Aresya

Aresya
Suami Merendahkannya


__ADS_3

Di sisi lain.


Sudah beberapa hari sejak Karina meninggalkan rumah dan pulang kerumah keluarganya, ia berharap Davino menjemutnya pulang, akan tetapi, tidak tahu kenapa Davino seakan melupakan istrinya.


Davino juga tidak berniat untuk menjeguk istrinya.


“Vin, Oma tidak mau mengurusi rumah tangga kamu dengan Kirana tapi apa terjadi?”


“Tidak apa-apa Omah,  jangan kawatir, aku dan istriku baik-baik saja,  dia baik dan  selalu menghargaiku,” ucap Davino melirik Aresya dengan sinis.


‘Baguslah, setidaknya ada wanita yang mencintaimu dengan sikap sombongmu’ ucap Aresya dalam hati.


“Jadi kita akan memulai dari sini, Aresya  dan oma akan tinggal di  Surabaya,  aku ingin menyerahkan Samudra Erlangga untuk Aresya”


“Apaa? dia tahu apa oma, dia hanya tamatan SMP mana mungkin pemimpin satu perusaan,” ucap Davino marah.


“Terkadang pengalaman  jadi guru yang paling berharga,  melebihi sekolah,  Aresya sudah pernah bekerja di perkapalan,  jadi dia sudah mempunyai banyak pengalaman, ada Devan yang akan mengajari,” ucap Ny. Marisa.


“Terus bagaimana  dengan rencana punya anak?” tanya Davino.


“Omah sudah membuat janji dengan dokter, kamu tunggu saja”


“Baik Oma”


Terbalik dengan Davino yang merasa sangat keberatan menemui dokter dandan menampung cairan miliknya lagi,  ia terlihat sangat  kesal saat Ny. Marisa memberikan perusahaan kapal untuk diawasi sama Aresya.


“Davino bagaimana dengan kamu?’ tanya Ny. Marisa menatap  cucu satu-satunya.


“Baiklah,”  jawab Davino tidak bersemangat.


“Baiklah kalian berdua pergilah, Aresya juga ingin menemui dokter pribadi yang oma siapkan,” ucap marisa mengedipkan mat pada Aresya,  padahal Aresya ingin memeriksa kandungannya.


“Baik Omah,” jawab Aresya.


               *


Davino  berganti pakain dan menunggu Aresya dalam mobil,  sesuai permintaan Omanya,  ia ingin menyetir sendiri dan pergi berdua.


Namun diam-diam pengawal Aresya mengawasi mereke berdua.

__ADS_1


Aresya duduk berdua dalam keheningan dalam mobil, ia sibuk memainkan ponselnya  sedangkan Davino sibuk dengan kemudi mobil,  keduanya  untuk pertama kalinya duduk berdampingan dalam satu mobil, Aresya tidak bisa menghindar,  karena Ny. Marisa yang memerintah.


Saat lagi sibuk melihat layar ponsel, tiba-tiba Davino mengerem mendadak,  kepala Aresya terbentur ke bagian depan mobil.


“Awuuuu” Resya memegang kepalanya yang terbentur


Davino tidak mengatakan apa-apa,  tidak meminta maaf dan tidak merasa bersalah, padahal Aresya sudah meringis kesakitan,  ia sengaja melakukanya karea melihat Aresya yang sibuk dengan ponselnya.


Aresya memegang perutnya dengan diam-diam, ia merasakan jantungnya berdetak cepat karena kaget, ia tidak  mengatakan apa-apa,   hanya mengusap keningnya.


‘Aku berharap dia tidak kenapa-napa’ Bisik Aresya dalam hati.


‘Aku hanya akan perlu bertahan,  agar semua ini cepat selesai,  aku ingin bertemu ibu dan adekku, Berhatanlah Aresya, bertahanlah’ ucap Aresya beberapa kali,  tangannya memegang kepalanya yang terasa berdenyut,  sudah membengkak sebesar kelereng.


Suasana kembali hening,  hujan  tiba-tiba turun memperlambat perjalanan  keduanya menuju rumah sakit, tatapan Aresya terfokus kearah jalanan , setiap kali melihat hujan, ia selalu merasakan ketakutan.


Tapi tiba-tiba di jalan seorang wanita muda berlari menerpa hujan dengan membawa bakul dalam pundaknya seperti dagangannya. Ia kehujanan dan jualannya juga  kehujanan .


Bersabarlah, aku akan datang nanti, bersabarlah aku pasti akan memperbaiki semuanya, ucap Aresya ia merasa sedih mengingat saudara kembarnya,  air matanya  mengalir tak terbendung.


