
Setelah berhasil menangkap penjahat tersebut, Lilis mengikat tanganya dan mengikat mulutnya, agar tidak bisa menghabisi dirinya sendiri, mereka tidak ingin informasi tentang orang yang menyuruh mereka terungkap. Lalu siapa yang menyuruh mereka kali ini?
Lilis membuka penutup kepala mereka, namun mereka saling melihat dengan Ny. Marisa.
“Ada apa oma, siapa mereka, apa oma mengenalnya?” Davino menatap omanya dengan tatapan takut.
Wanita itu hanya mengeleng lemah, tetapi, di balik tatapan mata itu ada ketakutan, ia takut musuh yang mengincar keluargaanya melebihi kekuatan yang ia miliki.
“Singkirkan mereka tanpa jejak,” ucap Ny. Marisa untungnya, anak buahnya semua orang- orang yang pintar, sebelum ada orang lain yang melihat, dengan cepat, mereka meyingkirkan ke tiga mayat itu dan menyembunyikan satu orang yang masih hidup tadi.
“Baik, Bu” jawab Adi.
Adi membawa yang satu orang yang masih hidup tadi ke rumah lama mengurungnya di bawa ruang bawah tanah. Lilis ikut juga mengikutinya, ia tahu mereka berempat pasti di sewa seseorang yang punya kekuasaan tinggi.
“Dengar! Aku tidak akan meminta kamu untuk menceritakan siapa yang menyuruhmu … siapa yang gurumu, karena aku taku itu akan buang-buang tenaga dan energiku, karena kamu juga tidak akan memberitahukannya, jadi percuma, aku hanya tidak akan membiarkan kamu mati dengan kemauanmu, jadi aku ingin mengurung kamu di sini dan kamu akan mati sendiri, ini adah rumah gudang, kami jarang mengunakanya, tetapi kalau kamu ingin mengatakan sesuatu kamu tinggal memberi tanda ini” menunjuk seperti sebuah bel di depanya.” Jika kamu menekannya, aku akan datang, namun , kalau kamu ingin mengatakan sesuatu padaku, tetapi kalau kamu tidak mau mengatakan apa-apa tidak usah lakukan,” ucap Lilis meninggalkan, hukuman yang paling menyakitan pada orang seperti mereka adalah hukuman membiarkannya mati secara perlahan, tidak memberi makan dan minum hanya menunggu kapan kematian menjemput.
Meninggalkan lelaki itu dengan kedaan sekarat, lampu di ruangan gudang sengaja di hidupkan, agar ia bisa melihat bel yang ia gunakan.
**.
“Apa kamu yakin akan ia akan menekan belnya, Lis?” tanya Adi penasaran.
“Entahlah, mereka orang-orang yang setia pada majikannya lebih baik mati dari pada buka mulut, tetapi percuma juga, walau kita memukuli mereka sampai patah tulang dan kepala pecah, yakinlah mereka tidak akan mau buka mulut,” ucap Lina santai, menghabiskan hidupnya belajar bela diri dan berkecimpung dengan kehidupan yang keras layaknya seorang Ninja, Lilis tahu persis bagimana kehidupan mereka
“Apakah ia memilih mati dari pada meminta ampun dan menceritakanya?”
“Kita lihat saja nanti,” ucap Lilis tidak ingin mengotori tanganya untuk seseorang yang sudah sekarat.
Tidak ada yang tahu penyerangan Aresya kali ini tidak ada yang tahu, benar kata lilis mereka mengawasi lelaki itu menekan bel di depanya namun ia tidak melakukanya.
__ADS_1
Lilis masih punya hati nurani saat ia melihat kaki lelaki itu terluka mengobatinya , memberikan satu boto air minum, namun ia sudah terluka parah akibat senjata lilis yang melukainya, tidak bertahan lama ia mati.
Dengan adanya penyerangan di rumah itu lagi, penjagaan semakin di perketat Aresya hanya di perlobehkan di dalam kamar, sementara waktu hingga kedaan kembai membaik.
“Tidak boleh seperti ini Lis,aku harus melakukan sesuatu dengan Aresya, agar semua berjalan sesuai rencana,” ucap Ny. Marisa bicara dengan lils.
“Bawa saja Aresya bertemu kembaranya, aku dengar orang yang kembar itu saling menolong” Lilis memberi ide.
Pendapat Lilis diterima Ny. Marisa, ia setuju membawa Aresya kembali bertemu dengan Aryani adek kembar Aresya, berharap dengan begitu mereka berdua saling meguatkan.
