
Davino tidak terima saat omanya memberikan istrinya pada sahabatnya.
“Oma, apa pernikahan kami, hanya sebatas untuk seorang anak?”
“Iya”
“Aku tidak perlu apa yang omah pikirkan suka atau tidak, aku adalah suaminya dan kewajipan suami menjaga istriku ”
Davino berdiri, ia sangat marah pada Marisa yang mendukung Aresya bersama lelaki lain yang bukan suaminya.
“Mau kemana?”
“Menjemput istriku”
“Istri yang mana?” tanya Ny. Marisa.
“Dua-duanya,” jawab Davino kesal.
Saat keluar dari ruangan Omahnya wajah Davino menegang, kenyataan omahnya sendiri meminta lelaki lain untuk menemani istrinya tentu melukai harga dirinya sebagai suami.
Dengan raut wajah kesal, Davino meninggalkan hotel milik keluarganya, ia melajukan mobilnya kearah bandara.
Saat tiba di Bandara Davino membeli tiket menuju Singapura, hari itu juga ia pergi bersama seorang asisten ke Negeri singa putih itu.
Tidak sampai dua jam Davino sudah tiba di sana.
Semantara di sisi lain
**
“Aresya, apa kamu mau kita ke tempat yang lain lagi? Aku yakin kamu jalan bersamaku, tidak akan menyesal karena setiap wanita yang aku ajak jalan selalu senang dan berahir di ranjangku,” ucap Devan.
Tadinya Aresya bersikap tenang dengan sikap Devan, karena ia menghargai Ny. Marisa namun, lama kelamaan sikap dan ucapan Devan mulai sombong dan sikapnya menyepelekan Aresya ia merasa kesal, ternyata tidak ada lelaki yang benar-benar baik.
“Tidak, saya tidak ingin kemana-mana lagi,” ucap Aresya mencoba menahan perasaan.
“Aku akan menunjukkan tempat yang memukau yang bisa membuat betah tidak mau pulang”
“Terimaksih Pak Devan, saya rasa hari ini sudah cukup, saya akan pulang ke hotel untuk istrirahat”
“Tapi, Ny. Marisa menyuruhku menemanimu selama liburan dan kita sudah setuju tadi, apa ada yang salah”
“Tidak ada yang salah pak Davan, saya hanya terlalu lelah, boleh kita pulang?”
“Tempat ini akan lebih indah kalau sudah malam bagaimana kalau kita bermalam di sini nanti, banyak kok yang berpasangan di sini”
“Sayangnya kita bukan pasangan, pakDevan”
__ADS_1
“Tapi bagaiamana kalau kita bersenang-senang di sini”
Aresya sudah mulai jengkel, ia tidak mendunga kalau lelaki tampan yang ia kagumi ternyata seorang manusia berengsek yang mau hanya mencari kesenangan.
“Aku hanya ingin istirahat pak”
“Kok, kamu jadi kampungan begini sih Aresya, aku memang kagu dengan kecantikanmu, aku hanya ingin meyenangkanmu, kenapa kamu malah menolaknya, hanya orang bodoh yang mau menolakku, aku yakin kamu juga menyukaiku ‘kan selama ini aku bisa melihat itu dari wajahmu, mungkin Ny. Marisa juga mengetahui maka itu ia memintaku menemanimu di sini, aku bukan tipe lelaki yang suka mengejar wanita justru wanita yang mengejarku,” ucap Davino.
Aresya sudah sangat emosi mendengar kalimat-kalimat dari mulut lelaki berwajah tampan itu, tadinya ia ingin mengangkat kursi dengan kekuatannya dan melemparkan ke kepala Devan, tetapi manahan diri.
‘Wah, aku salah menilai orang, tadinya aku pikir lelaki ini baik ternyata dia hanya sampah yang suka merendahkan wanita’
“Mungkin pak Devan salah, saya tidak menyukai bapak saya mengamumi ketampanan bapak, terus terang selama ini aku sangat kagum dan mengidolakan bapak, tetapi, saya tidak tahu kalau bapak tipe orang yang suka merendahkan orang lain”
‘Ini sangat menyebalkan, aku ingin pulang dari di sini, aku juga tidak ingin melihat lelaki ini’
Tit…
Notip ponsel milik Aresya saat ia membukanya, baru kali ini ia merasa sangat senang saat mendapat pesan dari Davino, ia merasa seperti kejatuhan rezeki.
