucap Davino setengah mabuk.
“Alice itu sainganku dari dulu, dia melihatmu membawa wanita muda lagi ke dalam hotel, dia, akan menggosipkan aku nanti Davino kamu paham itu”
“Berisik aku mau tidur” ucap Davino mendorong tubuh Kirana, ia naik keranjang dan tidur. Tidak menghiraukan ocehan dan tangisan Kirana.
Davino pulang kerumah dengan keadaan setengah sadar, setelah pertengkarannya dengan Kirana kemarin sore ia menghabiskan malam di sebuah Bar minum dan turun ke lantai dance, bahkan Davino tidak tidak tahu bagaimana kejadian di malam itu, kenapa ia bisa ia berada dalam satu selimut dengan Alice juga padahal yang ia pesan wanita muda, ia seorang wanita bebas, wanita itu musuh bebuyutan Kirana sejak dari kuliah hingga saat ini, selalu bersaing dalam banyak hal.
Saat Davino bersama dengannya Alice, ia mengirim foto mereka untuk Kirana, tidak terima saat Davino tidur dengan Alice, terluka , kecewa, marah itu yang ia rasakan.
Ny . Marisa bangun seperti kebiasaan setiap pagi, ia melakukan olahraga pagi dengan lari-lari pagi mengelilingi rumah besar mereka, ia tidak perlu keluar , rumahnya cukup luas dan memiliki halaman yang luas jadi untuk lari pagi biasa ia lakukan cukup di halaman saja.
Keributan di lantai dua kamar Kirana dan Davino terdengar jelas olehnya sebagai orang tua yang sudah sepuh, ia hanya mendengus kecil mendengar pertengkaran mereka, sebenarnya bukan pertengkaran karena hanya suara Kirana yang terdengar berteriak memaki dan menangis meneriaki Davino lelaki itu hanya menjawab sesekali habis itu ia tidur di ranjang.
Bicara dengan orang yang belum sadar, sama saja kita bicara dengan orang yang tidak waras karena jawaban yang di berikan ngelantur tidak jelas.
“Kenapa kamu tidur dengan Alice, dia musuhku,dia akan bergosip itu nanti kemana-mana,” ucap Kirana sambil berteriak.
Davino hanya mengibaskan tangannya dengan mata terpejam, tapi saat suara Kirana semakin meninggi ia mendorong tubuh wanita itu dari kamar dan mengunci pintu, ia kembali tidur.
Kirana kaget melihat perlakukan kasar Davino padanya, ini pertama kalinya Davino kasar, bukan hanya ia yang terkejut nenek Lampir Ibu mertuanya tertawa meledek melihat Kirana di usir.
“Kenapa sayang, ayo bangun sini, butuh kamar datang ke kamarku,” ucapnya meledek.
“Ckk …” Kirana mendesis kesal melihat kelakuan ibu mertuanya.
Mereka berdua selalu berselisih di rumah itu, Difi ingin Kirana tunduk padanya dan mengakui kalau ia juga nyonya di rumah itu.
Tapi Kirana tidak pernah menganggapnya sebagai Ibu mertua karena baginya Difi hanya Ibu tiri dari suaminya ,
“Mana, katanya suami kamu tidak pernah marah selalu menuruti kemauan kamu dan selalu memanjakan kamu, tapi mana buktinya kamu ditendang dari kamar.”
__ADS_1
“Ibu, tenang saja, tidak apa-apa”
“Bagaimana tidak apa-apa kalau suamimu tidur dengan temanmu sendiri, masih bisa terima?”
“Bodo, bukan urusan Ibu,” ucap Kirana, dengan raut wajah semakin kesal tapi dalam hati ada perasaan panas , image ia sebagai istri yang dimanja suami yang ia bangun selama ini tiba-tiba runtuh saat itu mertua sudah mengetahuinya.
Tapi saat mereka berdua saling menyindir, tiba-tiba Ny. Marisa masuk, keduanya langsung ambil jarak dan melakukan kegiatan masing-masing, wanita itu tidak mengatakan apa-apa hanya melewati Kirana dan masuk kembali ke dalam kamar, tapi ia masih sempat mendengar pertengkaran kedua menantu itu, satu menantunya dan satu lagi cucu menantu.
