
“Hentikan apa yang kamu lakukan? Ini tidak manusiawi apa kalian gila?”
“Buka kedua paha anda Bu atau saya yang melakukanya?”
“Tolong hentikan, saya tidak mau,” suara piluh dan rintihan di kamar.
“Ini tidak akan sakit kalau kamu menurut apa yang saya katakan, saya melakukannya dengan cepat,” ucap lelaki berjubah putih itu pada Aresya.
Tidak ada rasa selain ketakutan benci dendam yang di rasakan Aresya, ia sangat membenci Davino suaminya, bagaimana mungkin ia membiarkan lelaki asing yang pertama menyentuh bagin mahkota berharga istrinya.
‘Kamu akan membayar penghinaan ini suatu saat Davino, aku menyumpahi kamu, demi apapun dalam hidupku aku tidak akan melupakan saat ini’ Aresya mengepal tangannya.
Bagaimana mungkin tubuh yang ia jaga sejak dari dulu, kini dijamah dan digerayangin yang bukan suaminya, ia merasa hina merasa tercela ketika dua orang laki-laki suruhan Davino menyentuhnya bagian sensitipnya.
“Aku sangat membencimu Davino Erlangga, aku sangat membencimu ucap Aresya.
Di luar sedang bulan purnama, ia yakin kalau mahluk yang mengincar dirinya sedang bergentayangan , kalau ia menggunakan kekuatan super yang ia miliki, ia yakin ai akan ditangkap, jadi ia tidak biasa melawan.
Kini ia tidak berdaya lagi ia tidak punya cukup tenaga untuk melawan , ia membiarkan tubuhnya terbuka tanpa sehelai benangpun menempel di tubuhnya, kerudung yang selalu ia gunakan menutup kepalanya, tercecer di lantai pakaian yang selalu menutup tubuhnya kini terlempar entah kemana.
Aku wanita yang hina di jamah dua orang lelaki asing, aku di sentuh dua lelaki sebelum malam pertamaku, aku di sentuh lelaki asing sebelum suamiku, aku kotor dan menjijikkan, air mata itu mengalir deras menyusuri pipinya.
“Bagaimana ini … Dia wanita tule,” ujar dokter pria itu mengeluarkan jemarinya dari bagian int Aresya.
“Ya, aku juga telah memeriksa bagian dada, semuamua asli,” ucap rekannya lagi, mereka berdua menatap tubuh polos Aresya yang terlentang.
“Ayo kita laporkan saja pada Pak Davino”
“Tapi coba pastikan sekali lagi apa dia masih perawan?”
Ia pasrah ketika tangan lelaki itu memegang dadanya, lalu kedua pahanya di buka lebar dan satu benda di masukkan kedalamnya teriakkan perih lolos dari mulut Aresya.
__ADS_1
“Ah…sakit”
“Masih,” ucap dokter, tiba-tiba seorang wanita datng lalu menggunakan saru tangan dan ikut memasukkan jari- jarinya ke daerah intinya satu lampu sorot di arahkan ke bagian tubuhnya, meneliti bagian setiap inci tubuhnya memastikan tubuhnya memang benar seorang wanita.
“Iya ampun hina sekali aku,” ucap Aresya.
“Maaf bu, kami hanya melakukan perintah Pak Davino, dia ingin memastikan kalau Ibu itu seorang wanita”
“Aku sangat membenci lelaki itu jahat itu, bagaimana mungkin ia merendahkan ciptaan Tuhan, saya ini seorang wanita asli,”
“Maaf bu tolong di pakai pakainya,” ucap Dokter merasa bersalah.
Aresyah terguncang mentalnya, ia bahkan mengepal dan menggertakkan giginya, ia membenci pakaianya, tiba-tiba ia merasa tidak pantas memakai kerudung yang biasa menutup bagian kepalanya.
Setelah dokter keluar dari kamarnya, aresya menarik napas beberapa kali untuk mengurangi kemarahannya.Disisi lain setelah melakukan tugasnya kedua dokter menemui Davino , lelaki itu menghabiskan malamnya di kraoke bersama beberapa wanita.
“Kami sudah melakukan sesuia yang bapak katakan tapi tidak ada yang salah pak, dia seorang wanita asli pak”
“Gila kalian, saya tidak mungkin salah menuduh orang, dia itu lelaki yang bertranformasi jadi prempuan”
“Tapi, bagaimana dengan foto-foto masa lalu yang aku lihat?”