Davino juga setuju. Lelaki berwajah tampan itu, bersedia mendampingi istrinya ke Singapura.
“Baiklah Oma, tapi, biarkan aku menemani, Aresya”
“Baiklah besok tengah malam kita akan berangkat buat persiapan,” ucap wanita itu memberi perintah
*
Membawa semua anak buahnya untuk mengawasi Davino dan Aresya, wanita tua itu sadar, saat ini, situasinya berbeda, sekarang saat ini nyawa Davino dalam dalam bahaya juga, sejak ia mengumumkan kalau Davino pewaris tunggal dan penerus Group Erlangga, seakan hidupnya dalam bayangan bahaya.
Akhirnya malam itu demi kesembuhan Aresya, mereka memutuskan terbangkan lagi ke Singapura untuk bertemu dengan saudara kembar
Ia masih bersikap acuh pada Davino, bersikap seakan Davino orang lain dan bukan suaminya. Padahal ia sudah berusaha mendekati namun ia menjauhkan dirinya juga.
Davino memutar otak, bagaimana caranya agar Aresya percaya kalau ia suaminya. Ia baru ingat kalau ia dan Aresya ada foto selfi bersama, saat di Singapura dulu.
‘ Oh aku aku baru ingat’
Davino merogo kantong celananya mengeluarkan ponsel miliknya. ”Tunggu jangan pergi, aku mau memperlihatkan sesuatu pada kamu,” ucap Davino menahan tangan Aresya saat ia duduk di samping Aresya. Namun wanita yang kehilangan ingatannya itu ingin berdiri.
__ADS_1
Matanya menatap dengan tatapan menyelidiki, Davino mengusap layar ponselnya menunjuk kearah layar, awalnya matanya menatap dengan acuh, tetapi saat ia melihat foto mereka terdua terlihat sangat akrap hal itu menarik perhatianya, ia melihat layar ponsel dan melihat ke wajah Davino juga memastikan orang dalam layar ponsel yang ia pegang, orang yang sama dengan duduk di sampingnya saat ini.
Saat bersama Aresya saat itu, dalam beberapa kali jepretan , Davino mengarahkan bibirny ke wajah Aresya, seakan ia ingin mencium wanita yang irit bicara saat itu.
Ia menatap dengan lama, hingga akhirnya ia meminta ponselnya, ia memegang sendiri dan mengusap layarnya, ia memiringkan kepalanya saat melihat sosok Areyani yang sedang berbaring di ranjang rumah sakit. Davino mengabil foto Areyani dengan diam-diam saat mereka datang ke rumah sakit saat itu.
Jari tangannya Aresya menunjuk foto seakan bertanya ‘ini siapa?’
“Namanya Areyani ia adalah adek kembar, kamu,” ucap Davino menjelaskan dengan sabar. “Aku adalah suami, kamu tidak perlu takut denganku”
Aresya, merasa tersentuh dengan kesabaran Davino yang sabar menceritakan banyak hal untuknya, menceritakan tentang perjalanan mereka selama di Singapura saat itu.
Saat Davino menunjukkan foto mereka dan foto Areyani, ia mulai merasa nyaman.
“Kamu tidak perlu tidur karena perjalanan kita sebentar lagi sampai, aku akan menunjukkan tempat yang pernah kita datangi,” ucap Davino saat Aresya menguap.
Hingg pesawat mewah itu mendarat di bandra Singapura, pagi itu. Mereka inginya langsung ke rumah sakit, namun dokter meminta mereka agar datang jam delapan pagi. Masih ada waktu untuk istirahat, NY. Marisa punya apartemen mewah di tidak jauh dari rumah sakit. Jadi mereka memutuskan untuk menginap di sana.
Baru saja Ny Marisa merebahkan tubuhnya, tetapi, ia merasa bulu kuduk berdiri dan suasana dalam ruangan apartemen tiba-tib terasa sangat dingin.
Merasakan situasi yang aneh Ny. Marisa bangun dan bergegas menuju kamar Aresya, ternyata Aresya lagi berada di balkon bersama Davino, mereka tidak menyadari, sepasang mata menyeramkan, si Bayangan Hitam ternyata masih datang.
Dengannxcepat Ny. Marisa menarik keduanya kedalam dan menutup pintu, tubuh Aresya di dorong ke dalam rumah.
“Omah! Ada apa?” tanya Davino terkejut.
“Iblis itu ternyata masih ada, dia mengikuti kita, mengawasi kalian berdua tadi”
“Aku tidak menyadarinya,” ucap Davino memegang detak jantung.
__ADS_1
Bersambung