
Davino masih berusaha menunjukkan perhatianya pada Aresya, ia membuktikan pada wanita hamil itu , kalau ia layak jadi seorang suami dan ayah yang baik.
“Baiklah, Oma sudah bisa pulang sekarang, selebihnya biar aku yang ngurus,” ucap Davino dengan yakin.
“Eh… apa yang kamu lakukan jangan macam-macam, Davino kita harus menjanga, bukan menyusahkanya apalagi membuatnya stres.”
“Tidak akan macam-macam Oma, aku hanya ingin dekat dengannya saja”
“Tapi, Oma masih ingin di sini, ingin bersama Aresya”
“Sudah, Oma pulang saja, biarkan suaminya yang urus dia, sekalian bawa si manusia bertato itu pulang”
Ny. Marisa menahan tawa melihat, Davino cemburu pada pengawal Aresya. Rasa cemburu itu cukup beralasan karena Aresya sangat dekat dengan Hadi atau yang akrap di panggil Adi. Lelaki bertato itu memperlakukanya Aresya seperti adeknya sendiri, keakrapan mereka berdua menjadikan Davino sering sekali merasa terbakar api cemburu.
“Davino, Adi pengawal Aresya hanya dia yang dipercaya”
“Aku tidak perduli dipercaya apa tidak, bawa saja dia gantikan dengan Hendro”
“Baiklah lakukan tugas kamu dengan baik, Omah berharap itu berhasil,” ucap Ny. Marisa tersenyum kecil melihat kerja keras cucunya untuk mendapatkan hati Aresya.
‘Kamu pantaskan memperjuangkan wanita ini Davino, aku akan mendukungmu’ Ny.Marisa berbalik badan setelah pamit pulang.
Memberi kesempatan untuk melakukan sesuatu itu akan lebih baik dari pada menekanya Davino terus-menerus, walau hati Ny. Marisa di landa was-was karena Davino memiliki sifat yang emosian jika perkataanya dibantah.
Aresya sudah merasakan semua itu, dari di maki di pukul ia sudah merasakanya . Namun seiring berjalannya waktu ia sedikit mengubah sifatnya, karena tidak semua yang ia pikirkan benar dan tidak semua yang inginkan berjalan sesuai keinginanya.
*
Setelah omanya pergi, ia memulai pekerjaanya di mulai dengan membersihkan kamar pribadinya mengantinya denga selera Aresya.
“Ini untuk apa Pak Davino?” tanya Bu Darma dengan bigung karena selama di sana Davino tidak pernah memperbolehkan orang lain masuk ke dalam kamarnya, kecuali hanya membersihkan.
“Aresya dan aku akan menempati kamar ini, Bi.”
“Apa, Non Aresya mau, Pak?”
__ADS_1
“Mau tidak mau dia harus melakukanya.”
Aresya masih terlelap dalam tidurnya, bahkan tubuhnya tidak bertukar posisi saat mengusir Davino keluar dari kamar itu.
Davino berdiri sejenak menatap kearah wajah Aresya, banyak hal yang ia pikirkan, ia takut kalau Aresya akan menolak permintaanya untuk tinggal satu kamar denganya.
“Tapi, aku harus melakukanya” Davino menundukkan punggungnya, tangannya terlulut kebawa tubuh Aresya, dengan gerakan perlahan ia mengangkatnya, Davino tersenyum kecil penuh kemenangan, karena satu pekerjaanya berhasil melakukan tugasnya.
Karena saat ia mengangakt tubuh Aresya mungkin karena ia terlalu capek atau memang karena gerakan tangan Davino yang terlalu pelan, ia tidak merasakanya. Aresya tidak terbangun masih tetap tidur cantik walau tubuhnya sudah digendong Davino.
‘Kenapa tubuhmu ringan apa kamu tidak makan? Bagaimana anakku mau sehat, kalau kamu tidak makan’ ucap Davino dalam hati, ia mulai bersifat ingin mengusai Aresya.
Saat tubuhnya di letakkan di atas ranjang, matanya akhirnya terbuka, perlahan lalu terbuka lebar menatap Davino tanpa suara, mata itu memerah.
“Kamu mau ngapain?” tanya Aresya dengan suara lemah, matanya masih ingin tidur, ia menatap Davino dengan tatapan mata kecil.
“Tidurlah lagi aku tidak ngapa-ngapain kamu.”