“Pak, Foto bisa saja berbohong tapi pemberian Tuhan semuanya nyata, dia memiki semua yang di berikan Tuhan pada layaknya perempuan, maaf kami merasa bersalah melakukanya, wanita itu mengalami depresi saat kami melakukanya, tugas kami sudah selesai membuktikan pada bapak, kalau dia seorang wanita, sekarang tinggal tugas bapak menenangkan wanita itu, karena apa yang bapak lakukan bisa menjadikan wanita mengalami sakit hati”
Davino hanya terdiam apa yang ia pikirkan tentang Aresya salah, segala bukti yang ia lihat tidak benar, ia begitu percaya karena di Pabrik juga pernah melihat Aresya mengangkat beban yang seharusnya di angkat lelaki, karena itu juga ia meyakini kalau wanita itu memang seorang transgender belum lagi Foto yang ia berikan Kirana padanya.
‘Apa yang terjadi siapa yang benar di sini, apa Kirana yang salah, apa Dokter yang salah memeriksa?
Davino keluar dari café , rencananya gagal, tadinya setelah ia memeriksa Aresya menggunakan jasa dokter, ia akan menyerahkan pada omanya, tapi semua salah, ia tidak menduga apa yang ia pikirkna selama ini, tentang Aresya melenceng.
“Apa kalian tidak salah?” tanya Davino belum yakin dengan penjelasan kedua dokter tersebut.
__ADS_1
“Mari bapak ikut kami ke tempat saya, saya akan jelaskan semuanya, kami tadi sudah memeriksa sesuai dengan bapak perintahkan,”
Davino ikut, lalu ia mengosok-gosok keningnya yang tiba-tiba berdenyut, bagaiamana tidak, ia sudah melakukan tuduhan besar pada wanita plihan Omanya, wanita yang ia anggap lelaki transgender hanya karena foto lama Aresya yang bernampilan seperti lelaki dan karena ia memiliki tato.
“Apa aku salah?apa aku sudah melakukan kesalahan besar?”
Di depanya, ada kertas keterangan yang sangat rinci tentang identitas Aresya dalam kertas di tuliskan kalau Aresya di tuliskan ia seorang perempuan asli. Bagaimana ia menghadapi tuduhan yang salah yang ia tujukan pada Aresya?
*
Dalam kamar tidak tahu berapa kali Aresya mandi dan mengosok tubuhnya, di sentuh laki-laki yang bukan suaminya jadi satu penghinaan yang sangat menyakitkan baginya.
“Non Resya, buka pintu, Ibu mau masuk,” panggil Bu Darma dari balik pintu tidak ada sahutan dari dalam.
Sudah satu hari ia mengurung dirinya dalam kamar, tidak keluar dan tidak makan juga, tidak mau di salahkan Bu Darma mengabari Davino kalau Resya tidak mau keluar dari kamar setelah di periksa Dokter malam itu.
“Biarkan saja Bi,” ucap Davino tidak perduli.
Tapi dalam kamar Aresya berpikir panjang lagi ia sudah berjalan sejauh ini sayang rasanya ia kalau ia menyerah,demi keluarganya yang perlu ia lalukan bertahan dan menahan rasa malu yang ia dapat.
Ia keluar dari kamar berpakain seragam kerja tapi ada yang berubah, ia tidak memakai kerudung yang biasa ia pakai.
“Non…! Kamu tidak apa-apa?” tanya Bu Darma terlihat sedih.
“Tidak apa-apa Bu, aku berangkat kerja”
“Tapi Non ada yang salah kamu tidak memakai kerudung hari ini.”
“Jangan biarkan dirimu terlihat lemah di depan Tuan Davino, buktikan padanya kalau kamu baik-baik saja, bukan hanya dia tidak menyukaimu Non, tapi ada oramg yang lain yang benar-benar kamu pergi dari keluarga Erlangga, kamu harus tahu itu, Tuan Davino bukanlah musuhmu yang sebenarnya dia hanya di peralat untuk mengusirmu”
“Apa maksudnya Bu?”
__ADS_1
“Non ada orang yang benar-benar ingin kamu pergi dari keluarga ini, kamu harus kuat dan bertahan buktikan kalau kamu kuat ada Nyonya besar yang membambantumu”
Bersambung ....