Aresya

Aresya
Alasan setuju menikah


__ADS_3

“Baiklah lakukan,” pintah Dokter, perawat membawa Resya ke satu ruangan, setelah dicek, hasilnya benar, barulah  ia boleh menyumbang cairan merah miliknya. Aresya memberi dua kantong darah untuk Ny. Marisa.


“Sudah sus” Aresya berdiri sempoyongan merasa sangat pusing.


“Tidak. Tunggu sampai tenaga mbak pulih biar tidak pusing” Suster mengingatkanya,  meminta istrahat, Aresyah tertidur di ranjang di sebelah Ny. Marisa,  Resyahlah yang menyelamatkan nyawa wanita itu hingga ia selamat,  setelah  setengah hari  Ny. Marisa terbangun, ada Aresyah  tertidur di sampingnya.


 Akhirnya wanita itu terbangun juga. Ia menekan tanda darurat,  seorang perawat datang bersama seorang Dokter untuk memeriksa lagi.


“Syukurlah Ibu sudah siumana, ibu beruntung,  karna  wanita itu yang menyelamatkan, dia juga  bersedia  menodorkan miliknya untuk Ibu, karena itu Ibu selamat,” ucap Dokter.


Ia terkejut karena ada seorang wanita yang punya  golongan dengannya, matanya menatap tajam pada wanita yang tertidur pulas di ranjang rumah sakit di sampingnya.


“Apa dia pingsan?” tanya Ny. Marisa menatap Dokter dan Perawat.


“Tidak,  dia hanya merasa sangat lemah saat meyumbangkan  dua kantong darahnya untuk anda.”


Medengar ada suara-suara,  Aresya terbangun juga, matanya memerah, tangannya membenarkan pakaiannya,  bibirnya tersenyum tulus saat melihat Nyonya Marisa sudah bangun,


“Syukurah ibu sudah siuman, saya sempat khawatir tadinya,” ucap Aresya tangannya masih  mengucek matanya yang sedikit berkunang-kunang.


“Terimakasih,” ucap Ny. Marisa menatapnya dengan sangat dalam, ada banyak suara-suara sumbang dalam pikiran  wanita itu,  saat melihat ada wanita yang punya golongan yang sama dengan keluarganya,  terlebih,  bisa menyelamatkanya hidupnya.


Baginya wanita itu, Aresya adalah orang yang  paling berharga yang  bisa menyelamatkan keluarganya.


“Sama-sama bu, saya juga senang karena ibu sudah sembuh, kalau begitu juga saya bisa pulang sekarang,”ujar aresya ingin pamit pulang.


“Apa kamu bekerja di LanggaTex?”Tanya nyonya Marisa menatap seragam Aresya.


“Iya, Bu”


“Apa kamu tidak mengenalku?”


Mata Aresya menatap dengan dalam, mencoba mengingat siapa wanita yang ia selamatkan itu, tapi otaknya tidak mendapatkan jawaban dari pertanyaan wanita itu.


“Tidak,” jawab Resya.

__ADS_1


“Saya pemilik LanggaTex”


“Oh, Ibu Direktur, saya minta maaf bu, saya sungguh tidak tahu,” ucap Aresyah menundukkan kepalanya dengan hormat.


“Tidak apa-apa,  bisa pinjamkan  saya ponselmu, saya ingin menghubungi supirku kalau tidak asistenku,”


“Maaf Nyonya, ponsel saya tidak bisa di gunakan untuk internet, hanya menelepon biasa,” ucap aresyah dengan   sikap ragu-ragu memberikan ponsel butut yang sudah tidak layak lagi di gunakan, bahkan batrainya sudah terlihat sudah membengkak.


Ny. Marisa tetap memakainya untuk menelepon Asistenya, untung  otaknya masih bisa menghapal nomor-nomor penting di dalam kepalanya.


“Terimakasih nak, jangan khwatir saya sudah menginzinkanmu selama tiga hari, jangan kawatir tidak ada potongan gaji.”


“Terimakasi, Nyonya,tapi…, kenapa harus tiga hari, saya tidak apa-apa saya tidak terluka.” Aresya menatap dengan bigung.


“Saya butuh bantuan, siapa namamu tadi?”


“Aresyah Nyonya.”


“Oh, iya Aresya nama yang bagus. Saya butuh bantuanmu menjagaku selama di rumah sakit ini, Nona Aresya.”


Setelah dua hari dalam perawatan, sesuai permitaan Nyonya besar itu, Aresya yang menjaganya, apalagi sehari setelah menjaga asisten Marisa memberinya amplop yang berisi  uang warna merah 30 lembar, berarti sekitar tiga juta, sebagai ganti uang lembur, tentu saja Resyah  melompat kegirangan dalam hati, karena mendapat uang sebanyak itu.


Saat itu juga ia meminta izin dan mengirimkan uangnya ke orangtuanya .


Hari ketiga, saat Aresya membantunya memberi minum obat, tiba-tiba Ny. Marisa memberinya tawaran yang  bisa menyelamatkan nyawa adeknya, bukan hanya adeknya, bahkan kehidupan keluarganya.


Marisa juga tidak asal meminta sesuatu padanya, ia sudah menyelidiki semuanya, sehari saat ia dirawat, saat Nyonya besar itu tahu , kalau Aresya memiliki apa yang di butuhkan keluarganya, ia sudah menyelidiki latar belakang Aresya bahkan keluarganya.