‘Kedua ular saling mengigit’ Ny. Marisa membatin lalu masuk kamar, Ny. Marisa memeriksa layar ponselnya apa yang di harapkan datang.
Pesan dari Lilis asistennya, ia bilang ia mendapatkan apa yang ia cari, tadi malam ia meminta wanita yang jago bela diri untuk menyelidiki Alir Lelaki yang memberikan foto-foto masa lalu Aresya pada Kirana.
[Kerja bagus]Ny Marisa membalas pesan Lilis, tidak lupa juga ia menekan nomor Aresya.
“Halo Oma,” suara Aresya di ujung telepon.
“Sudah bangun?”
“Kamu sudah siap-siap Nak? Nanti supir akan menjemputmu dari sana”
“Baik Omah” jawab Aresya.
Ny Marisa sepertinya menerapkan ungkapan bijak seperti ini’ Jika kamu ingin orang lain memberikan hal terbaik untuk kamu. Kamu juga akan melakukan hal yang baik untuknya terlebih dulu’
Ny Marisa ingin Aresya mempercayainya, ia ingin wanita itu merasa nyaman dengannya menganggapnya sebagai keluarga, saat Davino sebagai suami tidak memberikannya perhatian dan kasih sayang, ia datang menggantikannya, ia menjadi sosok yang bisa di percaya dan menganggapnya keluarga, dengan begitu Aresya mau melakukan apapun yang ia mau.
Ny. Marisa hari ini akan membawa Aresya melihat pabrik pembuatan kapal, salah satu ladang penghasilan keluarga Davino. Sebuah pabrik pembuatan kapal tempatnya ada di Surabaya, Davino juga sebenarnya lebih senang bekerja di pembuatan kapal, karena ia merasa jenuh lelah tinggal pergi kelaut membawa kapal pribadinya untuk menghilangkan kepenatan.
*
Aresya dan Ny. Marisa dan beberapa bodyguard berangkat ke Surabaya, hal yang pertama kali di lakukan Ny. Marisa, membawa seseorang untuk menemaninya berlibur dan memantau pekerjaan.
Ny.Marisa berangkat ke Surabaya mengunakan dua Mobil di mana di dalamnya kebanyakan penjaga yang untuk Aresya.
__ADS_1
Disisi lain Kirana masih terkunci di luar oleh Davino, lelaki itu tertidur pulas, ia menghiraukan Kirana yang mengendor-ngendor pintu kamar, ia semakin berani berteriak saat melihat Nyonya besar meninggalkan rumah.
“Davino, buka pintunya, kalau kamu tidak membuka pintu, kamu akan menyesal nantinya, aku akan pulang kerumah orang tuaku!” Teriak Kirana, menggedor semakin kuat, tapi Davino menghiraukannya, ia menunggu Davino sampai bangun, saat sore, barulah terbangun.
Melihat Davino sudah keluar dari kamar, Kirana masuk ke lagi kedalam kama.
“Apa otak, sudah berjalan lancar?”tanya Kirana emosi.
“Apaa?”
“Apa kamu sudah sadar?”
“Sudah, kenapa?”
“Masih tanya kenapa , apa kamu tidak tahu apa yang sudah kamu lakukan di dalam Bar?”
“Jangan membahasnya itulagi”
“Kenapa kamu tidur dengan Alice” Kirana memotong pembicaraan Davino.
“Sudah aku bilang jangan membahasnya itu,” ucap Davino berdiri kearah balkon, wajahnya terlihat sangat kecewa pada Kirana.
“Kamu jahat, kenapa harus dia sih,aku kecewa sama kamu.” Ucap Kirana .
‘Aku juga tidak akan melakukan itu, tapi kamu pantas mendapatkan hal itu’ ucap Davino dalam hati.
Tapi anehnya Davino hanya diam, wajahnya terlihat datar, tidak membantah apapun yang di katakan Kirana, tapi tatapan matanya menatap jauh kearah jalanan, ia terlihat sedih.
Karena Kirana itu semakin marah karena ia di acuhkan.
“Aku akan pulang kerumah orang tuaku,” ucap Kirana, ia berharap Davino melarangnya seperti biasa, tapi kali ini lelaki itu tiba-tiba bersikap acuh tidak perduli.
Bersambung …
__ADS_1