Mata itu perlahan terbuka dan mengerjap-ngerjap dan terbuka sempurna, ia melihat sekeliling terasa asing.
“Ini kamar kita”
Mata Aresya masih terlihat bigung, karena ia tidak pernah sekalipun masuk kamar Davino, ia tidak tahu seperti apa di dalamnya. Kamar itu sangat luas, jauh lebih besar dari kamar yang ditempati Aresya.
Belakangan ini Davino sudah berubah, ia tidak pernah memakai alat- alat peyiksaan itu dalam kamarnya, ia sudah meminta asisten rumah tangga membuang semua cambuk dan alat-alat lainnya, sejak ia melakukannya dengan Aresya semua gaya ranjang aneh Davino sudah ia ubah.
“Aku tidak mau, aku mau tidur di kamarku yang biasa aku tempati,’ ucap Aresya ia menolak.
“Tidak semua yang kamu inginkan harus di turuti Aresya, aku hanya ingin memastikan anakku baik-baik saja, tidak ada maksud apa-apa dalam surat yang kamu tandatangani ini, di sini tertulis selama hamil kamu dalam pengawasan kelua Erlangga itu artinya kamu harus menurututi apa yang aku katakan, demi kesalamatan dia” ucap Davino memegang kertas perjanjian itu.
Aresya tidak bisa mengelak lagi, ia menuruti apa yang di katakan Davino, karena Davino bilang demi kebaikan Aresya dan bayinya.
“Terus, sekarang kamu mau, apa?”
“Mau mandi dulu dan kita makan bersama dan kita tidur bersama juga”
__ADS_1
“Ha, aku biasa tidur sendiri”
“Tidak ada penolakan Aresya, mulai sekarang kamu harus mendengar apa yang aku katakan” Davino membuka lemari memilih beberapa baju yang akan di pakai Aresya.
“Kamu tidak ada pakaian ganti di sini, kamu pulang saja ke Jakarta, aku bisa menjaga diri,” ucap Aresya melihat kearah Davino yang masih berdiri de depan lemari.
“Kata siapa untukku, ini untukmu, aku sengaja memilih pakian yang longgar nyaman untuk kamu pakai.” Davino memberikan sepasang baju tidur untuk Aresya.
“Lah, kapan bajuku pindah kemari, apa barang-barangku juga dibawa kesini?”
“Itu, tidak penting Aresya, ayo” Davino mengajaknya mandi.
“Aku tidak mau mandi, ini sudah malam”
“Aresya, aku tidak kamu tidur satu ranjang dengan orang yang bau badan,” ucap Davino.
Mata Ares menatap dengan sinis. “Maka itu aku bilang, jangan satu kamar denganku, apa lagi satu ranjang, aku juga tidak suka tidur dengan kamu,” Aresya bangun, ia ingin keluar dari kamar Davino.
“Kamu akan mendapat denda setiap kali kamu melanggar perintah saya, itu tertulis dalam surat kesepakatan ini,” ujar Davino menunjuk kertas itu lagi.
Ia tahu Aresya melakukan semua ini karena uang, maka ia juga harus menekannya dengan pemotongan uang juga.
“Tidak ada tertulis yang seperti itu di sana”
“Aku sudah menambahkannya poin itu, karena itu jangan membantah, kamu ikuti aturanku dan aku juga akan mengikuti kemauanmu, kamu ingin uang banyak’ kan? Maka, ayo kerja sama,” ucap Davino menarik tangannya dengan pelan membawanya ke kamar mandi.
“Aku bisa mandi sendiri, tidak usah mengajariku cara mandi.”
“Tidak ini demi anakku, kalau kamu tidak mandi bersi dan tubuhmu tidak steril nanti anakku sakit karena tubuh yang jadi rumahnya kotor, bagaimana”
“Ckkk …” Aresya berdecak kesal melihat Davino yang memaksa semua kehendaknya.
“Ayo sini, biarkan aku membantu mandi, tenang aku mengunakan air hangat jangan takut kedinginan,” ucap Davino, ia tahu kalau Aresya tidak bisa mandi air dingin, ia masih ingat saat di Singapura dulu, ia hampir sakit karena mandi air dingin.
‘Hadeh ini orang kenapa menyusahkan bangat sih’ ucap Aresya memilih menurut walau ia tidak menyukainya, ia berpikir kalau Davino suaminya tdak ada salahnya mandi bersama, yang salah hatinya, ia belum bisa menerima lelaki itu sebagai suami.
__ADS_1