“Apa kamu menangis hanya karena luka kecil itu, kamu terlalu cegeng ,” ucap Davino. Niatnya ingin memulai obrolan,  tapi bagi Aresya  ia hanya manusia yang tidak perlu di hiraukan,  Aresya tetap dingin dan tidak mengucapkan sepatah katapun.


“Dengar pak Davino, saya tidak tahu apa yang kamu pikirkan dan apa yang anda rencanakan untukku,tapi aku hanya ingin semua cepat selesai, jadi mari kita saling berkerja sama, jadi bantu  saya” ucap Aresya menatap serius.


“Ckkk, apa uang begitu pentingnya di mata orang-orang seperti kalian? Oh, begini saja, karena hujan bagaimana kalau kita ke hotel dan aku akan membayar kamu, bukankah kamu sudah menjual tubuhmu untuk kelurgaku berarti aku bisa memakainya donk,” ucap Davino merendahkan.


Aresya  meremas sisi jok dengan kuat,  ia menahan  emosinya ingin rasanya ia menghajar Davino karena sudah  merendahkanya.


“Oh. Bagaimana dengan harga kamu,  untuk sekali pakai?”


Aresya hanya diam, ia membuka sedikit kaca jendela mobil membiarkan angin  menyapu wajahnya, terasa sakit dan bagian ulu hatinya sangat panas,  untuk menyegarkan wajahnya  hatinya yang  mendidih.


‘Berikan aku kekuatan’bisik Aresya  menatap lngi.


Karena ia diam Davino semakin kesal, ia memancing emosi aresya.


“Bagaimana?” tanya Davino


“Apa kamu tidak bisa diam, apa mulut bapak pemberian iblis, kenapa setiap kata yang keluar dari mulut bapak selalu mengandung racun”

__ADS_1


“Lebih baik, beracun dari pada menjual diri berkedok pernikahan”


Aresya tidak tahan lagi dengan kata-kata penghinaan yang dilakukan Davino, ia sudah mengepal tangannya.


Tiba-tiba  mobil berhenti, “Kita sudah sampai di Hotel” mata Aresya menatap tajam , Davino menyengitkan alisnya, untung melintas di depanya seorang yang berpakaian putih.


Seorang dokter melintas dari depan mobil mereka, Aresyah turun ternyata di sebuah rumah sakit,  ia berlari ke kamar mandi dan mengeluarkan isi perutnya, menahan emosi sepanjang jalan membuat tubuh Aresya terguncang, ia berjongkong di salah kloset kamar mandi rumah sakit sekitar  lima  menit ia bangkit lagi menatap pantulan kaca.


“Kamu harus kuat Aresya,  apapun yang di katakan lelaki itu abaikan” ucap Aresya pada pantulan kaca.


Ia membasuh wajahnya dan menyingkirkan  air dari wajahnya,  Aresya berjalan keluar dari kamar mandi, Davino masih duduk menunggunya di ruang tunggu rumah sakit.


“Dari mana lama amat?” tanya Davino  marah.


“Saya dari kamar mandi pak, mari,” ucap Aresya  naik  ke lantai atas suasana lift rumah sakit rame,  tiba-tiba ada tangan yang menahan agar Aresya tidak terjepit di antara tubuh orang –orang yang naik lift. Saat Davino bersikap tidak perduli , akan tetapi ada orang yang memperdulikanya.


“Pak Devan?”


Aresya menatap dengan wajah ceriah,  melihat Devan tepat di depanya menahan  orang dengan tubuhnya.


“Mau kemana?”


“Mau ke atas bertemu dokter,” ucap Aresya menutup-nutupi kalau Davino bersamanya.


Padahal masih ada dua lantai lagi untuk menemui dokter,  tapi Davino sudah turun,  ia tidak mau Devan melihatnya datang bersama Aresya.


Aresya turun di lantai  lima, sementara Devan masih naik menuju lantai  tujut rumah sakit,  ia mau menjenguk saudara yang sedang sakit.


Davino terpaksa menggunakan tangga untuk tiba ke ruangan  Dr. Surya,  dokter yang akan menangani  nantinya,  Aresya sudah masuk keruangan Dr. Surya namun, Davino belum  tiba, saat ia tiba  bajunya basah karena keringat.


“Apa pak Davino berlari menggunakan tangga?”


“Iya Dok , tadi liftnya penuh  jadi saya naik tangga,” ucap Davino melirik Aresya dengan tatapan sinis.


“Mari-mari masuk kita akan cek”  Dokter Surya membawa Davino ke dalam ruanganya,


Sementara Aresya menemui dokter kandungan yang sudah dipesan Marisa, ia terpaksa membuat sandiwara untuk menghindari orang yang mengikuti mereka.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2