
Davino memaksa memeluktubuh Aresya, tetapi ia menolak
Aresya berusaha melepas diri dari pelukan Davino, jangan melawanku, kalau tidak aku akan melakukan hal yang lebih gila lagi di depan orang-orang ini” ucap Davino mengancamnya.
“Baik, baiklah hentikan, ayo kita cari tempat untuk bicara”
“Kamu mau?” Davino menahan tawa saat melihat lipatan di kening Aresya. Ia masih memeluk tubuh Aresya di dadanya.
“Baiklah sekarang lepaskan.”
“Kalau begitu kamu jawab pertanyaanku sekarang dengan jujur. Apa kamu tidak merindukanku?”
“Tidak sama sekali, bisa melepaskan aku, kita mengundang perhatian semua orang, tadi melempari rumah, sekarang peluk-pelukan apa kata orang nanti,” ucap Aresya.
“Oh, kamu membuatku sedih karena kamu tidak merindukanku, apa kamu baik-baik saja, bagaimana dengan anakku?”
“Tentu saja baik, sekarang lepaskan!”
“Maksudku apa kamu sudah makan?” tanya Davino menatap wajah Aresya.
“Aduh kamu membuatku sesak napas, tolong lepaskan” Aresya berusaha mendorong tubuh Davino, namun secara normal tenaga Davino sebagai lelaki kalah dengannya. Namun, kalau ia mengunakan kekuatannya ia takut Davino terlempar dan mengundang perhatian orang sekitar, kekuatanya Aresya sudah bisa bebas ia pergunakan.
“Aku bertanya apa kehamilanmu baik-baik saja?”
“Baik, sekarang lepaskanlah” bentak Aresya ia brontak, tetapi Davino menahanya dengan kuat.
“Ok, baikla berarti … itu artinya kamu masih membutuhkanku bukan? Sekarang kamu harus menemaniku makan, gara-gara kamu aku jadi lapar,” ucap Davino melepaskann tangannya.
Jika hati mengikuti kemarahan terkadang menimbulkan keputusan yang salah, jika kemarahan di ikuti, bersiaplah untuk satu masalah yang akan terjadi, ia tidak mau menambah masalah. Maka Aresya menurut apa kemauan Davino walau ia merasa marah dan kesal.
“Baiklah, sekarang lepaskan tubukku”
“Kenapa kamu tidak mengunakan kekuatan untuk melepaskanya, ha!”
“ Kamu gila ada banyak orang di sini, saat ini aku tidak bisa menngunakanya,” ucap Aresya ia mengigit lengan Davino untuk melepaskan.
“Aaa! Sakit” Davino merintih kesakitan saat Aresya mengigit lengannya.
“Kamu seperti dogy mengigit”
“Bodoh amat,” balas Aresya.
“Baiklah kamu sudah janji menemaniku makan, sekarang temani aku,” ucap Davino memaksa.
Davino memegang lengan Aresya dan ia menyeret tangan masuk ke dalam mobilnya membawanya pergi.
Dalam mobil Aresya hanya diam, jadi anak penurut kemana saja Davino membawanya. Dalam mobil ia, suasana jadi hening, mereka berdua terlihat sangat cangung satu sama lain.
__ADS_1
“Jangan diam saja, katakan sesuatu,” ujar Davino menatap keara Aresya sekilas.
“Tidak ada yang ingin aku katakan”
“Aresya aku ini baru pulang, aku pergi selama beberapa hari, apa kamu yakin tidak ada sedikitpun rindu padaku?” tanya Davino lagi.
“Kita sudah membahas tadi, apa itu sangat penting?”
“Iya, sangat penting bagiku, karena kamu istriku”
“Dengar pak Davino berhentilah membahas itu lagi, aku bosan membahas itu, itu lagi. Aku tidak pernah ada perasaan sama kamu sedikitpun, jadi tolonglah berhenti mengungkit tentang hal-hal tidak penting itu”
“Apa?” Davino memingirkan mobilnya. “Apa sebuah perasaan tidak penting bagimu?”
“Tidak, aku datang tidak membawa perasaan dan saat aku pergi nanti aku juga tidak ingin meninggalkan perasaan, kalau kamu butuh kehangatan, atau kamu ingin ada wanita menemanimu, kenapa kamu menikahi wanita yang lebih cantik”
“Apa kamu pikir aku hanya ingin sekedar tidur denganmu, Aresya?”