[ Kamu di mana?] tanya Davino
Wajah Aresya lansung senang .
[Apa kamu di sini? Tolong datang jemput aku, aku di sini di Sentosa Island] balas Aresya.
[Baiklah aku datang kesana, nyalahkan gps-mu, aku akan mencari tempat kalian, apa kamu baik-baik saja?]
[Baiklah terimakasih, untuk saat ini baik-baik saja tidak tahu nanti maka itu, cepatlah datang] balas Aresya.
Apa yang terjadi sebenarnya? Tidak biasanya ia ketakutan seperti itu’ ucap Davino dalam hati
Davino menggunakan kreta cepat untuk sampai ketempat Aresya, hanya butuh sepuluh menit ia sudah tiba menyalahkan ponselnya dan akhirnya menemukan titik keberadaan Aresya.
*
“Aresya apa kamu mau bilang kalau kamu tidak menyukai aku atau orang seperti aku”
“Mungkin dua-duanya, aku tidak suka dengan lelaki yang suka merendahkan wanita, aku juga tidak suka melihat lelaki yang suka pamer”
“Jadi kamu marah padaku, aku ti-“
“Aresya!” panggil Davino tiba-tiba datang dari belakang.
“Vin?” Devan kaget karena tiba-tiba lelaki itu muncul
Padahal baru beberapa jam lalu ia menelepon, tiba-tia sudah datang dan bersama mereka,
__ADS_1
Ares bangun dengan senyum manis ia menghampiri Davino dengan berlari kecil.
“Sayang! Kamu datang?” ucap Aresya memeluk leher Davino, mendaratkan bibirnya di bibir Davino dengan mesra.
Mata Devan melotot, wajahnya terkejut , ia tidak percaya degan apa yang di lihat, bukanya hanya ia terkejut bahkan Davino merasa ingin pingsan melihat sikap aresya.
“Aresya ada apa?” tanya Davino.
“Aku pikir kamu tidak datang sayang” ucap aresya manja, Davino menelan Savilanya dengan susa payah saat Aresya bersikap manja padanya, sangat berbeda dengan kepribadianya selama ini, tidak hanya itu ia juga merangkul pinggang Davino dengan erat,
“Ada yang bisa jelaskan ada apa ini?”
“Oh, pak Devan Davino suami saya”
“HA?” wajah Devan tiba-tiba pucat bagaimana mungkin wanita yang ia rayu untuk tidur bersama ternyata istri dari sahabatnya.
“Ya dia istri saya” jawab Davino tidak punya pilihan lagi.
“Apa? bagaimana bisa? Terus kenapa nenek kamu menyuruhku menemaninya”
“Nanti saja untuk menjelaskan iya, sayang… pulang ayo, aku ingin bobo, aku juga ingin pijatan seperti yang kamu biasa lakukan, badanku pengal bangat”
‘Ha, ada apa dengan wanita ini? Kenapa ia bertingkah tidak masuk akal, kapan aku memijatnya, jangankan memijat menyentuhnya saja baru sekali aku lakukan itu di tengah hutan’ ucap Davino dalam hatinya, ia belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi, namun ia mau menuruti apa yang di katakan Aresya.
“Baiklah, ayo. Dev duluan iya kapan-kapan aku jelaskan”
Devan masih mematung melihat sikap Aresya yang tiba-tiba sangat manja pada Davino, masih jelas di ingatanya saat mereka di Surabaya, bagaimana Resya sangat membenci Davino, tetapi, kali ini Aresya bersikap seperti orang lain pada Davino.
“Baiklah,” ucap Devan masih dalam menatap bigung.
Bersambung ….
Kakak Baik mohon bantunya ya, untuk like, vote dan komentar karya ini, kasih hadiah juga agar authornya tambah semangat untuk update tiap hari
Baca juga karyaku yang lain ya.
-Aresya(TERBARU)
-Manusia Titisan Dewa(TERBARU)
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (Tamat)
-Menjadi tawanan bos Mafia (Tamat)
Bintang kecil untuk Faila (tamat)
__ADS_1