“Menikahlah dengan cucuku, saya akan menyelamatkanya.”


Aresya terdiam, saat mendengar hal itu,  tangannya berhenti,  “Apa Nyonya menyelidikiku,” tanya Aresya dengan panik,


“Kamu tahu , saya selalu di ikkuti bahaya di mana-mana dan tidak tahu,  mana kawan mana lawanku, oleh sebab itu,  saya harus menyelidiki orang-orang yang berhubungan dengan saya, jangan kawatir, saya pandai menyimpan rahasia, adekmu bisa saya selamatkan,  saya juga memberi hadiah yang lain kalau kamu menerima tawaranku dan segala syratnya,” ucap wanita itu  bicara langsung pada intinya tidak ada kata basah –basih.


“Apa yang saya harus lakukan?” tanya Aresya dengan tatapan mata takut dan ragu.

__ADS_1


“Kamu cukup percaya dengan saya  dan dengarkan apa yang saya katakan dan kamu  boleh memilih”, ucapnya  bernada sangat tegas.


“Kamu menikah dengan cucu saya. Davino Erlangga dan lahirkan anak , saya akan mengubah duniamu…, berikan padanya!” pintahnya dengan tegas, asiten perempuan berwajah garang itu meletakkan koper  dan membuka  isinya uang lembar berwarna merah tersusun rapi bertingkat-tingkat dalam koper seakan menari-nari memanggilnya.


Itu  bahkan pertama kalinya ia melihat uang sebanyak itu seumur hidupnya, paling banyak uang ia pegan hanya gaji bulanannya sebagai buruh pabrik,  hanya sebesar tiga jutaan,  kalau ia lembur hanya  empat juta,  itu juga hanya numpang lewat saja, ia harus membagi-baginya bayar kosan, bayar uang pinjaman di bank, ia kirim kekampung dan paling sisa hanya 500rb di tanganya untuk jatah satu bulan, nunggu gajian lagi,  kalau sudah tidak cukup ia akan meminjam pada sahabatnya Marta.


Pegangan 500ribu  jaman itu, bisa apa? tak jarang ia hanya makan  mie istan dengan nasi,  bisa sampai  berminggu-minggu, terkadang kepalamnya sampai keblinger rasanya, kalau sudah merasa  muak,  ia akan mengantinya dengan lauk orek tempe membeli lima ribu di warteg, ia beli pagi dan  dibagi sampai lauk malam itulah caranya bertahan hidup di dunia ini, statusnya jadi tulang punggung.


Anak pertama dari tiga bersaudara, bahkan adek perempuanya yang paling kecil masih duduk di bangku Sekolah Menengah  Atas, ia jadi tulang punggung di keluarganya, setelah Ayahnya meninggalkan mereka, saat  masih kecil saat itu, Ibunyalah yang berjuang membesarkan mereka bertiga, kehidupan mereka semakin susah, saat ini sejak  adeknya mengalami kecelakaan parah yang membutuhkan biaya yang  besar untuk pengobatanya.


“A-a-apa ini?” tanya Aresya dengan bola mata hampir keluar,  karena pemandangan yang mengiurkan itu.


“Jika kamu setuju menikah, saya akan memberikan 2% dari  jumlah dari seluruh yang akan aku berikan padamu nantinya”


Otak Aresya berputar-putar bagai baling-baling kipas angin, walau ia bukan wanita  yang pintar  dalam hal menghitung,  karena ia hanya tamatan SMP,  tapi setidaknya ia tahu sedikit tentang mate-matika,  jika 2% saja banyaknya segini, terus totalnya 100%. Sebanyak apa? gumam Aresya hampir  meneteskan air liur di tumpukan uang satu koper itu.


“Apa yang  harus saya lakukan ?”


Asisten  wanita itu memberikan kertas yang harus ia ikuti,  pahami, harus ia baca isinya,  walau sampai membuat matanya mengantuk.


Poin pertama;


• JIka ia  bersedia menikah,  maka ia mendapat  uang dalam koper.


• JIka ia sudah ada tanda-tanda hamil,  maka akan mendapat bayaran setengah  dari kesepakatan.


• Poin ke tiga ia akan mendapat pembayaran 100%  jika ia melahirkan, intinya jika ia  bisa melahirkan anak untuk keluarga Erlangga, maka dunianya akan berubah total itu intinya  bukan hanya janji kesembuhan adeknya, ia dapat,  keluarganya juga mendapat tunjangan finansial setiap bulan, tercantum  juga dalam kertas  yang  keluarganya dapat,  setelah melahirkan sebuah; rumah, mobil,  tanah, biaya pendidikan adeknya, uang saku bulanan untuk ibunya semua itu akan ia dapatkan,  jika ia berhasil memberi keluarga Erlangga keturunan


• Point ke Empat yang paling menarik, ia  bisa memilih tetap jadi istri Davino atau ia akan  memilih berpisah, ia juga akan mendapat tunjangan yang amat besar, ia tinggal memilih tentu saja anak yang ia lahirkan hak keluarga Erlangga, ia hanya sebatas wanita yang melahirkan.


• Tentu semua itu akan  serba rahasia, ia tidak boleh memberitahukan pada siapapun baik pada keluarga Aresya dan point dst…


Itu awal Aresya  setuju menikah dengan Davino lelaki sombong dan sangat arogan, Aresya awalnya ingin  merubah hidupnya menjadi lebih baik


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2