“Iya, aku berpikir kamu mengejarku hanya ingin mendapatkankehangatan lagi,” balas Aresya
Davino mengepal tangannya dengan kuat, ia sangat marah mendengar ungkapan Aresya yang menyebut hanya mengingkan tubuhnya, kedua rahangnya mengeras menahan kemarahan dadanya naik turun satu tangannya mencekram setir mobil.
“Serendah itu kah aku di matamu? Seumur hidup baru kali aku di rendahkan seorang wanita, hanya wanita cantik yang sombong, dengar .…” Davino mengarahkan wajah di kuping Aresya, “ Wanita seperti kamu bisa aku dapatkan sepuluh di luar sana. Jadi, berhentilah merendahkanku, Nona Aresya” ujar Davino di kuping Aresya , Davino lelak yang tidak bisa mengontrol ucapanya saatlagi marah.
Mata Davino menatap wajah Aresya dengan jarak begitu dekat, saking dekatnya Aresya bisa merasakan napas hangat menyapu sebelah bagian pipinya, tetapi ia tidak ingin terpenagaruh, matanya menatap lurus kearah depan.
“Aku tidak tahu kamu wanita keras yang seperti apa Aresya. Tetapi apa kamu tahu, ucapanmu dapat menghancurkan hati orang lain”
“Apa itu artinya kamu membalas dendam padaku. Aresya? Aku pikir kamu sudah melupakanya, ternyata kamu wanita pendendam, jadi selama ini kamu tidak pernah benar-benar memaafkanku?”
Suasana hening dalam mobil Davino menengelamkan kepalanya di setir mobil tidak berdaya, sedangkan Aresya menatap kearah luar, melalui kaca mobil, mobil Davino masih berhenti di pinggir jalan.
“Berapa lama kita akan di sini, kalau kamu tidak jadi makan aku akan pulang” ucap Aresya.
Namun, Davino masih diam, tidak menyahut.
“Baiklah, aku akan pulang karena tidak ada yang perlu kamu ka katakan lagi” Aresya membuka pintu mobil ia keluar.
Davino yang masih kesal, ia ikut keluar imenangkap tangan Aresya.
“Kamu masuk,” ucap Davino dengan nada tegas.
Aresya diam adan banyak pasang mata melihat kearah mereka berdua.
‘Ini orang apa tidak ada rasa malu apa? semua orang sudah mengenalnya, tetapi, ia seakan-akan tidak perduli.
Tidak ingin menjadi tontonan banyak orang Aresya menurut, ia tidak mau bertengkar di tengah jalan, ia masuk lagi ke dalam mobil Davino, mencoba bersikap sabar, kerena dengan ia belajar sabar maka ia akan jadi pemenang.
__ADS_1
Davino menginjak pedal gas mobilnya, mobil mewah buatan Jerman itu melaju bagaikan terbang.
Aresya sampai menutup matanya berpengan dengan kuat ia ketakutan karena ulah Davino, hingga akhirnya. Mobil berwarna hitam itu berhenti di salah satu restaurant, Aresya merasa pusing saat mobil itu berhenti, ia ingin jatuh.
“Kenapa, bukan kamu wanita yang ajaip? Masa hanya hanya kecepatan segitu saja kamu sudah teler,” desis Davino tersenyum sinis.
Ia berjalan mendahui Aresya masuk ke dalam restaurant, melihat Aresya tidak mengikutinya ia keluar, melihat Aresya menunduk ingin muntah di taman kecil di depan restaurant.
“Apa aku perlu memanggil ambulance?” tanya Davino menatap sinis kearahnya.
“Tidak perlu”
Aresya berjalan setengah semponyongan mengikuti Davino. Meja di lantai satu, Davino tahu Aresya suka melihat keramaian jalanan dari atas gedung, maka itu ia memilih di atas.
“Kamu mau makan apa?” tanya Davino melirik Aresya sekilas.
“Aku tidak makan, aku sudah makan tadi, kamu saja” jawab Aresya perhatianya sudah terahlihkan kepemandangan di depan matanya.
“Aku tidak ingin makan sendirian Aresya, ini… setidaknya kamu menikmati sesuatu” Davino menyodorkan gelas jus
Bersambung ….
KAKAK JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA.
Bantu share ya Kakak.
Fb Pribadi: Betaria sona Nainggolan
FB Menulis; Nata
Ig. Sonat.ha
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH
Baca juga karyaku yang lain
-Indentitas Tersembunyi Sang Menantu( BARU)
-Aresya
-Manusia Titisan Dewa
-Menikah Karena Wasiat( Cat story)
-Pariban jadi Rokkap
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
__ADS_1
-Menikah dengan Brondong (Tamat)
-Menjadi tawanan bos Mafia (Tama)